Latest Post

Remaja Indonesia Lebih Toleran

Written By Jattman Tampese on 27.5.11 | 27.5.11

Jakarta (ANTARA News) - Di tengah mengemukanya keprihatinan akan pudarnya nilai-nilai Pancasila di Indonesia, sebuah hasil studi lembaga riset pasar global, TNS, membawa kabar yang menyejukan. Ternyata remaja Indonesia lebih toleran dalam beragama ketimbang remaja lain di kawasan Asia Pasifik.

Dalam riset yang mempelajari pengaruh Internet terhadap perilaku remaja di Asia Pasifik, TNS menemukan bahwa 58 persen remaja Indonesia mengaku memiliki teman dekat dari agama yang berbeda sementara di kawasan Asia Pasifik hanya 32 persen remaja yang berkawan dengan rekan berlainan keyakinan.

Namun toleran tidak berarti agama adalah hal yang dikesampingan dalam keseharian mereka. Dalam riset yang sama TNS juga menemukan bahwa 95 persen remaja Indonesia masih menganggap agama sebagai aspek terpenting dalam hidup.

"Agama memiliki peran sangat penting bagi remaja Indonesia, tetapi pada saat yang sama mereka lebih terbuka menerima perbedaan dibandingkan rekan seumuran mereka di negara-negara Asia Pasifik lainnya," kata Riko Rahman, TNS Indonesia’s Youth Champion.

Selain toleransi, remaja Indonesia pun memandang pentingnya pendidikan untuk membangun masa depan yang cerah. Sayangnya sekira 30 persen dari remaja Indonesia mengatakan tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi selepas tamat dari sekolah menengah karena kekurangan biaya.

Menanggapi kenyataan itu Irene Ariyani, Senior Client Advisor di TNS Indonesia, menganjurkan perbankan untuk menyediakan fasilitas pinjaman untuk pendidikan.

"Pinjaman untuk pendidikan penting untuk menciptakan pendidikan tinggi yang terjangkau sehingga remaja Indonesia bisa merealisasikan potensi mereka," ujar Irene.
Editor: Suryanto

STRUKTUR DPD 2010-2015

SUSUNAN PENGURUS 
DEWAN PENGURUS DAERAH PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KABUPATEN DONGGALA
PERIODE 2010 - 2015 


Ketua Umum
(Takwin, S.Sos.I)


(Sekertaris Umum)
(Abd. Rasyid, A.Md)


 

Bendahara Umum
(Jattman Tampese)

Kaderisasi
(Nasrah Amirudin)
"TERUSLAH BEKERJA UNTUK INDONESIA"

Struktur DPD PKS Kab. Donggala (2005-2010)

Written By Jattman Tampese on 25.5.11 | 25.5.11

STRUKTUR DPD PKS 
KABUPATEN DONGGALA
2005 - 2010



 




  

Video Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah

Written By Jattman Tampese on 24.5.11 | 24.5.11


Ustz Yoyoh Yusroh

Indonesia telah kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Yoyoh Yusroh, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Empat hari sebelumnya, almarhumah yang juga merupakan fungsionaris DPP PKS ini sempat melakukan rekaman untuk salah satu kegiatan yang diadakan oleh PKS. Potongan dari rekaman tersebut telah diupload ke youtube dengan judul “Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah”. Redaksi dakwatuna.com mencoba menuangkan nasihat almarhumah dalam bentuk tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.

***Ikhwan dan akhwat fillah, Alhamdulillah kita sebagai kader yang sudah berada dalam jalan dakwah ini dengan susah senangnya – saya yakin senangnya lebih banyak ya – susahnya ada, tapi kita berupaya untuk mengatasinya, karena semua yang kita lakukan dalam jalan dakwah “argo”nya tetap jalan, kita mendapatkan ridha Allah baik senang ataupun susah.

Dan kita berupaya untuk selalu mengajak orang lain ke dalam jalan dakwah ini dengan selalu mempertimbangkan sunnatullah. (Misalnya) bagaimana kita menghargai. Sunnatullah itu ‘kan (contohnya) semua manusia ada yang memiliki senioritas, ya kita hargai yang tua, kita sayangi yang muda, kita hargai yang kaya, kita sayangi yang miskin. Kita tempatkan orang sesuai dengan posisinya di masyarakat.

Kemudian kita berupaya untuk selalu menjaga intergritas pribadi kita sebagai seorang muslim, dengan misalnya kalau janji dengan orang lain kita tepati, kalau kita mendapatkan sesuatu dari orang lain kita berupaya untuk membalasnya.

Kemudian kita juga berupaya untuk – di manapun kita berada – kita adalah “on mission”. Karena kita yakin “if we are realize that we are on mission, we must keep the mission on”. Jadi kita selalu berupaya untuk menjaga misi ini jangan sampai misi kita off, tapi misi kita selalu on. Kita berada di manapun, di pemerintahan, sebagai legislatif, sebagai eksekutif, sebagai profesional, sebagai apa pun kita adalah on mission untuk menyampaikan risalah dakwah ini dan dakwah kita semakin banyak diminati oleh orang lain dan kerja kita semakin ringan tentunya dengan banyaknya pendukung-pendukung dakwah ini. Dan Insya Allah diri kita akan bertemu di Syurga.***

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


 Kalau Download Video disini : TaujihTerakhir Almarhumah Ustdz. Yoyoh Yusroh
*Nonton videonya lihat disumbernya : http://www.dakwatuna.com

Biarkan Kami Mencemburuimu

Written By Jattman Tampese on 22.5.11 | 22.5.11



(ode bagi bunda kami, yoyoh yusroh)
izinkan kami terus berjalan, bunda
jangan khawatirkan langkah kami
sebab kami telah mengerti arah jalan yang kau retaskan untuk kami
di situlah kami selalu berjalan ke depan
dan tak akan pernah berhenti menapaki
* * *
tenanglah kini engkau meniti surgaNya, bunda
karena kami yakin dengan apa yang dijanjikanNya
langkahmu itu, tegarmu itu, kokohmu itu
tak ada yang bisa mengalahkanmu
tak ada yang sanggup menghentikanmu
semua kami cemburu
* * *
bergembiralah engkau di sisiNya, bunda
karena hanya itulah tempat yang bisa mengistirahatkanmu
kau telah habiskan waktu dan tenagamu dengan pengabdian
dengan pengorbanan, dengan perjuangan
habis, tanpa sisa, dunia telah engkau hadapi
kini saatnya istirah abadi
* * *
kami akan selalu mengenangmu, bunda
di sini, di dada ini, di langkah ini, di jalan ini
engkau tidak menulis buku-buku, karena engkau sibuk mencetak prestasi
engkau sibuk menyiapkan generasi
engkau sibuk menuliskan goresan kebaikan di setiap kesempatan
itulah yang akan selalu kami kenangkan
* * *
maka izinkan kami terus berjalan, bunda
sungguh, jangan khawatirkan langkah kami
sebab kami telah mengerti arah jalan yang kau retaskan untuk kami
di situlah kami selalu berjaga dengan sepenuh kesadaran dan kecintaan
dan kami tak akan pernah berhenti menapaki jalan ini
* * *
terang benderang jalanmu ini, bunda
jalan yang menghantarkanmu ke haribanNya
jalan yang menghantarkanmu mendapatkan surgaNya
jalan kenabian yang selalu mengajarkan kesetiaan
tak akan kami mengkhianatinya
* * *
tunggu kami di taman-taman keindahan itu, bunda
sebab kami hanya menanti janji
saatnya pasti kami tepati, menemanimu bercengkerama
di taman-taman indah itu
kini, biarkan kami mencemburuimu

Kota Palu, 21 Mei 2011

Selamat Jalan Ustadzah "YOYOH YUSROH"

Written By Jattman Tampese on 21.5.11 | 21.5.11

Jakarta - Anggota Komisi I DPR Yoyoh Yusroh meninggal dunia karena kecelakaan di Cirebon, Jawa Barat. Rencananya, politisi PKS tersebut akan dimakamkan di kampung halamannya di Tangerang.

Hal ini disampaikan oleh asisten pribadi Yoyoh, Evi. Menurut dia, Tangerang adalah daerah asal ibunda Yoyoh.

"Di daerah kecamatan Benda, Tangerang. Dekat masjid Al-Munawaroh," ujar Evi kepada detikcom, Sabtu (21/5/2011).

Evi belum mengetahui kronologi kecelakaan yang dialami oleh ibu dari 13 anak tersebut. Saat ini, Evi sedang dalam perjalanan menuju Cirebon.

"Saya masih harus ke sana sekarang," ucapnya.

Yoyoh Yusroh meninggal karena kecelakaan di Cirebon, Jawa Barat. Innalillahi. Jenazah kini disemayamkan di rumah sakit Mitra Keluarga Plumbon Cirebon.

Kabar duka ini diterima para pejabat PKS pukul 03.30 WIB dinihari. Menurut politisi PKS Mabruri, saat itu Yoyoh sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta setelah menghadiri acara wisuda anaknya di UGM.

Di dalam mobil, terdapat suami dan anak-anak Yoyoh. Namun, kondisi mereka saat ini masih mendapat perawatan.

Yoyoh adalah salah seorang tokoh pendiri PKS. Wanita yang biasa disapa ustadzah Yoyoh ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja.

Ibu dari 13 orang anak ini lahir di Tangerang, 14 November 1962. Dia menjadi anggota DPR sejak tahun 1999 dan sudah menempati sejumlah komisi.

Yoyoh juga kini aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI Tahun 2005-2010, bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia

Sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001.

Selamat jalan Ustadzah...

*)Sumber : detikNews.com

AKTIFIS YANG SIAP JADI QIYADAH ATAU JUNDI


”Banyak orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad.Perseteruan al haq dengan al bathil, seperti sabda Rasulullah akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Front (medan) pertarungan itu mencakup seluruh isi kehidupan. Dan perseteruan itu juga terjadi pada pendukung al haq dan al bathil. Budaya permissive dengan segala turunannya ( laki-laki beranting, wanita ber-rok mini, makan minum berdiri dll ) dilawan dengan budaya sunnah ( lelaki berjanggut dan para perempuan menggunakan jilbab ), system ekonomi ribawi versus system ekonomi tanpa riba (bagi hasil). Pendeknya, seperti kata as syahid sayyid qutb dalam ma’alim fi at thariq, “tak akan ada persentuhan (perdamaian) antara al haq dan al bathil pada satu  titik pun”.

Dan karakteristik pertarungan antara al haq dan al bathil, meminjam istilah ilmuwan social, seperti dua kelompok yang sedang memainkan permainan tarik tambang. Kendor sedikit, kerugian yang dialami salah satu pemain tak bisa dibayangkan. Karena itu, tidak hanya amal yang mesti dipersiapkan oleh para aktivis. Namun juga konsistensi dan komitmen untuk beramal terus menerus dengan kualitas yang tinggi.

Inilah yang diminta imam syahid hasan al banna tatkala ia berkata,”banyak orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad. Artinya, yang diminta dari kita tak sekedar amal ( QS.At Taubah : 105 ) tapi juga konsistensi dan kualitas amal. Seperti dalam Al qur’an surat al-anfaal ayat ke-60, yang mampu menggetarkan semua musuh2 Allah.

Untuk itu, seorang aktivispun tak boleh lengah dalam permainan tarik tambang tadi. Kelemahan pada aktivitas bisa menular pada yang lain. Disinilah pentingnya seorang pemimpin. Agar kordinasi dan komando dapat berlangsung efektif. Dan tiap aktivis harus selalu siap menjadi satu diantara dua : menjadi qiyadah atau jundiyah.

Kadang kesiapan menjadi qiyadah lebih mudah dilaksanakan. Namun menyiapkan diri untuk tho’at, disiplin dan siap diperintah (menjadi jundi) terkadang jauh lebih sulit. Kita lebih ingin mengatur ketimbang diatur. Padahal menjadi jundi yang baik sama besar perannya dan kontribusinya dengan menjadi pemimpin yang baik.

Kepemimpinan dan keprajuritan dalam permainan tarik tambang tadi sangatlah menentukan. Dengan kordinasi inilah bisa dilakukan pembagian tugas yang adil dan mempertimbangkan berbagai kondisi yang melingkupi semua peserta. Jika yang satu lelah akan diketahui dan digantkan perannya oleh yang lain sesegara mungkin. Karena keterlambatan dalam mengambil sikap dan keputusan dalam permainan tarik tambang bisa berakibat bobolnya pertahanan tim secara keseluruhan.

Permainan tarik tambang ini, suatu saat pasti akan dimenangkan para prajurit Allah, sebagaimana janji Allah:” dan prajurit Allah-lah yang akan menang .. ( QS. Al Maidah : 56 ). Tinggal masalahnya sekarang adalah, sudahkah karakteristik jundullah sudah ada dalam diri kita ?.
WaAllahu ‘Alam

*)Sumber : Klik disini

PRO-KONTRA PEMINDAHAN PASAR INPRES DONGGALA

Written By Jattman Tampese on 19.5.11 | 19.5.11

MENANTI JAWABAN
PRO-KONTRA PEMINDAHAN PASAR INPRES DONGGALA
by. Abd. Rasyid, A.Md
Adipura Donggala ???
Riuh pikuk aktivitas jual-beli di pasar Inpres Donggala seolah menggambarkan geliat ekonomi yang menjanjikan, namun jika ditelusuri secara lebih detil maka akan tampak sejumlah problem dan gerut wajah dari para pedagang yang cenderung mengeluhkan lesunya daya beli masyarakat Kota Donggala. Dalam seminggu Pasar Ipnres Kota Donggala tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional di desa-desa pelosok, yaitu keramaian jual-beli hanya pada hari senin dan Jum’at saja. Hal ini berarti bahwa geliat ekonomi dan perputaran modal belum menjanjikan dan sangat jauh dari harapan.

Jika melihat kondisi Ril tersebut, maka dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Donggala untuk memindahkan Pasar Inpres Donggala ke Kelurahan Ganti patut dicermati secara serius, setidaknya melalui pertimbangan yaitu :

Pertama asumsi Pemda (yang berarti telah melalui berbagai macam analisis untung-rugi, potensi-hambatan, dsb) bahwa pemindahan pasar adalah solusi praktis dan berjangka panjang bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Kedua pemindahan pasar guna meningkatkan keindahan Kota Donggala dan menghindari kesemerawutan akibat letak Pasar yang berada persis di jantung Kota Donggala.

Jika demikian pertimbangan sederhana yang diambil, maka selanjutnya akan muncul pertanyaan lanjutan, yaitu :

Pertama mengapa Pemda tidak lebih dahulu memberikan solusi yang berdampak ekonomi secara langsung, seperti memprioritaskan pembeli-potensial (PNS Donggala yang dominan bermukim dipalu) terlebih dahulu harus bermukim di Donggala, dibandingkan memindahkan pasar?

Kedua, Jika pemindahan pasar adalah untuk kemaslahatan masyarakat umum, maka terlebih dahulu harus diperjelas urgensi pemindahan pasar secara ekonomis terkhusus bagi pelaku pasar (yakni pedagang, pembeli, tukang becak, ojek dll), apakah benar jika pasar dipindahkan maka secara otomatis daya beli akan meningkat? Sudahkan dikaji lebih dalam bahwa sesuatu yang berpindah tempat pasti membutuhkan waktu yang lama untuk kondisi yang stabil, bagaimanakah dengan nasib para pedagang yang mayoritas bermodalkan pinjaman di Bank atau ditempat lain?

Inilah kiranya yang patut untuk segera disikapi dengan bijak dan penuh tanggung jawab, sehingga jangan sampai roda pembangunan yang nampak secara fisik lebih diperioritaskan dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat pasar, dan jangan sampai hanya demi sebuah penghargaan Adipura rakyat jelata diajak untuk berpura-pura.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan di dalam aktivitas pasar, yaitu :

Pertama pihak DPRD mendesak agar perencanaan pemindahan harus ditinjau ulang, dan melakukan investigasi baik dalam hal penggunaan anggaran pembangunan maupun kebijakan Pemda yang terkesan “memaksakan” pemindahan tersebut. Karena jangan sampai ada dugaan penyahlgunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu terhadap kebijakan pemindahan pasar yang terkesan tidak siap (baik fisik bangunan maupun fasilitas penunjang keberadaan sebuah pasar).  

Kedua pelaku pasar (terkhusus pedagang) secara pro aktif dengan prinsip kemaslahatan bersama secara sukarela dan bahu membahu melakukan monitoring ketat terhadap semua aspek formal-konstitusional, sehingga mereka memahami posisi dan hak-haknya. Sehingga hal-hal yang dapat memperkeruh suasana dapat terhindari.

Inilah sekelumit pro kontra pemindahan pasar Inpres Donggala, yang senantiasa menjadi irama di sela-sela hiruk pikuk para pedagang pasar, tidak sedikit orang yang banyak berharap terhadap aktivitas pasar yang kondusif, kondisi pasar yang nyaman dan aman. Namun dibalik itu semua selalu ada saja riak-riak yang menjadi batu sandung dari pencapaian itu.     
            
             

PKS Sulawesi Akan Perkuat Konsolidasi


INILAH.COM, Makassar - Untuk memperkuat konsolidasi antar kader, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Sulawesi, mengelar diklat kepemimpinan untuk seluruh Wilayah Dakwa Sulawesi (WIDASI).

Menurut Andi Akmal Pasluddin, ketua DPW PKS Sulsel, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesolidan PKS se Sulawesi untuk tetap bekerja di tengah masyarakat. Sehingga setelah kegiatan tersebut diharapkan supaya PKS se-Sulawesi lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat di semua daerah.

"Kita mengharapkan setelah diklat kepemimpinan ini, semua DPW se-Sulawesi akan lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, baik itu bidang sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan semua aspek," Ujar Andi Akmal, di Makassar, Rabu (18/5/2011).

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di Hotel Sahid mulai tanggal 20 - 22 Mei 2011 mendatang. Andi mengatakan Diklat ini rencananya akan dibuka oleh presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaq. “Insya Allah presiden partai akan membuka acara itu, dan akan ditutup oleh sekjend, Anis Matta, Lc," ucapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pelatihan akan diikuti oleh enam DPW di Sulawesi, diantaranya, Sulsel, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara. Keenam DPW itu mengutus ketua DPW, Sekretaris, Bendahara dan semua ketua bidang. [bay]

*)Sumber : inilah.com

PKS Sulawesi Akan Perkuat Konsolidasi


INILAH.COM, Makassar - Untuk memperkuat konsolidasi antar kader, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se-Sulawesi, mengelar diklat kepemimpinan untuk seluruh Wilayah Dakwa Sulawesi (WIDASI).

Menurut Andi Akmal Pasluddin, ketua DPW PKS Sulsel, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesolidan PKS se Sulawesi untuk tetap bekerja di tengah masyarakat. Sehingga setelah kegiatan tersebut diharapkan supaya PKS se-Sulawesi lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat di semua daerah.

"Kita mengharapkan setelah diklat kepemimpinan ini, semua DPW se-Sulawesi akan lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, baik itu bidang sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan semua aspek," Ujar Andi Akmal, di Makassar, Rabu (18/5/2011).

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di Hotel Sahid mulai tanggal 20 - 22 Mei 2011 mendatang. Andi mengatakan Diklat ini rencananya akan dibuka oleh presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaq. “Insya Allah presiden partai akan membuka acara itu, dan akan ditutup oleh sekjend, Anis Matta, Lc," ucapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pelatihan akan diikuti oleh enam DPW di Sulawesi, diantaranya, Sulsel, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Tenggara. Keenam DPW itu mengutus ketua DPW, Sekretaris, Bendahara dan semua ketua bidang. [bay]

*)Sumber : inilah.com

Pakar Politik islam Saudi dukung Pemilu

Written By Jattman Tampese on 18.5.11 | 18.5.11

Umum diketahui, bahwa selama ini banyak pihak di Arab Saudi yang sangat alergi dengan masalah pemilu, khususnya dalam pandangan syar'i. Biasanya proses pemilu ini mereka kaitkan dengan sistem demokrasi yang dianggap sebagai sistem kafir. Namun belakangan suara-suara tersebut kian lemah, karena ternyata para ulama yang disegani di Negara ini tidak melihat pemilu sebagai masalah hitam putih; halal atau haram. Mereka umumnya melihat dari sisi kemaslahatan umat. Apalagi setelah pemerintahnya sendiri mengadakan pemilu untuk menyerap aspirasi rakyat.

Perkara ini mencuat kembali akhir-akhir ini menjelang pemilu lokal kedua yang akan diadakan pemerintah Arab Saudi pada September mendatang tahun ini. Ditengah-tengah upaya gencar pemerintah agar masyarakat berpartisipasi aktif ikut dalam kegiatan politik ini, muncul kembali polemik tentang syar'iyyatul intikhabat (legalitas syariat pemilu) dengan asumsi dan pandangan negatif.
Namun hal ini dibantah oleh seorang pakar politik Islam Arab Saudi yang juga dosen pasca sarjana ilmu kehakiman, DR. Saad bin Mathar Al-Otaibi. Dia berkata, "Saya tidak mengetahui ada seorang ulama kita yang diakui mengingkari partisipasi dalam pemilu yang diselenggarakan pemerintah." Dia juga menambahkan, "Pemilu merupakan salah satu bentuk metode memilih orang yang paling layak menduduki kepemimpinan. Dia merupakan sarana syar'i yang memiliki landasan dalam sunnah nabi dan dipraktekkan para shahabat radhiallahu anhum, dan pemilu lokal ini adalah salah satu wujudnya di zaman moderen sekarang. Pemerintah dan para ulama telah menyetujuinya. Tidak saya ketahui ada seorang pun ulama yang diakui di Negara kita yang mengingkarinya."
Al-Otaibi juga berkata, "Terdapat fatwa para ulama yang mendorong warga untuk berpartisipasi dalam pemilu lokal pertama dahulu. Hal itu sangat jelas. Karena ini merupakan salah satu sarana untuk memilih pemimpin yang kredibel dan yang paling layak."
Karena itu, Al-Otaibi menyerukan seluruh warga untuk segera mendaftarkan dirinya sebagai pemilih, karena hal tersebut memiliki kemaslahatan syar'i dan merupakan sikap tanggung jawab.
Terkait dengan calon terpilih dalam pemilu ini, Al-Otaibi berkata, "Wajib bagi mereka mendahulukan kemaslahatan syar'i bagi masyarakat dibanding kemaslahatan yang bersifat cabang." Dia tegaskan bahwa negeri ini adalah negeri Islam, UUD nya adalah Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman peraturan Negara dan tindak tanduk masyarakat.
(Sabq)
*)Sumber : Islammedia


KISAH SITI, DINA DAN UMI

Sebagian di antara kita ditakdirkan menjadi senior, sebagian yang lainnya menjadi yunior. Semata-mata karena sebagian telah lebih dahulu melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi, sedangkan sebagian yang lainnya baru bergabung belakangan. Maka menjadi senior harus sangat berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, karena semua akan menjadi acuan generasi muda. Diamnya para senior saja memiliki arti, apalagi kemarahannya.


Sebaliknya, sebagai yunior hendaknya banyak belajar dan menimba pengalaman dari generasi terdahulu. Jika ada perkataan, perbuatan dan tingkah laku generasi terdahulu yang tidak menetapi standar kebaikan, hendaknya anda tidak menjadikannya sebagai patokan. Anda berkewajiban untuk memberikan masukan, pengingatan, tausiyah dan kritik konstruktif dengan cara yang tepat dan tetap menghormati pihak yang lebih tua. Karena Siti merasa tidak mampu memberikan masukan dan pengingatan secara langsung, maka ia sampaikan itu kepada Dina agar bisa meneruskan kepada Umi. Ini contoh kebijakan dalam menyampaikan masukan dan saran. Bukan mendiamkan, namun menyalurkan melalui saluran yang tepat.


Ikuti kisahnya............

Oleh : Cahyadi Takariawan

Seorang wanita muslimah menceritakan kesedihan hatinya karena dimarah-marahi oleh seniornya di organisasi dakwah. Wanita muslimah ini, sebut saja namanya Siti, dan seniornya itu juga seorang muslimah, sebut saja namanya Umi. Siti merasa sangat sedih dan kecewa, karena ia merasa telah melaksanakan dengan serius tugas-tugas kepanitiaan dalam sebuah acara dakwah yang digelar organisasi, namun justru mendapat kritik dan kemarahan Umi, seniornya.

Berbagai kekurangan dan kelemahan kepanitiaan, semua ditumpahkan dalam bentuk kemarahan oleh Umi kepada Siti. Tentu saja Siti mengetahui bahwa panitia memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, namun seakan-akan kerja keras dan usaha maksimal yang sudah dilaksanakan Siti bersama panitia yang lainnya tidak terlihat sama sekali di mata Umi. Yang tampak di mata Umi adalah adanya banyak kekurangan dan hal-hal tidak ideal yang ditampakkan oleh panitia.





Sebagai yunior, Siti tidak berani protes atas kemarahan Umi. Ia diam saja menerima kemarahan itu, dan menyimpan kepedihan yang mendalam dalam hatinya. Awalnya Siti bermaksud menyimpannya sendiri, namun lama kelamaan ia merasa tidak tahan. Akhirnya ia mulai membuka pembicaraan dengan seorang teman sesama panitia kegiatan tentang apa yang dialaminya. Betapa terkejut Siti, ternyata temannya itu juga mendapat kemarahan yang sama dari Umi. Bahkan akhirnya diketahui, bahwa Umi memarahi banyak panitia kegiatan. Tentu saja yang dimarahi itu semuanya merasa sakit hati.



Karena merasa tidak terima dimarahi, beberapa personil panitia curhat kepada seorang senior organisasi. Sebut saja namanya Dina. Siti bersama beberapa rekannya curhat kepada Dina tentang perlakuan Umi, dan mereka berharap Dina bisa menasihati Umi agar bersikap lebih sabar dan “ngemong” para yunior yang tengah belajar menjadi panitia kegiatan. Mereka toh sudah bekerja serius dan bersungguh-sungguh, bahwa masih dijumpai kekurangan itu sesuatu yang sangat manusiawi.

Dina merasa bingung. Satu sisi ia mengerti kegelisahan adik-adik yunior tersebut, namun sisi yang lain ia merasa kurang bisa membahasakan keinginan itu kepada Umi, rekan sejawatnya. Bagaimana Dina harus berbicara kepada Umi, sedangkan Umi sendiri secara terang-terangan bercerita dengan bangga, bahwa ia telah memarahi adik-adik panitia karena masih banyak kekurangan yang dijumpainya. Umi merasa perbuatannya itu benar, karena ia melihat sendiri kekurangan panitia kegiatan dan ia merasa wajib mengingatkan agar tidak berkelanjutan atau berulang.



Saya ajak anda menjadi Siti, dan saya ajak pula anda menjadi Umi. Menjadi Siti dulu saja ya…. Tempatkan diri anda sebagai Siti. Sebagai yunior, anda telah merasa “hebat” karena terlibat dalam kepanitiaan kegiatan dakwah yang termasuk kegiatan besar. Ingat, kepanitiaan itu tidak ada imbalan materi sama sekali, tidak digaji. Kepanitiaan itu adalah kerja sosial, kerja dakwah, kerja yang berharap pahala Allah semata-mata. Anda masih kuliah, dan tentu mengorbankan banyak waktu untuk melekasanakan amanah kepanitiaan. Waktu yang semestinya anda alokasikan untuk belajar, ke kampus, ke perpustakaan atau mengerjakan tugas di kamar kost, anda gunakan sepenuhnya untuk melaksanakan amanah kepanitiaan.



Ini pengalaman luar biasa bagi anda, karena bisa menjadi panitia kegiatan dakwah tingkat nasional. Anda bekerja habis-habisan, demi suksesnya acara. Berbulan-bulan lamanya menyiapkan kegiatan, dari rapat ke rapat, dari koordinasi ke aksi, dari pagi hingga sering pulang bermalam hari. Membagi tugas, mengatur strategi, menyusun rencana, membuat anggaran, sampai melaksanakan semua hal-hal teknis. Lelah sekali, namun anda nikmati. Hingga akhirnya jadwal kegiatan itu tiba. Semua telah bekerja dan menunaikan amanah sesuai rencana.

Di tengah-tengah kesibukan yang sangat padat, di tengah kelelahan yang mendera karena standby bekerja sebagai panitia berhari-hari lamanya, tiba-tiba seorang senior bernama Umi datang ke ruang sekretariat dan tanpa bertanya ini dan itu, tiba-tiba langsung keluar kata-kata kritik pedas dan menumpahkan kemarahan kepada anda. Umi menganggap panitia tidak becus mengelola kegiatan, banyak sekali kekurangan yang tampak di hadapan mata sehingga Umi merasa malu melihat kekurangan itu.



Sedih bukan main rasa hati anda. Sebagai yunior anda akan sangat senang dan bangga apabila Umi datang ke sekretariat untuk mengucapkan selamat atas kerja yang anda lakukan, walaupun hasilnya masih terdapat kekurangan. Namun Umi sama sekali tidak menyebut kebaikan dan apresiasi atas kerja keras panitia sama sekali. Yang diungkapkan hanya kekesalan dan kritik pedas kepada panitia yang dianggap tidak bisa bekerja sama. Sangat manusiawi jika anda merasa sedih, bahkan perasaan anda menjadi “down”, jatuh, karena tidak menyangka akan mendapatkan apresiasi sedemikian “nylekit” dari seorang senior.

Namun jangan terlalu sentimentil dan larut dalam kesedihan. Karena ada kalanya anak muda harus “ngemong” yang lebih tua, walaupun seharusnya seniorlah yang “ngemong” adik-adik yunior. Kelebihan Umi ada pada posisi senior, sehingga merasa memiliki saham sejarah atas segala sesuatu yang ada di organisasinya. Maka anda posisikan diri menghormati orang tua, menerima kritik dan kemarahannya, serta menjadikan itu sebagai masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Jangan menjadi kecewa dan bahkan putus asa, yang menyebabkan anda tidak mau lagi terlibat menjadi panitia kegiatan selanjutnya, atau tidak mau menjadi anggota organisasi dakwah, atau bahkan tidak mau berdakwah lagi. Anggap itu bagian dari ujian keikhlasan anda menapaki kegiatan dakwah. Jika anda sukses, insyaallah anda akan menjadi pejuang yang tangguh.

Sekarang saya ajak anda gantian menjadi Umi…. Tempatkan diri anda pada posisi Umi. Sebagai senior mestinya anda bersikap lebih dewasa dan bijak menghadapi realitas adik-adik yunior. Mereka adalah aset yang paling berharga dalam organisasi dakwah anda. Benar, tak ada aset yang lebih berharga dalam organisasi anda kecuali mereka, generasi muda penerus aktivitas dakwah. Kehadiran anda pada kegiatan mereka telah memberikan semangat dan energi luar biasa. Apalagi jika anda hadir sambil memberikan apresiasi positif atas jerih payah dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini. Tentu semangat para yunior akan bertambah menggelora.



Saat anda menyaksikan kekurangan dan kelemahan dalam kegiatan, jangan langsung anda tumpahkan dalam bentuk kemarahan kepada panitia pelaksana. Karena itu bercorak sangat reaktif, dan justru men-down grade senioritas anda. Tampak bahwa anda tidak mengetahui mekanisme organisasi. Bukankah nanti ada saat evaluasi kegiatan kepanitiaan, dan anda bisa menyampaikannya di forum evaluasi tersebut ? Bukankah saat kegiatan sedang berjalan, para panitia itu punya garis komando yang jelas. Siapa berhak menginstruksi dan siapa yang tidak berhak, itu semua ada mekanisme dan aturannya. Sebagai apakah anda waktu itu ? Apakah anda termasuk panitia kegiatan yang punya garis instruksi ? Bukankah anda “hanya” seorang senior yang kebetulan menyaksikan ada kekurangan dalam kepanitiaan. Mengapa bisa langsung intervensi ke panitia pelaksana ?



Aneh sekali perilaku anda sebagai senior. Ketahuilah, saat anda menumpahkan kemarahan kepada panitia pelaksana yang rata-rata adalah yunior anda, itu sangat melukai perasaan mereka. Bahkan bisa berpotensi membuat mereka kecewa dan akhirnya mundur dari organisasi dakwah yang anda rintis sekian lama. Adik-adik yunior itu diam saat anda marahi, bukan karena mereka menerima kritik dan kemarahan anda. Bukan karena mereka legowo, namun diamnya mereka semata-mata menghormati senioritas anda. Andai saja anda bukan orang senior, pasti kritik dan kemarahan anda yang tidak proporsional akan berbuntut panjang.

Harusnya anda menempatkan diri secara proporsional. Menjadi senior itu sulit, karena semua yang dilakukan telah menjadi acuan dan justifikasi para yunior. Tampakkan jiwa kedewasaan anda, mestinya anda menanamkan hikmah dan kebijaksanaan di hadapan generasi muda penerus kegiatan dakwah. Bukan menampakkan sikap kekanak-kanakan yang bisa menyakitkan hati dan perasaan kader yang baru saja bergabung dalam kegiatan di organisasi anda. Bukan menunjukkan posisi powerful yang anda miliki, menampakkan otoritas sebagai senior yang anda dapatkan dari aset sejarah. Mengapa tidak anda tampakkan saja sikap ramah dan membimbing generasi muda, agar mereka merasa semakin nyaman membersamai kegiatan organisasi ?



Anda telah salah memahami makna senior. Bukankah senior itu hanya karena anda lebih dahulu bergabung dengan organisasi dakwah, dan mereka disebut yunior karena bergabungnya belakangan ? Tidak ada jaminan bahwa senior lebih baik dan lebih berkualitas dari yunior, tidak ada kaidah yang membenarkan bahwa seorang senior berhak berlaku semena-mena dan berbuat semaunya terhadap yang muda. Senior itu hanya karena takdir sejarah, bahwa anda bergabung lebih awal daripada yang lainnya. Itu saja, jangan dilebih-lebihkan.

Bagaimana kalau menjadi Dina ? Anda jangan sungkan menyampaikan kepada Umi. Sebagai sahabat sejawat, satu generasi, anda harus berani menyampaikan aspirasi adik-adik yunior yang merasa disakiti hatinya. Sampaikan saja dengan bahasa yang tepat kepada Umi, bahwa tindakannya kepada Siti dan beberapa panitia kegiatan telah menyebabkan mereka tidak nyaman. Jika perilaku seperti itu menjadi kebiasaan, bahkan kebanggaan, akan berpotensi merusak tatanan organisasi. Anda harus membersamai Umi agar ia lebih arif serta bijak menempatkan diri dalam organisasi.



Nasihati Umi agar ia mengerti ketidaktepatan kemarahannya. Ajak Umi untuk meminta maaf kepada Siti, serta panitia pelaksana lainnya yang sempat mendapat kemarahan Umi. Permintaan maaf ini akan menyebabkan tumbuhnya cinta, kepercayaan dan penghormatan para yunior kepada senior mereka. Generasi muda akan melihat bahwa orang-orang tua bersedia meminta maaf kepada yang muda atas ketidaktepatan tindakan yang dilakukannya. Ini merupakan pembelajaran dan pendidikan yang sangat berarti bagi anak-anak muda. Umi tidak akan jatuh wibawa dan kehormatannya dengan meminta maaf, bahkan sebaliknya, tindakan itu akan menjadi awal respek dan penghormatan dari para yunior.



Sikap keras kepala dan tinggi hati yang ditampakkan Umi justru berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan kewibawaannya. Maka sebagai sesama senior, anda harus bisa meluruskan persepsi Umi. Setelah Umi bersedia meminta maaf, maka ajaklah Siti serta teman-teman panitia lainnya untuk tidak memperbesar masalah, untuk menganggap selesai masalah ini, dan tidak mengungkit lagi. Ajak Siti dan teman-teman panitia silaturahim ke rumah Umi untuk meminta nasihat dan tausiyah. Posisi anda sangat tepat untuk mengatur ini semua, karena Siti telah curhat kepada anda selaku senior organisasi.

Inilah rajutan hati dan ikatan perasaan dalam dinamika dakwah. Sebagian di antara kita ditakdirkan menjadi senior, sebagian yang lainnya menjadi yunior. Semata-mata karena sebagian telah lebih dahulu melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi, sedangkan sebagian yang lainnya baru bergabung belakangan. Maka menjadi senior harus sangat berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, karena semua akan menjadi acuan generasi muda. Diamnya para senior saja memiliki arti, apalagi kemarahannya.



Sebaliknya, sebagai yunior hendaknya banyak belajar dan menimba pengalaman dari generasi terdahulu. Jika ada perkataan, perbuatan dan tingkah laku generasi terdahulu yang tidak menetapi standar kebaikan, hendaknya anda tidak menjadikannya sebagai patokan. Anda berkewajiban untuk memberikan masukan, pengingatan, tausiyah dan kritik konstruktif dengan cara yang tepat dan tetap menghormati pihak yang lebih tua. Karena Siti merasa tidak mampu memberikan masukan dan pengingatan secara langsung, maka ia sampaikan itu kepada Dina agar bisa meneruskan kepada Umi. Ini contoh kebijakan dalam menyampaikan masukan dan saran. Bukan mendiamkan, namun menyalurkan melalui saluran yang tepat.



Semoga Allah kuatkan Siti dan rekan-rekannya di jalan dakwah. Semoga Allah ampuni Umi dan membimbingnya agar menjadi gudang hikmah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebijaksanaan kepada Dina sehingga menjadi qudwah. Amin.



Yogyakarta, 11 Mei 2011

 *Sumber : namaku cahyadi takariawan

Hamas-Fatah kini Bersatu

Pada hari Rabu tanggal 4 Mei rakyat Palestina merayakan kabar kesepakatan damai antara Hamas dan Fatah. Sebuah kegembiraan yang luar biasa dirasakan bangsa Palestina. "Pertama kali saya memegang bendera Fatah setelah 4 tahun berlalu, " kata Mahmud al-Riati, seorang mahasiswa teknik yang berumur 20 tahun. Rakyat Palestina turun ke jalan merayakan persatuan ini.

Akan tetapi sudah tentu, persatuan ini membuat Israel marah dan membekukan dana pajak yang seharusnya disetorkan ke otoritas Palestina.


Jalan untuk menuju persatuan ini penuh dengan rintangan. Apakah mereka dapat mengatasi tantangan ini tergantung dari kerja keras kedua belah pihak untuk membawa pengikutnya dalam ruang perdamaian.

Kesepakatan disahkan di Kairo, Mesir pada hari Rabu. Salah satu persoalan penting yang menjadi kesepakatan bersama adalah pengelolaan keamaan Jalur Gaza dan wilayah Palestina lainnya. Mereka sepakat untuk membuat semacam Dewan Keamanan Tertinggi yang akan mengawal wilayah-wilayah Palestina. Meskipun tidak dijelaskan bagaiman pelaksanaan teknisnya, akan tetapi ini merupakan kemajuan besar bagi bangsa Palestina untuk membangun bangsanya.


Fatah mendapat sokongan barat untuk membangun kekuatan militernya di West Bank. Kekuatan militer Fatah ini sudah tentu tidak dirancang untuk melawan Israel, hanya sebatas kekuatan pasukan keamanan. Sedangkan Hamas mengembangkan militernya dengan kekuatannya sendiri di Gaza. Selain untuk keamanan wilayah, kekuatan pasukan Hamas dipersiapkan untuk membela diri dari serangan Israel.

Dalam perjanjian yang dilaksanakan di Kairo kali ini, tidak disebutkan kata kesepakatan tentang bagaimana penyelesaian konflik dengan Israel. Seperti kita ketahui, Fatah lebih cenderung mendukung kesepakatan dengan barat dan Israel yang terkadang merugikan bangsa Palestina dan Hamas. Dalam kesepakatan itu juga tidak disebutkan bagaimana peranan masing-masing dalam memimpin bangsa Palestina.

Ketika Hamas memenangkan pemilu Palestina legislatif tahun 2006, pihak barat memboikot pemerintahan sah bangsa Palestina di bawah Hamas. Israel yang mendengar kesepakatan damai dari Hamas dan Israel telah membekukan penerimaan pajak yang dikumpulkan atas nama Otoritas Palestina.

Seorang komentator politik, Bassem Zubaidi mengatakan bahwa hambatan eksternal yang dibentuk oleh Israel merupakan tantangan besar dalam perjanjiang persatuan ini. Untuk membuat agenda politik bersama memerlukan waktu yang tidak pendek, tambahnya.
 
"Hal-hal yang besar sangat rumit permasalahannya, dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu semalam," katanya.


"Akan tetapi mereka bisa memulainya dengan langkah-langkah yang kecil, seperti pembentukan pemerintahan dan pelaksanaan pemilu, " imbuhnya.


*) Sumber : islamedia

Verifikasi Parpol Dalam Gambar

Written By Jattman Tampese on 16.5.11 | 16.5.11



Tim Verifikasi sedang menyiapkan berkas verifikasi untuk DPC Balaesang Tanjung (Disebuah Masjid)







Pak Camat yang sedang memeriksa berkas. PKS adalah Partai pertama yang mendaftar di kecamatan ini.








Ketua DPC menandatangani surat pernyataan kepengurusan disebuah Masjid.







Crew membantu tugas kecamatan membuat Surat Keterangan
(Jaringan PLN nggak ada aliran listriknya).

Lokasi : Dalam Mobil dibawah sebuah pohon





Sepucuk Surat untuk DPC Balaesang Induk karena beliau sedang berada di lokasi Persawahan.

Verifikasi Pertama di kilometer 267

Menindaklanjuti proses verifikasi partai politik sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 2 tahun 2011, Permenkumham No. M.HH-04.AH.!!.01 tahun 2011 yang ditegaskan di dalam Surat Mendagri No. 210-139-D-IV dan Surat Mendagri No. 210-867-SJ, DPD PKS Kabupaten Donggala menurunkan timnya keseluruh kecamatan.
Ogoamas-II adalah ibukota kecamatan paling utara di kabupaten Donggala yang pertama kali dikunjungi oleh Tim Verifikasi DPD, yang terdiri dari Ketua DPD, Sekum dan Bendahara. Tim kami tiba sekitar pukul 01:00 dinihari. Didesa dengan luas wilayah 139,07 km2 ini hanya dihuni oleh 9.302 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.490 KK. Ba'da shalat subuh yang dilanjutkan dengan wirid alma'tsurat shugro, tim langsung beraksi di TKP (rumah sekertaris DPC) untuk menyiapkan semua berkas verifikasi. Sekitar pukul 09:30 semua berkas selesai dan siap menuju Kantor Kecamatan.
Diterima langsung dengan sangat ramah oleh Bapak Rahmat Rusly,SE selaku Camat setempat, sambil berbincang ringan seputar fenomena pelayanan para pejabat terhadap masyarakatnya dan sesekali menyinggung masalah pemuda dan berbagai persoalan lainnya.  
Saya senang berorganisasi dan hanya pejabat yang tidak kenal organisasi saja yang kadang terkesan arogan dalam kepemimpinannya, kata sang Camat.
Setelah mendapatkan Surat Keterangan dimaksud, kami langsung berpamitan dengan beliau. Pesannya untuk PKS didaerah tersebut agar dapat mengundang beliau dalam acara-acara yang diselenggarakan para pengurus kecamatan. 


Setiap agenda jaulah, tim selalu ditemani beberapa senjata utama antara lain genset, printer canon MP250 yang bisa foto copy, laptop, serta obat-obatan. Salah satu contoh ketika kami berada didaerah ini, kalau siang hari tidak ada aliran listriknya sehingga kami harus bekerja didalam mobil, itu jika diperlukan untuk membantu kelancaran proses pendaftaran.

"Bekerja Untuk Indonesia"

Hamas-Fatah kini Bersatu

Written By Jattman Tampese on 14.5.11 | 14.5.11

Pada hari Rabu tanggal 4 Mei rakyat Palestina merayakan kabar kesepakatan damai antara Hamas dan Fatah. Sebuah kegembiraan yang luar biasa dirasakan bangsa Palestina. "Pertama kali saya memegang bendera Fatah setelah 4 tahun berlalu, " kata Mahmud al-Riati, seorang mahasiswa teknik yang berumur 20 tahun. Rakyat Palestina turun ke jalan merayakan persatuan ini.
Akan tetapi sudah tentu, persatuan ini membuat Israel marah dan membekukan dana pajak yang seharusnya disetorkan ke otoritas Palestina.

Jalan untuk menuju persatuan ini penuh dengan rintangan. Apakah mereka dapat mengatasi tantangan ini tergantung dari kerja keras kedua belah pihak untuk membawa pengikutnya dalam ruang perdamaian.
Kesepakatan disahkan di Kairo, Mesir pada hari Rabu. Salah satu persoalan penting yang menjadi kesepakatan bersama adalah pengelolaan keamaan Jalur Gaza dan wilayah Palestina lainnya. Mereka sepakat untuk membuat semacam Dewan Keamanan Tertinggi yang akan mengawal wilayah-wilayah Palestina. Meskipun tidak dijelaskan bagaiman pelaksanaan teknisnya, akan tetapi ini merupakan kemajuan besar bagi bangsa Palestina untuk membangun bangsanya.

Fatah mendapat sokongan barat untuk membangun kekuatan militernya di West Bank. Kekuatan militer Fatah ini sudah tentu tidak dirancang untuk melawan Israel, hanya sebatas kekuatan pasukan keamanan. Sedangkan Hamas mengembangkan militernya dengan kekuatannya sendiri di Gaza. Selain untuk keamanan wilayah, kekuatan pasukan Hamas dipersiapkan untuk membela diri dari serangan Israel.
Dalam perjanjian yang dilaksanakan di Kairo kali ini, tidak disebutkan kata kesepakatan tentang bagaimana penyelesaian konflik dengan Israel. Seperti kita ketahui, Fatah lebih cenderung mendukung kesepakatan dengan barat dan Israel yang terkadang merugikan bangsa Palestina dan Hamas. Dalam kesepakatan itu juga tidak disebutkan bagaimana peranan masing-masing dalam memimpin bangsa Palestina.
Ketika Hamas memenangkan pemilu Palestina legislatif tahun 2006, pihak barat memboikot pemerintahan sah bangsa Palestina di bawah Hamas. Israel yang mendengar kesepakatan damai dari Hamas dan Israel telah membekukan penerimaan pajak yang dikumpulkan atas nama Otoritas Palestina.
Seorang komentator politik, Bassem Zubaidi mengatakan bahwa hambatan eksternal yang dibentuk oleh Israel merupakan tantangan besar dalam perjanjiang persatuan ini. Untuk membuat agenda politik bersama memerlukan waktu yang tidak pendek, tambahnya.
"Hal-hal yang besar sangat rumit permasalahannya, dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu semalam," katanya.

"Akan tetapi mereka bisa memulainya dengan langkah-langkah yang kecil, seperti pembentukan pemerintahan dan pelaksanaan pemilu, " imbuhnya.

*) Sumber : islamedia

Pakar Politik islam Saudi dukung Pemilu

Umum diketahui, bahwa selama ini banyak pihak di Arab Saudi yang sangat alergi dengan masalah pemilu, khususnya dalam pandangan syar'i. Biasanya proses pemilu ini mereka kaitkan dengan sistem demokrasi yang dianggap sebagai sistem kafir. Namun belakangan suara-suara tersebut kian lemah, karena ternyata para ulama yang disegani di Negara ini tidak melihat pemilu sebagai masalah hitam putih; halal atau haram. Mereka umumnya melihat dari sisi kemaslahatan umat. Apalagi setelah pemerintahnya sendiri mengadakan pemilu untuk menyerap aspirasi rakyat.
Perkara ini mencuat kembali akhir-akhir ini menjelang pemilu lokal kedua yang akan diadakan pemerintah Arab Saudi pada September mendatang tahun ini. Ditengah-tengah upaya gencar pemerintah agar masyarakat berpartisipasi aktif ikut dalam kegiatan politik ini, muncul kembali polemik tentang syar'iyyatul intikhabat (legalitas syariat pemilu) dengan asumsi dan pandangan negatif.
Namun hal ini dibantah oleh seorang pakar politik Islam Arab Saudi yang juga dosen pasca sarjana ilmu kehakiman, DR. Saad bin Mathar Al-Otaibi. Dia berkata, "Saya tidak mengetahui ada seorang ulama kita yang diakui mengingkari partisipasi dalam pemilu yang diselenggarakan pemerintah." Dia juga menambahkan, "Pemilu merupakan salah satu bentuk metode memilih orang yang paling layak menduduki kepemimpinan. Dia merupakan sarana syar'i yang memiliki landasan dalam sunnah nabi dan dipraktekkan para shahabat radhiallahu anhum, dan pemilu lokal ini adalah salah satu wujudnya di zaman moderen sekarang. Pemerintah dan para ulama telah menyetujuinya. Tidak saya ketahui ada seorang pun ulama yang diakui di Negara kita yang mengingkarinya."
Al-Otaibi juga berkata, "Terdapat fatwa para ulama yang mendorong warga untuk berpartisipasi dalam pemilu lokal pertama dahulu. Hal itu sangat jelas. Karena ini merupakan salah satu sarana untuk memilih pemimpin yang kredibel dan yang paling layak."
Karena itu, Al-Otaibi menyerukan seluruh warga untuk segera mendaftarkan dirinya sebagai pemilih, karena hal tersebut memiliki kemaslahatan syar'i dan merupakan sikap tanggung jawab.
Terkait dengan calon terpilih dalam pemilu ini, Al-Otaibi berkata, "Wajib bagi mereka mendahulukan kemaslahatan syar'i bagi masyarakat dibanding kemaslahatan yang bersifat cabang." Dia tegaskan bahwa negeri ini adalah negeri Islam, UUD nya adalah Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman peraturan Negara dan tindak tanduk masyarakat.
(Sabq)
*)Sumber : Islammedia

Membangun Negeri dengan “1000 satu Issu”


Ust.Rasyid, A.Md
Usia NKRI sudah tidak muda lagi, yang berarti telah banyak menempuh perjalanan panjang, jatuh-bangun dan sederetan kisah mewarnai wajah NKRI hingga saat ini. Gerak laju pembangunan bangsa hadir dengan berbagai wajah baik dengan wajah yang penuh harapan, maupun dengan wajah duka dan nestapa. Prestasi yang diraih, pengakuan dunia Internasional dan sejumlah capaian-capaian pembangunan seolah tertutupi dengan fenomena kontemporer seperti kemiskinan yang akut, terorisme berkepanjangan dan kepastian hukum yang tidak berujung.

Jika mencermati semua hal di atas, maka akan terbetik dalam fikiran bahwa sudah menjadi konsekuensi sebuah bangsa dan negara berkembang untuk senantiasa mendapat perlakuan yang nyeleneh, pesimistik, oportunistik dan segudang –isme- lainya, sehingga dengan hal ini banyak yang berpendapat bahwa NKRI akan semakin dewasa dan maju, namun dari spekulasi asumsi tersebut benarkah kedewasaan negara akan dapat terwujud dengan segudang wajah konflik interest ? ataukah kemajuan sebuah bangsa harus selalu melalui jalan panjang dari ketidak-beraturan, kesimpang siuran aturan, dan benturan ideologis yang tidak pernah surut?

Banyak hal yang patut dicermati untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, yaitu :

·         Pertama menemukan sentrum informasi yang menjadi penyebab terjadinya benturan-benturan,
·         Kedua bahwa dalam konteks negara dan bangsa tidak ada yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa ada akar dan aktor dibalik setiap kejadian, dan yang
·         Ketiga bahwa kondisi global sangat mempengaruhi kondisi internal sebuah bangsa dan negara.

Dari ketiga hal ini akan menjadi langkah awal guna mengurai satu demi satu benang kusut yang melilit wajah NKRI.

Peran Media dalam Pengelolaan Issu

Hampir dapat dipastikan bahwa media sangat memegang peran yang sangat penting di dalam pengelolaan issu baik sebagai sumber issu maupun sebagai penyebar issu, hal ini setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu : Pertama perkembangan teknologi informasi yang menjadi alat yang sangat produktif, dan yang Kedua terjaminya kebebasan pers/media dalam konstitusi.

Untuk konteks perkembangan teknologi Informasi, maka sudah menjadi hal yang sangat sulit dihindari karena sudah merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi secara umum, namun demikian yang patut diperhatikan adalah bahwa teknologi informasi sebagai “alat” tidak pernah berdiri sendiri atau bebas nilai, melainkan menjadi alat yang sangat ampuh untuk digunakan sebagai lokomotif penggerak Interest-kognitif tertentu. Artinya bahwa siapapun yang sanggup mengelola dan menguasai teknologi Informasi dengan semua cabang-cabangnya maka apapun keinginan dan kehendaknya dapat dicapai. Mengapa demikian?

Dalam analisis media, terkadang yang selalu sulit untuk dihindari (meskipun klaim media berupaya untuk selalu obyektif) adalah perpaduan antara antara fakta, opini dan emosi. Terkadang Fakta dalam pengungkapan tidaklah selalu “bersih” dari pengaruh opini dan emosi. Opini dan emosi tersebut sangat mungkin berkolaborasi dalam menafsirkan sebuah fakta yang terjadi, sehingga akhirnya klaim pemberitaan yang muncul adalah Obyektivikasi fakta (mengobyektifkan sesuatu yang belum tentu obyektif).

Mengapa kecurigaan ini begitu besar? Faktor pertama adalah tekanan persaingan dalam struktur industri media (yang diwujudkan melalui TV rating, dan sebagainya), struktur produksi berita dalam organisasi media (yang antara lain menekankan standar newsworthiness tertentu) dan sebagainya. Artinya dengan kemajuan Industrialisasi media, maka faktor Issu menjadi hal yang sangat laku dan menarik untuk selalu ditampilkan, apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik (contoh : pemberitaan sejumlah media yang bertubi-tubi menyerang elit politik tertentu). Faktor Kedua adalah pemanfaatan tingkat kesadaran (emosi) masyarakat yang sangat peka terhadap simbol-simbol tertentu (terkhusus simbolisasi agama, partai, suku dan bangsa), dimana media menampilkan realitas simbolik tertentu sangat mempengaruhi subyektifitas masyarakat yang menyaksikan, seperti misalnya : pemberitaan terhadap simbol penistaan agama maka serta merta mempengaruhi secara langsung subyektifitas masyarakat, pemberitaan kasus-kasus yang melilit elit politik tertentu akan sangat mempengaruhi elektablitias politik tertentu.

Oleh karena itu, melihat fenomena ini maka selayaknya masyarakat umum menyadari bahwa Obyektivikasi fakta yang ditampilkan oleh Media bukanlah satu-satunya alat pembenar dari fakta yang terjadi, melainkan hanya sebagai salah satu bahan untuk melihat fenomena tersebut sebagai referensi faktual yang perlu dikritisi lebih lanjut. Jangan sampai begitu besar harapan masyarakat untuk membangun negerinya dengan potensi sumber daya yang dimiliki, justru terjebak dalam permainan 1000 satu Issu yang tidak akan berujung. Alangkah rugi dan mahalnya negeri jika dibangun dengan 1000 satu Issu, yang justru memperkaya kaum pemilik modal dan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan. Wallahu ‘alam bhissawab.

Membangun Negeri dengan “1000 satu Issu”


Ust.Rasyid, A.Md
Usia NKRI sudah tidak muda lagi, yang berarti telah banyak menempuh perjalanan panjang, jatuh-bangun dan sederetan kisah mewarnai wajah NKRI hingga saat ini. Gerak laju pembangunan bangsa hadir dengan berbagai wajah baik dengan wajah yang penuh harapan, maupun dengan wajah duka dan nestapa. Prestasi yang diraih, pengakuan dunia Internasional dan sejumlah capaian-capaian pembangunan seolah tertutupi dengan fenomena kontemporer seperti kemiskinan yang akut, terorisme berkepanjangan dan kepastian hukum yang tidak berujung.

Jika mencermati semua hal di atas, maka akan terbetik dalam fikiran bahwa sudah menjadi konsekuensi sebuah bangsa dan negara berkembang untuk senantiasa mendapat perlakuan yang nyeleneh, pesimistik, oportunistik dan segudang –isme- lainya, sehingga dengan hal ini banyak yang berpendapat bahwa NKRI akan semakin dewasa dan maju, namun dari spekulasi asumsi tersebut benarkah kedewasaan negara akan dapat terwujud dengan segudang wajah konflik interest ? ataukah kemajuan sebuah bangsa harus selalu melalui jalan panjang dari ketidak-beraturan, kesimpang siuran aturan, dan benturan ideologis yang tidak pernah surut?

Banyak hal yang patut dicermati untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, yaitu :

·         Pertama menemukan sentrum informasi yang menjadi penyebab terjadinya benturan-benturan,
·         Kedua bahwa dalam konteks negara dan bangsa tidak ada yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa ada akar dan aktor dibalik setiap kejadian, dan yang
·         Ketiga bahwa kondisi global sangat mempengaruhi kondisi internal sebuah bangsa dan negara.

Dari ketiga hal ini akan menjadi langkah awal guna mengurai satu demi satu benang kusut yang melilit wajah NKRI.

Peran Media dalam Pengelolaan Issu

Hampir dapat dipastikan bahwa media sangat memegang peran yang sangat penting di dalam pengelolaan issu baik sebagai sumber issu maupun sebagai penyebar issu, hal ini setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu : Pertama perkembangan teknologi informasi yang menjadi alat yang sangat produktif, dan yang Kedua terjaminya kebebasan pers/media dalam konstitusi.

Untuk konteks perkembangan teknologi Informasi, maka sudah menjadi hal yang sangat sulit dihindari karena sudah merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi secara umum, namun demikian yang patut diperhatikan adalah bahwa teknologi informasi sebagai “alat” tidak pernah berdiri sendiri atau bebas nilai, melainkan menjadi alat yang sangat ampuh untuk digunakan sebagai lokomotif penggerak Interest-kognitif tertentu. Artinya bahwa siapapun yang sanggup mengelola dan menguasai teknologi Informasi dengan semua cabang-cabangnya maka apapun keinginan dan kehendaknya dapat dicapai. Mengapa demikian?

Dalam analisis media, terkadang yang selalu sulit untuk dihindari (meskipun klaim media berupaya untuk selalu obyektif) adalah perpaduan antara antara fakta, opini dan emosi. Terkadang Fakta dalam pengungkapan tidaklah selalu “bersih” dari pengaruh opini dan emosi. Opini dan emosi tersebut sangat mungkin berkolaborasi dalam menafsirkan sebuah fakta yang terjadi, sehingga akhirnya klaim pemberitaan yang muncul adalah Obyektivikasi fakta (mengobyektifkan sesuatu yang belum tentu obyektif).

Mengapa kecurigaan ini begitu besar? Faktor pertama adalah tekanan persaingan dalam struktur industri media (yang diwujudkan melalui TV rating, dan sebagainya), struktur produksi berita dalam organisasi media (yang antara lain menekankan standar newsworthiness tertentu) dan sebagainya. Artinya dengan kemajuan Industrialisasi media, maka faktor Issu menjadi hal yang sangat laku dan menarik untuk selalu ditampilkan, apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik (contoh : pemberitaan sejumlah media yang bertubi-tubi menyerang elit politik tertentu). Faktor Kedua adalah pemanfaatan tingkat kesadaran (emosi) masyarakat yang sangat peka terhadap simbol-simbol tertentu (terkhusus simbolisasi agama, partai, suku dan bangsa), dimana media menampilkan realitas simbolik tertentu sangat mempengaruhi subyektifitas masyarakat yang menyaksikan, seperti misalnya : pemberitaan terhadap simbol penistaan agama maka serta merta mempengaruhi secara langsung subyektifitas masyarakat, pemberitaan kasus-kasus yang melilit elit politik tertentu akan sangat mempengaruhi elektablitias politik tertentu.

Oleh karena itu, melihat fenomena ini maka selayaknya masyarakat umum menyadari bahwa Obyektivikasi fakta yang ditampilkan oleh Media bukanlah satu-satunya alat pembenar dari fakta yang terjadi, melainkan hanya sebagai salah satu bahan untuk melihat fenomena tersebut sebagai referensi faktual yang perlu dikritisi lebih lanjut. Jangan sampai begitu besar harapan masyarakat untuk membangun negerinya dengan potensi sumber daya yang dimiliki, justru terjebak dalam permainan 1000 satu Issu yang tidak akan berujung. Alangkah rugi dan mahalnya negeri jika dibangun dengan 1000 satu Issu, yang justru memperkaya kaum pemilik modal dan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan. Wallahu ‘alam bhissawab.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Donggala - Redesigned by PKS Donggala
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger