Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Taujih Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Tokoh. Tampilkan semua postingan
24.11.13
Tweet Nasihat Mantan Menteri Sebelum Meninggal Saat Shalat Isya
Written By Unknown on 24.11.13 | 24.11.13
Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun. Mantan menteri pendidikan Arab Saudi, Dr. Muhammad bin Ahmad Ar-Rasyid, meninggal saat melaksanakan shalat Isya, Sabtu malam (23/11/2013) waktu Arab Saudi.
Saat itu beliau mengalami serangan jantung. Beliau meninggal dalam umur 69 tahun.
Akhir tweet beliau sebelum meninggal adalah sebuah pesan tentang bagaimana manusia sangat membutuhkan pahala-pahala amal kebaikannya semasa hidup di dunia.
Beliau mengatakan dalam akun twitternya:
“Alangkah bodohnya orang-orang kaya itu. Mereka hidup hemat agar bisa meninggalkan harta warisan yang besar kepada ahli waris setelah kematiannya. Padahal di akhirat nanti, jika dia meminta satu pahala kebaikan saja kepada ahli warisnya, pasti tidak akan diberi.”
Sumber : Dakwatuna
Label:
Dunia Islam,
Nasehat,
Taujih Tokoh
22.7.11
Agar Motivasi Tetap Tinggi
Written By Unknown on 22.7.11 | 22.7.11
Bila kalian mengubah Pikiran kalian,
Berarti sedang mengubah Keyakinan diri kalian,
Mengubah diri, berarti sedang mengubah Harapan-harapan,
Mengubah harapan, berarti mengubah Sikap,
Mengubah sikap, berarti mengubah Tingkah laku,
Mengubah tingkah laku, berarti mengubah Kinerja,
Mengubah kinerja, berarti mengubah Nasib,
Mengubah nasib, berarti MENGUBAH HIDUP.
Siapa yang tidak ingin memiliki motivasi tinggi dalam hidup ini? Tanpa menjawab pun semua mau. betul...betul...betul. tapi masalahnya gan..gmana caranya agar yang namanya motivasi itu tetap berada dilevel TOP. kayak mesin aja...Top Engine. Nich ada beberapa kiat yang bisa kita praktikkan. langung ke TeKaPe...
- Cari lingkungan or teman yang semangat, energij,dan bermotivasi tinggi.Ini sangat penting karena kita adalah anak dari lingkungan dimana kita berada. kalo ingin bermotivasi, sebaiknya cari lingkungan-lingkungan mendukung dan hindari berteman dengan pemalas yang tidak punya tujuan hidup. (Nah...point satu ini khusus yang masih masuk kategori belum punya motivasi. bagi yang sudah punya boleh dimana saja asal dengan tujuan ingin memderdayakan si lingkungan tadi serta si pemalas itu agar bisa termotivasi seperti ditinya). lanjut....
- Baca buku atau tulisan yang berisi motivasi. Ini bisa membangkitkan semangat kita karena dengan membaca setidaknya ada kekuatan tersendiri untuk melakukan apa yang kita baca. luangkan waktu barang 5-10 menit perhari untuk membaca buku-buku atau tulisan-tulisan motivasi. lanjut gan...
- Ikuti acara-acara yang bisa membangkitkan motivasi diri. mengikuti acara-acara seperti diskusi motivasi, seminar motivasi, memberikan penyegaran tersendiri. Biasanya setelah mengikuti acara-acara tersebut kita seperti hidup kembali.
- Jangan lihat kelemahan tapi lihatlah potensi dan kelebihan kita. Melihat motivasi dan kelebihan yang kita miliki, menjadikan kita makin termotivasi dan optimis untuk menjadi lebih baik. Ini menjadikan kita sebagai manusia yang paling beruntung sehingga menimbulkan rasa syukur.
- ikuti training-training motivasi. Mengikuti pelatihan motivasi bisa menjadikan kita lebih termotivasi, merasa fresh lagi. Paling tidak kita akan mendapatkan wawasan dan kiat untuk memotivasi diri agar tidak mudah kena 3L
- Bergabunglah dengan organisasi yang didalamnya terdapat persaingan sehat, didukung SDM berkualitas dan berorientasi masa depan. Organisasi yang ber SDM tinggi biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki motivasi hidup tinggi. Bergabung dan aktif organisasi dengan orang-orang demikian menjadikan diri "tertular" motivasi.
- Tuliskan kata-kata atau slogan yang bisa menggugah semangat. Ini bisa kita lakukan agar selalu bersemangat dalam menghadapi hidup. tulis kata-kata pemggugah semangat untuk lebih memotivasi kita. bisa kita ambil dari ayat-ayat Al-Qur'an, hadits, slogan, kata-kata kita sendiri, tokoh besar atau dari buku-buku motivasi. Sttttttt...Hal inipun banyak dilakukan tokoh-tokoh terkenal.
- Jangan sekali-kali meremehkan diri kita. setiap kita memiliki potensi yang unik. masing-masing orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Focuskan pada kelebihan kita dan jangan sekali-kjali meremehkan diri kita. tapi kita berpotensi dan berpeluang sama menjadi ORANG SUKSES. (bersambung....)
*by admin yang dikutip dari buku getbigspirit
Label:
Buku,
Donggala,
Mendidik Anak,
Motivasi,
Remaja,
Renungan,
Sang Murabbi,
Taujih Tokoh
13.7.11
"Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT)"
Forum Tarbiyah): Menurut saya, diantara salah paham terhadap mafhum furqan adalah keharusan adanya perbedaan secara strik dan gamblang antara ikhlas dan tidak ikhlas.
Sebagai contoh kasus, saat seseorang mengajar di sebuah sekolah dengan sungguh-sungguh, dengan maksud untuk mendapatkan gaji, maka dengan mudah saja seorang itu diberi lebel atau cap tidak ikhlas. Salah satu alasannya, adalah mesti ada furqan; antara mengajar dengan niat lillahi ta’ala dengan mengajar dengan niat mendapatkan gaji.
Contoh lainnya adalah saat seorang aktifis dakwah bekerja untuk melakukan rekruitmen, dengan maksud atau niat menambah jumlah pendukung dakwah, ada saja orang-orang tertentu yang menuduhnya tidak ikhlas, dengan alasan, amalnya tidak dilakukan dengan niat lillahi ta’ala.
Contoh lain lagi adalah saat seorang politisi muslim bekerja pada bidang politiknya dengan sungguh-sungguh, dengan maksud atau niat agar ia dapat mempertanggung jawabkan posisi dan kedudukannya kepada konstituen atau publik, sebagian orang serta merta memvonisnya dengan tidak ikhlas.
Sebagian lainnya mengatakan: “tidak ada lagi perbedaan antara politisi muslim dan politisi lainnya, kalau pun ada, ya .. beti lah”, maksudnya adalah perbedaannya hanya tipis sekali dan nyaris tidak terdapat perbedaan, atau bahkan komentar itu dimaksudkan untuk mengatakan: “sama saja”, hanya saja dengan cara menyindir.
Menurut yang saya pahami, Wallahu a’lam, pemahaman seperti tadi tidak selalu tepat, dengan alasan:
1. Justru yang dimaksud dengan furqan diantaranya adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal yang “beti” (beda tipis) sebagai dua hal yang berbeda, khususnya dalam hal-hal yang berkenaan dengan hati, seperti: ikhlas, tawakkal dan semacamnya. Ketidak mampuan seseorang dalam membedakan dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal berbeda yang “beti” akan membawanya kepada su-ut-taqyim (buruk dalam penilaian), yang selanjutkan akan berdampak kepada kesalahan-kesalahan dalam bersikap dan bertindak. Masih mendingan kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersifat personal, repotnya, kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersikap kolektif dan organisatoris, maka tentunya dampak dan pengaruhnya akan semakin besar dan luas.
2. Orang-orang A’rab, sebagaimana disebut dalam Q.S. At-Taubah: 97, dikecam oleh Allah SWT dengan kecaman abadi. Diantara sebabnya adalah karena mereka tidak memiliki kemampuan membedakan hududa ma anzalaLlahu ‘ala rasulihi. Dan hal ini meledak dalam bentuk yang sangat besar di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA, di mana dari mereka muncul berbagai syubuhat yang pangkalnya adalah ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini. Lalu mereka mengelompok menjadi apa yang kemudian disebut sebagai “khawarij” misalnya, mereka tidak mampu membedakan antara perang yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib RA dalam menghadapi Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in dengan perang seorang imam kaum muslimin dalam menghadapi musuh. Dalam pandangan mereka, perang ya perang, dan karena dipimpin oleh imam kaum muslimin, berarti ia adalah jihad, tetapi kenapa perang Ali dalam menghadapi mereka –radhiyallahu anhum- tidak ada ghanimah¬-nya?!!
Akibat lebih lanjut dari ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini adalah tindakan mereka yang membunuh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- dengan alasan ia telah mau bertahkim kepada selain Allah SWT, padahal Allah SWT berfirman: "tidak ada hukum kecuali kepada Allah SWT”. (Q.S. Al-An’am: 57) dan (Q.S. Yusuf: 40, 67).
3. Paling tidak, ada 4 istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an yang mesti kita pahami dengan baik terkait masalah ini, yaitu:
a. Lillah atau liajlillah (karena Allah SWT)
b. Fillah atau fi sabilillah (dalam lingkup Allah SWT) atau (di jalan Allah SWT).
c. Ma’allah atau andadan (bersama Allah SWT) atau menjadikan selain Allah SWT sebagai “pesaing-pesaing” Allah SWT.
d. Min dunillah (tanpa Allah SWT, atau menempatkan Allah SWT lebih rendah daripada yang selain-Nya).
Penjelasan:
Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT).
Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh nabi Sulaima –álaihissalam- saat beliau bermaksud menggauli 60 istrinya dengan niat dan harapan agar masing-masing 60 istri itu hamil, lalu masing-masing mereka melahirkan seorang anak laki-laki, lalu, seluruh anak laki-laki tersebut di masa depannya menjadi seorang mujahid penunggang kuda fi sabilillah.
Di sini terlihat bahwa nabi Sulaiman –‘alaihissalam- mempunyai banyak maksud dan niat, namun, semua maksud dan niat tersebut masih dalam lingkup lillah, fillah dan atau fi sabilillah.
Begitu juga dengan aktifitas atau kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok atau organisasi, sangat mungkin ada banyak maksud dan niat dari tindakan dan perbuatan mereka yang sepintas lalu terlihat “tidak ikhlas”, namun, selama masih dalam lingkup lillah pada penghujungnya, dan atau fi sabilillah dan atau fillah, maka hal ini tidak bertolak belakang dengan keikhlasan. Wallahu a’lam.
Lain halnya kalau seseorang, atau kelompok, atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan dengan niat dan maksud-maksud yang masuk dalam kategori ma’allah, dalam arti ada maksud lillah, tetapi juga ada maksud lain yang selevel dengan maksud lillah dan tidak dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah, maka orang atau kelompok atau organisasi tersebut telah menempatkan niat dan maksud lain selain niat dan maksud Allah SWT sebagai andadan (pesaing-pesaing), maka hal inilah yang disebut dengan istilah syirik yang secara harfiah berarti menyertakan niat dan maksud lain selain Allah SWT. Namun, sekali lagi, yang disebut syirik adalah manakala menjadikan selain Allah SWT dan menempatkannya sebagai andadan. Wallahu a’lam
Apatah lagi kalau seseorang, atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang masuk dalam kategori min dunillah, maksudnya adalah menempatkan Allah SWT dalam niat dan maksudnya di bawah maksud-maksud dan niat-niat lain.Dan lebih parah lagi tentunya kalau seseorang atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang sama sekali tidak ada maksud dan niat untuk Allah SWT sama sekali.
Keikhlasan Itu BeTi (Beda Tipis)
Written By Unknown on 13.7.11 | 13.7.11
![]() |
| Ust.Muhammad Ali Lamu, Lc |
Sebagai contoh kasus, saat seseorang mengajar di sebuah sekolah dengan sungguh-sungguh, dengan maksud untuk mendapatkan gaji, maka dengan mudah saja seorang itu diberi lebel atau cap tidak ikhlas. Salah satu alasannya, adalah mesti ada furqan; antara mengajar dengan niat lillahi ta’ala dengan mengajar dengan niat mendapatkan gaji.
Contoh lainnya adalah saat seorang aktifis dakwah bekerja untuk melakukan rekruitmen, dengan maksud atau niat menambah jumlah pendukung dakwah, ada saja orang-orang tertentu yang menuduhnya tidak ikhlas, dengan alasan, amalnya tidak dilakukan dengan niat lillahi ta’ala.
Contoh lain lagi adalah saat seorang politisi muslim bekerja pada bidang politiknya dengan sungguh-sungguh, dengan maksud atau niat agar ia dapat mempertanggung jawabkan posisi dan kedudukannya kepada konstituen atau publik, sebagian orang serta merta memvonisnya dengan tidak ikhlas.
Sebagian lainnya mengatakan: “tidak ada lagi perbedaan antara politisi muslim dan politisi lainnya, kalau pun ada, ya .. beti lah”, maksudnya adalah perbedaannya hanya tipis sekali dan nyaris tidak terdapat perbedaan, atau bahkan komentar itu dimaksudkan untuk mengatakan: “sama saja”, hanya saja dengan cara menyindir.
Menurut yang saya pahami, Wallahu a’lam, pemahaman seperti tadi tidak selalu tepat, dengan alasan:
1. Justru yang dimaksud dengan furqan diantaranya adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal yang “beti” (beda tipis) sebagai dua hal yang berbeda, khususnya dalam hal-hal yang berkenaan dengan hati, seperti: ikhlas, tawakkal dan semacamnya. Ketidak mampuan seseorang dalam membedakan dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal berbeda yang “beti” akan membawanya kepada su-ut-taqyim (buruk dalam penilaian), yang selanjutkan akan berdampak kepada kesalahan-kesalahan dalam bersikap dan bertindak. Masih mendingan kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersifat personal, repotnya, kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersikap kolektif dan organisatoris, maka tentunya dampak dan pengaruhnya akan semakin besar dan luas.
2. Orang-orang A’rab, sebagaimana disebut dalam Q.S. At-Taubah: 97, dikecam oleh Allah SWT dengan kecaman abadi. Diantara sebabnya adalah karena mereka tidak memiliki kemampuan membedakan hududa ma anzalaLlahu ‘ala rasulihi. Dan hal ini meledak dalam bentuk yang sangat besar di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA, di mana dari mereka muncul berbagai syubuhat yang pangkalnya adalah ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini. Lalu mereka mengelompok menjadi apa yang kemudian disebut sebagai “khawarij” misalnya, mereka tidak mampu membedakan antara perang yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib RA dalam menghadapi Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in dengan perang seorang imam kaum muslimin dalam menghadapi musuh. Dalam pandangan mereka, perang ya perang, dan karena dipimpin oleh imam kaum muslimin, berarti ia adalah jihad, tetapi kenapa perang Ali dalam menghadapi mereka –radhiyallahu anhum- tidak ada ghanimah¬-nya?!!
Akibat lebih lanjut dari ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini adalah tindakan mereka yang membunuh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- dengan alasan ia telah mau bertahkim kepada selain Allah SWT, padahal Allah SWT berfirman: "tidak ada hukum kecuali kepada Allah SWT”. (Q.S. Al-An’am: 57) dan (Q.S. Yusuf: 40, 67).
3. Paling tidak, ada 4 istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an yang mesti kita pahami dengan baik terkait masalah ini, yaitu:
a. Lillah atau liajlillah (karena Allah SWT)
b. Fillah atau fi sabilillah (dalam lingkup Allah SWT) atau (di jalan Allah SWT).
c. Ma’allah atau andadan (bersama Allah SWT) atau menjadikan selain Allah SWT sebagai “pesaing-pesaing” Allah SWT.
d. Min dunillah (tanpa Allah SWT, atau menempatkan Allah SWT lebih rendah daripada yang selain-Nya).
Penjelasan:
Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT).
Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh nabi Sulaima –álaihissalam- saat beliau bermaksud menggauli 60 istrinya dengan niat dan harapan agar masing-masing 60 istri itu hamil, lalu masing-masing mereka melahirkan seorang anak laki-laki, lalu, seluruh anak laki-laki tersebut di masa depannya menjadi seorang mujahid penunggang kuda fi sabilillah.
Di sini terlihat bahwa nabi Sulaiman –‘alaihissalam- mempunyai banyak maksud dan niat, namun, semua maksud dan niat tersebut masih dalam lingkup lillah, fillah dan atau fi sabilillah.
Begitu juga dengan aktifitas atau kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok atau organisasi, sangat mungkin ada banyak maksud dan niat dari tindakan dan perbuatan mereka yang sepintas lalu terlihat “tidak ikhlas”, namun, selama masih dalam lingkup lillah pada penghujungnya, dan atau fi sabilillah dan atau fillah, maka hal ini tidak bertolak belakang dengan keikhlasan. Wallahu a’lam.
Lain halnya kalau seseorang, atau kelompok, atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan dengan niat dan maksud-maksud yang masuk dalam kategori ma’allah, dalam arti ada maksud lillah, tetapi juga ada maksud lain yang selevel dengan maksud lillah dan tidak dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah, maka orang atau kelompok atau organisasi tersebut telah menempatkan niat dan maksud lain selain niat dan maksud Allah SWT sebagai andadan (pesaing-pesaing), maka hal inilah yang disebut dengan istilah syirik yang secara harfiah berarti menyertakan niat dan maksud lain selain Allah SWT. Namun, sekali lagi, yang disebut syirik adalah manakala menjadikan selain Allah SWT dan menempatkannya sebagai andadan. Wallahu a’lam
Apatah lagi kalau seseorang, atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang masuk dalam kategori min dunillah, maksudnya adalah menempatkan Allah SWT dalam niat dan maksudnya di bawah maksud-maksud dan niat-niat lain.Dan lebih parah lagi tentunya kalau seseorang atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang sama sekali tidak ada maksud dan niat untuk Allah SWT sama sekali.
Dikutip dari : Ust. MUSYAFFA
13.7.11
Pemimpin Sejati
Pada suatu hari Umar bin Khottob r.a. berkeliling untuk melihat kondisi rakyatnya dan mengetahui berita mereka dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian ia melewati sebuah rumah yang dihuni oleh nenek-nenek renta. Beliau memberi salam seraya bertanya ;
Apa yang dilakukan Umar ?
Nenek menjawab: Mudah-mudahan Allah membalas keburukannya karena menerlantarkanku.
Umar berkata: Kenapa demikian?
Nenek menjawab: demi Allah, Sejak dia diangkat menjadi khalifah atas umat islam sesungguhnya dia tidak pernah memberikan apapun kepada saya baik satu dinar ataupun satu dirham..
Umar r.a.: Bagaimana Umar bisa tahu keadaanmu padahal kamu berada jauh dari keramaian kota?
Nenek : Subhanallah (Maha suci Allah) demi Allah saya tidak menyangka bahwa seorang yang diamanahi memimpin rakyat kemudian tidak tahu rakyat yang ada di bagian barat dan timurnya.
Umar pun menangis kemudian ia berkata: Aduuh Umar, setiap orang lebih mengerti darimu sampai nenek-nenek renta lebih faham dari kamu wahai Umar! Lantas Umar berkata: Wahai hamba Allah.
! Berapa dinar kau jual kedzoliman Umar terhadapmu ? Karena aku kasihan kalau dia masuk neraka .
Nenek : Jangan menghina kami !
Umar : Tidak, aku tidak menghina. Umar masih terus meminta sampai berhasil membeli kedzoliman Umar terhadap nenek itu dengan 25 dinar (uang emas). Setelah itu datanglah Ali r.a dan Abdullah bin Mas’ud r.a. seraya memberikan salam : Assalamu ‘alaika Yaa Amiral mukminin ! ( Asalamu ‘alaikum Wahai amirul mukminin.)
Si nenek lantas merasa malu dan kaget dengan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya seraya berkata: Waduh aku celaka! Saya menghina amirul mukminin di hadapannya.
Umar berekata: tidak mengapa wahai nenek ! kemudian beliau meminta sepotong kain dari si nenek namun tidak ada maka beliau menyobek kainnya dan menulis dalam sepotong kain itu sbb.: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah yang dibeli Umar dari nenek Fulanah berupa kedzoliman Umar terhadap si Fulanah sejak dia menjadi kholifah sampai hari ni dengan nilai 25 dinar.maka apa yang di dakwakan kelak pada hari mahsyar di hadapan Allah umar telah lepas dari kedzoliman itu. Dan Ali bin Abi tholib serta Abdullah bin Mas’ud menjadi saksi atas hal ini”
Kemudian Umar memberikan potongan kain itu kepada seorang anaknya seraya berkata: Bila aku mati letakkanlah kain ini di kafanku untuk bertanggung jawab menjumpai Rabbku” (Achmad Satori)
Apa yang dilakukan Umar ?
Nenek menjawab: Mudah-mudahan Allah membalas keburukannya karena menerlantarkanku.
Umar berkata: Kenapa demikian?
Nenek menjawab: demi Allah, Sejak dia diangkat menjadi khalifah atas umat islam sesungguhnya dia tidak pernah memberikan apapun kepada saya baik satu dinar ataupun satu dirham..
Umar r.a.: Bagaimana Umar bisa tahu keadaanmu padahal kamu berada jauh dari keramaian kota?
Nenek : Subhanallah (Maha suci Allah) demi Allah saya tidak menyangka bahwa seorang yang diamanahi memimpin rakyat kemudian tidak tahu rakyat yang ada di bagian barat dan timurnya.
Umar pun menangis kemudian ia berkata: Aduuh Umar, setiap orang lebih mengerti darimu sampai nenek-nenek renta lebih faham dari kamu wahai Umar! Lantas Umar berkata: Wahai hamba Allah.
! Berapa dinar kau jual kedzoliman Umar terhadapmu ? Karena aku kasihan kalau dia masuk neraka .
Nenek : Jangan menghina kami !
Umar : Tidak, aku tidak menghina. Umar masih terus meminta sampai berhasil membeli kedzoliman Umar terhadap nenek itu dengan 25 dinar (uang emas). Setelah itu datanglah Ali r.a dan Abdullah bin Mas’ud r.a. seraya memberikan salam : Assalamu ‘alaika Yaa Amiral mukminin ! ( Asalamu ‘alaikum Wahai amirul mukminin.)
Si nenek lantas merasa malu dan kaget dengan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya seraya berkata: Waduh aku celaka! Saya menghina amirul mukminin di hadapannya.
Umar berekata: tidak mengapa wahai nenek ! kemudian beliau meminta sepotong kain dari si nenek namun tidak ada maka beliau menyobek kainnya dan menulis dalam sepotong kain itu sbb.: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah yang dibeli Umar dari nenek Fulanah berupa kedzoliman Umar terhadap si Fulanah sejak dia menjadi kholifah sampai hari ni dengan nilai 25 dinar.maka apa yang di dakwakan kelak pada hari mahsyar di hadapan Allah umar telah lepas dari kedzoliman itu. Dan Ali bin Abi tholib serta Abdullah bin Mas’ud menjadi saksi atas hal ini”
Kemudian Umar memberikan potongan kain itu kepada seorang anaknya seraya berkata: Bila aku mati letakkanlah kain ini di kafanku untuk bertanggung jawab menjumpai Rabbku” (Achmad Satori)
1.7.11
Rencana itu terlalu halus untuk dideteksi secara dini oleh para pemimpin musyrik Quraisy.Tiba-tiba saja Makkah terasa lengang dan sunyi. Ada banyak wajah yang terasa perlahan-lahan enghilang dari lingkungan pergaulan. Tapi tidak ada berita. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang sedang terjadi dalam komunitas Muslim di bawah pimpinan Rasulullah SAW. Ini memang bukan rencana yang bisa dirahasiakan dalam waktu lama. Orang-orang musyrik Makkah akhirya memang mengetahui bahwa kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Tapi setelah proses hijrah hampir selesai. Maka gemparlah penduduk Makkah. Tapi. Sebuah episode baru dalam sejarah telah dimulai: sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara, dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya; sebuah agama telah menemukan “orang-orangnya”, setelah itu mereka akan menancapkan “bangunan peradaban” mereka.
Dari Gerakan Ke Negara
Written By Unknown on 1.7.11 | 1.7.11
Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Sebab yang berpijak di atas tanah adalah manusia maka di sanalah Islam pertama kali menyemaikan dirinya; dalam ruang pikiran, ruang jiwa, dan ruang gerak manusia. Tanah hanya akan menjadi penting ketika komunitas “manusia baru” telah terbentuk dan mereka membutuhkan wilayah teritorial untuk bergerak secara kolektif, legal, dan diakui sebagai sebuah entitas politik.
Karena tanah hanya merupakan persoalan kedua maka tidaklah heran bila pilihan daerah tempat hijrah diperluas oleh rasulullah SAW. Dua kali sebelumnya, kaum Musimin, dalam jumlah yang lebih kecil, berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), baru kemudian berhijrah keseluruhan ke Madinah. Tapi, ketika kaum Muslimin sudah berhijrah seluruhnya ke madinah, mereka yang sebelumnya telah berhijrah ke Habasyah tidak serta merta dipanggil oleh Rasulullah SAW. Mereka baru menyusul ke Madinah lima atau enam tahun kemudian.
Ketika mereka tiba di Madinah, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, kaum Muslimin baru saja memenangkan perang Khaibar, sebuah peperangan yang sebenarnya mirip dengan sebuah pengusiran, menyusul pengkhianatan kaum Yahudi dalam perang Khandaq. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak tahu dengan apa aku digembirakan oleh Allah; apakah dengan kemenangan dalam perang Khaibar atau dengan kedatangan Ja’far?”
Dari Gerakan Ke Negara
Hijrah, dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara. Tiga belas tahun sebelumnya, Rasulullah SAW melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis, di mana Islam menjadi jalan hidup individu; di mana Islam “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”. Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”, dan Madinah adalah wilayahnya.
Kalau individu membutuhkan aqidah maka negara membutuhkan perangkat sistem. Setelah komunitas Muslim menegara, dan mereka memilih Madinah sebagai wilayahnya, Allah SWT menurunkan perangkat sistem yang mereka butuhkan. Turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik, keamanan dan lain-lain. Lengkaplah sudah susunan kandungan sebuah negara: manusia, tanah, dan sistem.
Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah SAW sebenarnya relatif mirip dengan semua yang mungkin dilakukan para pemimpin politik yang baru mendirikan negara. Pertama, membangun infrastruktut negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antarkomunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas agama, antara sebagian komunitas “Quraisy” dan “Yatsrib” menjadi komunitas “Muhajirin” dan “Anshar”. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan negara melalui konsep Jihad fi Sabilillah.
Lima tahun pertama setelah hijrah kehidupan dipenuhi oleh kerja keras Rasulullah SAW beserta para shahabat beliau untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara Madinah. Dalam kurun waktu itu, Rasulullah SAW telah melakukan lebih dari 40 kali peperangan dalam berbagai skala. Yang terbesar dari semua peperangan itu adalah perang Khandaq, di mana kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi di sekitar Madinah karena semua peperangan sudah bersifat ekspansif. Negara Madinah membuktikan kekuatan dan kemandiriannya, eksistensinya, dan kelangsungannya. Di sini, kaum Muslimin telah membuktikan kekuatannya, setelah sebelumnya kaum Muslimin membuktikan kebenarannya.
Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahapan ini adalah menegakkan negara. Sebagai sebuah bangunan, negara membutuhkan dua bahan dasar: manusia dan sistem. Manusialah yang akan mengisi suprastruktur. Sedangkan sistem adalah perangkat lunak, sesuatu dengan apa negara bekerja.
Islam adalah sistem itu. Oleh karena itu Islam bersifat given. Tapi, manusia adalah sesuatu yang dikelola dan dibelajarkan sedemikian rupa hingga sistem terbangun dalam dirinya, sebelum kemudian mengoperasikan negara dalam sistem tersebut. Untuk itulah Rasulullah SAW memilih manusia-manusia terbaik yang akan mengoperasikan negara itu.
Selain kedua bahan dasar negara itu, juga perlu ada bahan pendukung lainnya. Pertama, tanah. Tidak ada negara tanpa tanah. Tapi, dalam Islam, hal tersebut merupakan infrastruktur pendukung yang bersifat sekunder sebab tanah merupakan benda netral, yang akan mempunyai makna ketika benda tersebut dihuni oleh manusia dengan cara hidup tertentu. Selain berfungsi sebagai ruang hidup, tanah juga merupakan tempat Allah menitip sebagian kekayaan-Nya yang menjadi sumber daya kehidupan manusia.
Kedua, jaringan sosial. Manusia sebagai individu hanya mempunyai efektifitas ketika ia terhubung dengan individu lainnya secara fungsional dalam suatu arah yang sama.
Itulah perangkat utama yang diberikan untuk menegakkan negara; sistem, manusia, tanah, dan jaringan sosial. Apabila ke dalam unsur-unsur utama itu kita masukkan unsur ilmu pengetahuan dan unsur kepemimpinan maka keempat unsur utama tersebut akan bersinergi dan tumbuh secara lebih cepat. Walaupun, secara implisit, sebenarnya unsur ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam sistem dan unsur kepemimpinan sudah masuk ke dalam unsur manusia.
Itulah semua yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama tiga belas tahun berdakwah dan membina sahabat-sahabatnya di Makkah; menyiapkan semua perangkat yang diperlukan dalam mendirikan sebuah negara yang kuat. Hasil dakwah dan pembinaan itulah yang kemudian tumpah ruah di Madinah dan mengkristal secara sangat cepat.
Begitulah transformasi itu terjadi. Ketika gerakan dakwah menemui kematangannya, ia menjelma jadi negara; ketika semua persyaratan dari sebuah negara kuat telah terpenuhi, negara itu tegak di atas bumi, tidak peduli di belahan bumu manapun ia tegak. Proses transformasi ini memang terjadi sangat cepat dan dalam skala yang sangat besar. Tapi, proses ini sekaligus mengajari kita dua hakikat besar: pertama, tentang hakikat dan tujuan dakwah serta strategi perubahan sosial. Kedua, tentang hakikat negara dan fungsinya.
Perubahan Sosial
Tujuan dakwah adalah mengejawantahkan kehendak-kehendak Allah SWT –yang kemudian kita sebut agama, tau syariah- dalam kehidupan manusia. Syariah itu sesungguhnya merupakan sistem kehidupan yang integral, sempurna, dan universal. Karena manusia yang akan melaksanakan dan mengoperasikan sistem tersebut maka manusia harus disiapkan untuk peran itu. Secara struktural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya, perubahan sosial harus dimulai dari sana; membangun ulang susunan keribadian individu, mulai dari cara berpikir hingga cara berperilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial ekonomi politik yang juga baru.
Begitulah Rasulullah SAW memulai pekerjaannya. Beliau melakukan penetrasi ke dalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang terbaik di antara mereka. Menjelang hijrah ke Madinah, beliau juga merekrut orang-orang terbaik dari penduduk Yatsrib. Maka terbentuklah sebuah komunitas baru di mana Islam menjadi basis identitas mereka, aqidah menjadi dasar ikatan kebersamaan mereka, ukhuwah menjadi sistem jaringan mereka, dan keadilan menjadi prinsip dstribusi sosial-ekonomi-politik mereka. Tapi, perubahan itu bermula dari sana; dari dalam individu, dari dalam pikiran, jiwa dan raganya.
Model perubahan sosial seperti itu mempunyai landasan pada sifat natural manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Perubahan mendasar akan terjadi dalam diri individu jika ada perubahan mendasar pada pola pikirnya karena pikiran adalah akar perilaku. Masyarakat juga begitu. Ia akan berubah secara mendasar jika individu-individu dalam masyarakat itu berubah dalam jumlah yang relatif memadai. Tapi, model perubahan ini selalu gradual dan bertahap. Prosesnya lebih cenderung evolusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11)
Fungsi Negara
Dalam konsep politik Islam, syariat atau kemudian kita sebut sistem atau hukum, adalah sesuatu yang sudah ada, given. Negara adalah institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem tersebut. Inilah perbedaan mendasar dengan negara sekuler, di mana sistem atau hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena hal tersebut sebelumnya tidak ada.
Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan-perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia. Dari bentuk negara kerajaan, parlementer, hingga presidensiil. Skala negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antarnegara, dari imperium besar ke negara bangsa, dan barangkali, yang sekarang jadi mimpi pemerintahan George W. Bush junior di Amerika: negara dunia atau global state. Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk.
Oleh karena itu semua merupakan variabel yang terus berubah, dinamis, dan tidak statis, maka Islam tidak membuat batasan tertentu tentang negara. Bentuk boleh berubah, tapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penerapan syariat Allah SWT. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; dari sistem khilafah ke kerajaan dan sekarang berbentuk negara bangsa dengan sistem yang beragam dari monarki, presidensiil, dan parlementer. Walaupun tentu saja ada bentuk yang lebih efektif menjalankan peran dan fungsi tersebut, yaitu sistem khilafah yang sebenarnya lebih mirip dengan konsep global state. Tapi, efektifitasnya tidaklah ditentukan semata oleh bentuk dan sistem pemerintahannya, tapi terutama oleh suprastrukturnya, yaitu manusia.
Namun demikian, kita akan melakukan kesalahan besar kalau kita menyederhanakan makna negara Islam dengan membatasinya hanya dengan pelaksanaan hukum, pidana dan perdata, serta etika sosial politik lainnya. Persepsi ini yang membuat negara Islam lebih berciri moral ketimbang ciri lainnya. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa syariat Allah itu bertujuan memberikan kebahagiaan kepada manusia secara sepurna; tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta rasa aman dan kesejahteraan hidup.
Hukum-hukum Islam dalam bidang pidana dan perdata sebenarnya merupakan sub-sistem. Tapi, dampak penerapan syariah tersebut pada penciptaan keamanan dan kesejahteraan hanya dapat muncul di bawah sebuah pemerintahan yang kuat. Hal itu bertumpu pada manusia. Hanya “orang kuat yang baik” yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan, bukan orang yang baik. Bagaimanapun, hanya orang kuat dan baik yang dapat menerapkan sistem Allah secara sempurna. Inilah makna hadits Rasulullah SAW “laki-laki mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada laki-laki mukmin yang lemah.”
Alangkah dalamnya penghayatan Umar bin Khattab tentang masalah ini ketika berdoa, “Ya Allah lindungilah kami dari orang yang bertaqwa yang lemah dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.” Inilah sesungguhnya misi gerakan Islam: melahirkan orang-orang baik yang kuat atau orang-orang kuat yang baik. [Anis Matta]
*Sumber : beritapks.com
Label:
Anis Matta,
Nilai Pancasila,
Taujih Tokoh
24.5.11

Indonesia telah kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Yoyoh Yusroh, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Empat hari sebelumnya, almarhumah yang juga merupakan fungsionaris DPP PKS ini sempat melakukan rekaman untuk salah satu kegiatan yang diadakan oleh PKS. Potongan dari rekaman tersebut telah diupload ke youtube dengan judul “Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah”. Redaksi dakwatuna.com mencoba menuangkan nasihat almarhumah dalam bentuk tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau Download Video disini : TaujihTerakhir Almarhumah Ustdz. Yoyoh Yusroh
*Nonton videonya lihat disumbernya : http://www.dakwatuna.com
Video Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah
Written By Unknown on 24.5.11 | 24.5.11
Ustz Yoyoh Yusroh
Indonesia telah kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Yoyoh Yusroh, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Empat hari sebelumnya, almarhumah yang juga merupakan fungsionaris DPP PKS ini sempat melakukan rekaman untuk salah satu kegiatan yang diadakan oleh PKS. Potongan dari rekaman tersebut telah diupload ke youtube dengan judul “Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah”. Redaksi dakwatuna.com mencoba menuangkan nasihat almarhumah dalam bentuk tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.
***Ikhwan
dan akhwat fillah, Alhamdulillah kita sebagai kader yang sudah berada
dalam jalan dakwah ini dengan susah senangnya – saya yakin senangnya
lebih banyak ya – susahnya ada, tapi kita berupaya untuk mengatasinya,
karena semua yang kita lakukan dalam jalan dakwah “argo”nya tetap jalan,
kita mendapatkan ridha Allah baik senang ataupun susah.
Dan kita
berupaya untuk selalu mengajak orang lain ke dalam jalan dakwah ini
dengan selalu mempertimbangkan sunnatullah. (Misalnya) bagaimana kita
menghargai. Sunnatullah itu ‘kan (contohnya) semua manusia ada yang
memiliki senioritas, ya kita hargai yang tua, kita sayangi yang muda,
kita hargai yang kaya, kita sayangi yang miskin. Kita tempatkan orang
sesuai dengan posisinya di masyarakat.
Kemudian kita berupaya
untuk selalu menjaga intergritas pribadi kita sebagai seorang muslim,
dengan misalnya kalau janji dengan orang lain kita tepati, kalau kita
mendapatkan sesuatu dari orang lain kita berupaya untuk membalasnya.
Kemudian
kita juga berupaya untuk – di manapun kita berada – kita adalah “on
mission”. Karena kita yakin “if we are realize that we are on mission,
we must keep the mission on”. Jadi kita selalu berupaya untuk menjaga
misi ini jangan sampai misi kita off, tapi misi kita selalu on. Kita
berada di manapun, di pemerintahan, sebagai legislatif, sebagai
eksekutif, sebagai profesional, sebagai apa pun kita adalah on mission
untuk menyampaikan risalah dakwah ini dan dakwah kita semakin banyak
diminati oleh orang lain dan kerja kita semakin ringan tentunya dengan
banyaknya pendukung-pendukung dakwah ini. ***
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau Download Video disini : TaujihTerakhir Almarhumah Ustdz. Yoyoh Yusroh
*Nonton videonya lihat disumbernya : http://www.dakwatuna.com
Label:
featured,
Taujih Tokoh,
Ustdz.Yoyoh Yusroh
18.5.11
Oleh : Cahyadi Takariawan
Seorang wanita muslimah menceritakan kesedihan hatinya karena dimarah-marahi oleh seniornya di organisasi dakwah. Wanita muslimah ini, sebut saja namanya Siti, dan seniornya itu juga seorang muslimah, sebut saja namanya Umi. Siti merasa sangat sedih dan kecewa, karena ia merasa telah melaksanakan dengan serius tugas-tugas kepanitiaan dalam sebuah acara dakwah yang digelar organisasi, namun justru mendapat kritik dan kemarahan Umi, seniornya.
Berbagai kekurangan dan kelemahan kepanitiaan, semua ditumpahkan dalam bentuk kemarahan oleh Umi kepada Siti. Tentu saja Siti mengetahui bahwa panitia memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, namun seakan-akan kerja keras dan usaha maksimal yang sudah dilaksanakan Siti bersama panitia yang lainnya tidak terlihat sama sekali di mata Umi. Yang tampak di mata Umi adalah adanya banyak kekurangan dan hal-hal tidak ideal yang ditampakkan oleh panitia.
Sebagai yunior, Siti tidak berani protes atas kemarahan Umi. Ia diam saja menerima kemarahan itu, dan menyimpan kepedihan yang mendalam dalam hatinya. Awalnya Siti bermaksud menyimpannya sendiri, namun lama kelamaan ia merasa tidak tahan. Akhirnya ia mulai membuka pembicaraan dengan seorang teman sesama panitia kegiatan tentang apa yang dialaminya. Betapa terkejut Siti, ternyata temannya itu juga mendapat kemarahan yang sama dari Umi. Bahkan akhirnya diketahui, bahwa Umi memarahi banyak panitia kegiatan. Tentu saja yang dimarahi itu semuanya merasa sakit hati.
Karena merasa tidak terima dimarahi, beberapa personil panitia curhat kepada seorang senior organisasi. Sebut saja namanya Dina. Siti bersama beberapa rekannya curhat kepada Dina tentang perlakuan Umi, dan mereka berharap Dina bisa menasihati Umi agar bersikap lebih sabar dan “ngemong” para yunior yang tengah belajar menjadi panitia kegiatan. Mereka toh sudah bekerja serius dan bersungguh-sungguh, bahwa masih dijumpai kekurangan itu sesuatu yang sangat manusiawi.
Dina merasa bingung. Satu sisi ia mengerti kegelisahan adik-adik yunior tersebut, namun sisi yang lain ia merasa kurang bisa membahasakan keinginan itu kepada Umi, rekan sejawatnya. Bagaimana Dina harus berbicara kepada Umi, sedangkan Umi sendiri secara terang-terangan bercerita dengan bangga, bahwa ia telah memarahi adik-adik panitia karena masih banyak kekurangan yang dijumpainya. Umi merasa perbuatannya itu benar, karena ia melihat sendiri kekurangan panitia kegiatan dan ia merasa wajib mengingatkan agar tidak berkelanjutan atau berulang.
Saya ajak anda menjadi Siti, dan saya ajak pula anda menjadi Umi. Menjadi Siti dulu saja ya…. Tempatkan diri anda sebagai Siti. Sebagai yunior, anda telah merasa “hebat” karena terlibat dalam kepanitiaan kegiatan dakwah yang termasuk kegiatan besar. Ingat, kepanitiaan itu tidak ada imbalan materi sama sekali, tidak digaji. Kepanitiaan itu adalah kerja sosial, kerja dakwah, kerja yang berharap pahala Allah semata-mata. Anda masih kuliah, dan tentu mengorbankan banyak waktu untuk melekasanakan amanah kepanitiaan. Waktu yang semestinya anda alokasikan untuk belajar, ke kampus, ke perpustakaan atau mengerjakan tugas di kamar kost, anda gunakan sepenuhnya untuk melaksanakan amanah kepanitiaan.
Ini pengalaman luar biasa bagi anda, karena bisa menjadi panitia kegiatan dakwah tingkat nasional. Anda bekerja habis-habisan, demi suksesnya acara. Berbulan-bulan lamanya menyiapkan kegiatan, dari rapat ke rapat, dari koordinasi ke aksi, dari pagi hingga sering pulang bermalam hari. Membagi tugas, mengatur strategi, menyusun rencana, membuat anggaran, sampai melaksanakan semua hal-hal teknis. Lelah sekali, namun anda nikmati. Hingga akhirnya jadwal kegiatan itu tiba. Semua telah bekerja dan menunaikan amanah sesuai rencana.
Di tengah-tengah kesibukan yang sangat padat, di tengah kelelahan yang mendera karena standby bekerja sebagai panitia berhari-hari lamanya, tiba-tiba seorang senior bernama Umi datang ke ruang sekretariat dan tanpa bertanya ini dan itu, tiba-tiba langsung keluar kata-kata kritik pedas dan menumpahkan kemarahan kepada anda. Umi menganggap panitia tidak becus mengelola kegiatan, banyak sekali kekurangan yang tampak di hadapan mata sehingga Umi merasa malu melihat kekurangan itu.
Sedih bukan main rasa hati anda. Sebagai yunior anda akan sangat senang dan bangga apabila Umi datang ke sekretariat untuk mengucapkan selamat atas kerja yang anda lakukan, walaupun hasilnya masih terdapat kekurangan. Namun Umi sama sekali tidak menyebut kebaikan dan apresiasi atas kerja keras panitia sama sekali. Yang diungkapkan hanya kekesalan dan kritik pedas kepada panitia yang dianggap tidak bisa bekerja sama. Sangat manusiawi jika anda merasa sedih, bahkan perasaan anda menjadi “down”, jatuh, karena tidak menyangka akan mendapatkan apresiasi sedemikian “nylekit” dari seorang senior.
Namun jangan terlalu sentimentil dan larut dalam kesedihan. Karena ada kalanya anak muda harus “ngemong” yang lebih tua, walaupun seharusnya seniorlah yang “ngemong” adik-adik yunior. Kelebihan Umi ada pada posisi senior, sehingga merasa memiliki saham sejarah atas segala sesuatu yang ada di organisasinya. Maka anda posisikan diri menghormati orang tua, menerima kritik dan kemarahannya, serta menjadikan itu sebagai masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Jangan menjadi kecewa dan bahkan putus asa, yang menyebabkan anda tidak mau lagi terlibat menjadi panitia kegiatan selanjutnya, atau tidak mau menjadi anggota organisasi dakwah, atau bahkan tidak mau berdakwah lagi. Anggap itu bagian dari ujian keikhlasan anda menapaki kegiatan dakwah. Jika anda sukses, insyaallah anda akan menjadi pejuang yang tangguh.
Sekarang saya ajak anda gantian menjadi Umi…. Tempatkan diri anda pada posisi Umi. Sebagai senior mestinya anda bersikap lebih dewasa dan bijak menghadapi realitas adik-adik yunior. Mereka adalah aset yang paling berharga dalam organisasi dakwah anda. Benar, tak ada aset yang lebih berharga dalam organisasi anda kecuali mereka, generasi muda penerus aktivitas dakwah. Kehadiran anda pada kegiatan mereka telah memberikan semangat dan energi luar biasa. Apalagi jika anda hadir sambil memberikan apresiasi positif atas jerih payah dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini. Tentu semangat para yunior akan bertambah menggelora.
Saat anda menyaksikan kekurangan dan kelemahan dalam kegiatan, jangan langsung anda tumpahkan dalam bentuk kemarahan kepada panitia pelaksana. Karena itu bercorak sangat reaktif, dan justru men-down grade senioritas anda. Tampak bahwa anda tidak mengetahui mekanisme organisasi. Bukankah nanti ada saat evaluasi kegiatan kepanitiaan, dan anda bisa menyampaikannya di forum evaluasi tersebut ? Bukankah saat kegiatan sedang berjalan, para panitia itu punya garis komando yang jelas. Siapa berhak menginstruksi dan siapa yang tidak berhak, itu semua ada mekanisme dan aturannya. Sebagai apakah anda waktu itu ? Apakah anda termasuk panitia kegiatan yang punya garis instruksi ? Bukankah anda “hanya” seorang senior yang kebetulan menyaksikan ada kekurangan dalam kepanitiaan. Mengapa bisa langsung intervensi ke panitia pelaksana ?
Aneh sekali perilaku anda sebagai senior. Ketahuilah, saat anda menumpahkan kemarahan kepada panitia pelaksana yang rata-rata adalah yunior anda, itu sangat melukai perasaan mereka. Bahkan bisa berpotensi membuat mereka kecewa dan akhirnya mundur dari organisasi dakwah yang anda rintis sekian lama. Adik-adik yunior itu diam saat anda marahi, bukan karena mereka menerima kritik dan kemarahan anda. Bukan karena mereka legowo, namun diamnya mereka semata-mata menghormati senioritas anda. Andai saja anda bukan orang senior, pasti kritik dan kemarahan anda yang tidak proporsional akan berbuntut panjang.
Harusnya anda menempatkan diri secara proporsional. Menjadi senior itu sulit, karena semua yang dilakukan telah menjadi acuan dan justifikasi para yunior. Tampakkan jiwa kedewasaan anda, mestinya anda menanamkan hikmah dan kebijaksanaan di hadapan generasi muda penerus kegiatan dakwah. Bukan menampakkan sikap kekanak-kanakan yang bisa menyakitkan hati dan perasaan kader yang baru saja bergabung dalam kegiatan di organisasi anda. Bukan menunjukkan posisi powerful yang anda miliki, menampakkan otoritas sebagai senior yang anda dapatkan dari aset sejarah. Mengapa tidak anda tampakkan saja sikap ramah dan membimbing generasi muda, agar mereka merasa semakin nyaman membersamai kegiatan organisasi ?
Anda telah salah memahami makna senior. Bukankah senior itu hanya karena anda lebih dahulu bergabung dengan organisasi dakwah, dan mereka disebut yunior karena bergabungnya belakangan ? Tidak ada jaminan bahwa senior lebih baik dan lebih berkualitas dari yunior, tidak ada kaidah yang membenarkan bahwa seorang senior berhak berlaku semena-mena dan berbuat semaunya terhadap yang muda. Senior itu hanya karena takdir sejarah, bahwa anda bergabung lebih awal daripada yang lainnya. Itu saja, jangan dilebih-lebihkan.
Bagaimana kalau menjadi Dina ? Anda jangan sungkan menyampaikan kepada Umi. Sebagai sahabat sejawat, satu generasi, anda harus berani menyampaikan aspirasi adik-adik yunior yang merasa disakiti hatinya. Sampaikan saja dengan bahasa yang tepat kepada Umi, bahwa tindakannya kepada Siti dan beberapa panitia kegiatan telah menyebabkan mereka tidak nyaman. Jika perilaku seperti itu menjadi kebiasaan, bahkan kebanggaan, akan berpotensi merusak tatanan organisasi. Anda harus membersamai Umi agar ia lebih arif serta bijak menempatkan diri dalam organisasi.
Nasihati Umi agar ia mengerti ketidaktepatan kemarahannya. Ajak Umi untuk meminta maaf kepada Siti, serta panitia pelaksana lainnya yang sempat mendapat kemarahan Umi. Permintaan maaf ini akan menyebabkan tumbuhnya cinta, kepercayaan dan penghormatan para yunior kepada senior mereka. Generasi muda akan melihat bahwa orang-orang tua bersedia meminta maaf kepada yang muda atas ketidaktepatan tindakan yang dilakukannya. Ini merupakan pembelajaran dan pendidikan yang sangat berarti bagi anak-anak muda. Umi tidak akan jatuh wibawa dan kehormatannya dengan meminta maaf, bahkan sebaliknya, tindakan itu akan menjadi awal respek dan penghormatan dari para yunior.
Sikap keras kepala dan tinggi hati yang ditampakkan Umi justru berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan kewibawaannya. Maka sebagai sesama senior, anda harus bisa meluruskan persepsi Umi. Setelah Umi bersedia meminta maaf, maka ajaklah Siti serta teman-teman panitia lainnya untuk tidak memperbesar masalah, untuk menganggap selesai masalah ini, dan tidak mengungkit lagi. Ajak Siti dan teman-teman panitia silaturahim ke rumah Umi untuk meminta nasihat dan tausiyah. Posisi anda sangat tepat untuk mengatur ini semua, karena Siti telah curhat kepada anda selaku senior organisasi.
Inilah rajutan hati dan ikatan perasaan dalam dinamika dakwah. Sebagian di antara kita ditakdirkan menjadi senior, sebagian yang lainnya menjadi yunior. Semata-mata karena sebagian telah lebih dahulu melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi, sedangkan sebagian yang lainnya baru bergabung belakangan. Maka menjadi senior harus sangat berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, karena semua akan menjadi acuan generasi muda. Diamnya para senior saja memiliki arti, apalagi kemarahannya.
Sebaliknya, sebagai yunior hendaknya banyak belajar dan menimba pengalaman dari generasi terdahulu. Jika ada perkataan, perbuatan dan tingkah laku generasi terdahulu yang tidak menetapi standar kebaikan, hendaknya anda tidak menjadikannya sebagai patokan. Anda berkewajiban untuk memberikan masukan, pengingatan, tausiyah dan kritik konstruktif dengan cara yang tepat dan tetap menghormati pihak yang lebih tua. Karena Siti merasa tidak mampu memberikan masukan dan pengingatan secara langsung, maka ia sampaikan itu kepada Dina agar bisa meneruskan kepada Umi. Ini contoh kebijakan dalam menyampaikan masukan dan saran. Bukan mendiamkan, namun menyalurkan melalui saluran yang tepat.
Semoga Allah kuatkan Siti dan rekan-rekannya di jalan dakwah. Semoga Allah ampuni Umi dan membimbingnya agar menjadi gudang hikmah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebijaksanaan kepada Dina sehingga menjadi qudwah. Amin.
Yogyakarta, 11 Mei 2011
*Sumber : namaku cahyadi takariawan
KISAH SITI, DINA DAN UMI
Written By Unknown on 18.5.11 | 18.5.11
Sebagian di antara kita ditakdirkan menjadi senior, sebagian yang lainnya menjadi yunior. Semata-mata karena sebagian telah lebih dahulu melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi, sedangkan sebagian yang lainnya baru bergabung belakangan. Maka menjadi senior harus sangat berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, karena semua akan menjadi acuan generasi muda. Diamnya para senior saja memiliki arti, apalagi kemarahannya.
Sebaliknya, sebagai yunior hendaknya banyak belajar dan menimba pengalaman dari generasi terdahulu. Jika ada perkataan, perbuatan dan tingkah laku generasi terdahulu yang tidak menetapi standar kebaikan, hendaknya anda tidak menjadikannya sebagai patokan. Anda berkewajiban untuk memberikan masukan, pengingatan, tausiyah dan kritik konstruktif dengan cara yang tepat dan tetap menghormati pihak yang lebih tua. Karena Siti merasa tidak mampu memberikan masukan dan pengingatan secara langsung, maka ia sampaikan itu kepada Dina agar bisa meneruskan kepada Umi. Ini contoh kebijakan dalam menyampaikan masukan dan saran. Bukan mendiamkan, namun menyalurkan melalui saluran yang tepat.
Ikuti kisahnya............
Seorang wanita muslimah menceritakan kesedihan hatinya karena dimarah-marahi oleh seniornya di organisasi dakwah. Wanita muslimah ini, sebut saja namanya Siti, dan seniornya itu juga seorang muslimah, sebut saja namanya Umi. Siti merasa sangat sedih dan kecewa, karena ia merasa telah melaksanakan dengan serius tugas-tugas kepanitiaan dalam sebuah acara dakwah yang digelar organisasi, namun justru mendapat kritik dan kemarahan Umi, seniornya.
Berbagai kekurangan dan kelemahan kepanitiaan, semua ditumpahkan dalam bentuk kemarahan oleh Umi kepada Siti. Tentu saja Siti mengetahui bahwa panitia memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, namun seakan-akan kerja keras dan usaha maksimal yang sudah dilaksanakan Siti bersama panitia yang lainnya tidak terlihat sama sekali di mata Umi. Yang tampak di mata Umi adalah adanya banyak kekurangan dan hal-hal tidak ideal yang ditampakkan oleh panitia.
Sebagai yunior, Siti tidak berani protes atas kemarahan Umi. Ia diam saja menerima kemarahan itu, dan menyimpan kepedihan yang mendalam dalam hatinya. Awalnya Siti bermaksud menyimpannya sendiri, namun lama kelamaan ia merasa tidak tahan. Akhirnya ia mulai membuka pembicaraan dengan seorang teman sesama panitia kegiatan tentang apa yang dialaminya. Betapa terkejut Siti, ternyata temannya itu juga mendapat kemarahan yang sama dari Umi. Bahkan akhirnya diketahui, bahwa Umi memarahi banyak panitia kegiatan. Tentu saja yang dimarahi itu semuanya merasa sakit hati.
Karena merasa tidak terima dimarahi, beberapa personil panitia curhat kepada seorang senior organisasi. Sebut saja namanya Dina. Siti bersama beberapa rekannya curhat kepada Dina tentang perlakuan Umi, dan mereka berharap Dina bisa menasihati Umi agar bersikap lebih sabar dan “ngemong” para yunior yang tengah belajar menjadi panitia kegiatan. Mereka toh sudah bekerja serius dan bersungguh-sungguh, bahwa masih dijumpai kekurangan itu sesuatu yang sangat manusiawi.
Dina merasa bingung. Satu sisi ia mengerti kegelisahan adik-adik yunior tersebut, namun sisi yang lain ia merasa kurang bisa membahasakan keinginan itu kepada Umi, rekan sejawatnya. Bagaimana Dina harus berbicara kepada Umi, sedangkan Umi sendiri secara terang-terangan bercerita dengan bangga, bahwa ia telah memarahi adik-adik panitia karena masih banyak kekurangan yang dijumpainya. Umi merasa perbuatannya itu benar, karena ia melihat sendiri kekurangan panitia kegiatan dan ia merasa wajib mengingatkan agar tidak berkelanjutan atau berulang.
Saya ajak anda menjadi Siti, dan saya ajak pula anda menjadi Umi. Menjadi Siti dulu saja ya…. Tempatkan diri anda sebagai Siti. Sebagai yunior, anda telah merasa “hebat” karena terlibat dalam kepanitiaan kegiatan dakwah yang termasuk kegiatan besar. Ingat, kepanitiaan itu tidak ada imbalan materi sama sekali, tidak digaji. Kepanitiaan itu adalah kerja sosial, kerja dakwah, kerja yang berharap pahala Allah semata-mata. Anda masih kuliah, dan tentu mengorbankan banyak waktu untuk melekasanakan amanah kepanitiaan. Waktu yang semestinya anda alokasikan untuk belajar, ke kampus, ke perpustakaan atau mengerjakan tugas di kamar kost, anda gunakan sepenuhnya untuk melaksanakan amanah kepanitiaan.
Ini pengalaman luar biasa bagi anda, karena bisa menjadi panitia kegiatan dakwah tingkat nasional. Anda bekerja habis-habisan, demi suksesnya acara. Berbulan-bulan lamanya menyiapkan kegiatan, dari rapat ke rapat, dari koordinasi ke aksi, dari pagi hingga sering pulang bermalam hari. Membagi tugas, mengatur strategi, menyusun rencana, membuat anggaran, sampai melaksanakan semua hal-hal teknis. Lelah sekali, namun anda nikmati. Hingga akhirnya jadwal kegiatan itu tiba. Semua telah bekerja dan menunaikan amanah sesuai rencana.
Di tengah-tengah kesibukan yang sangat padat, di tengah kelelahan yang mendera karena standby bekerja sebagai panitia berhari-hari lamanya, tiba-tiba seorang senior bernama Umi datang ke ruang sekretariat dan tanpa bertanya ini dan itu, tiba-tiba langsung keluar kata-kata kritik pedas dan menumpahkan kemarahan kepada anda. Umi menganggap panitia tidak becus mengelola kegiatan, banyak sekali kekurangan yang tampak di hadapan mata sehingga Umi merasa malu melihat kekurangan itu.
Sedih bukan main rasa hati anda. Sebagai yunior anda akan sangat senang dan bangga apabila Umi datang ke sekretariat untuk mengucapkan selamat atas kerja yang anda lakukan, walaupun hasilnya masih terdapat kekurangan. Namun Umi sama sekali tidak menyebut kebaikan dan apresiasi atas kerja keras panitia sama sekali. Yang diungkapkan hanya kekesalan dan kritik pedas kepada panitia yang dianggap tidak bisa bekerja sama. Sangat manusiawi jika anda merasa sedih, bahkan perasaan anda menjadi “down”, jatuh, karena tidak menyangka akan mendapatkan apresiasi sedemikian “nylekit” dari seorang senior.
Namun jangan terlalu sentimentil dan larut dalam kesedihan. Karena ada kalanya anak muda harus “ngemong” yang lebih tua, walaupun seharusnya seniorlah yang “ngemong” adik-adik yunior. Kelebihan Umi ada pada posisi senior, sehingga merasa memiliki saham sejarah atas segala sesuatu yang ada di organisasinya. Maka anda posisikan diri menghormati orang tua, menerima kritik dan kemarahannya, serta menjadikan itu sebagai masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Jangan menjadi kecewa dan bahkan putus asa, yang menyebabkan anda tidak mau lagi terlibat menjadi panitia kegiatan selanjutnya, atau tidak mau menjadi anggota organisasi dakwah, atau bahkan tidak mau berdakwah lagi. Anggap itu bagian dari ujian keikhlasan anda menapaki kegiatan dakwah. Jika anda sukses, insyaallah anda akan menjadi pejuang yang tangguh.
Sekarang saya ajak anda gantian menjadi Umi…. Tempatkan diri anda pada posisi Umi. Sebagai senior mestinya anda bersikap lebih dewasa dan bijak menghadapi realitas adik-adik yunior. Mereka adalah aset yang paling berharga dalam organisasi dakwah anda. Benar, tak ada aset yang lebih berharga dalam organisasi anda kecuali mereka, generasi muda penerus aktivitas dakwah. Kehadiran anda pada kegiatan mereka telah memberikan semangat dan energi luar biasa. Apalagi jika anda hadir sambil memberikan apresiasi positif atas jerih payah dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini. Tentu semangat para yunior akan bertambah menggelora.
Saat anda menyaksikan kekurangan dan kelemahan dalam kegiatan, jangan langsung anda tumpahkan dalam bentuk kemarahan kepada panitia pelaksana. Karena itu bercorak sangat reaktif, dan justru men-down grade senioritas anda. Tampak bahwa anda tidak mengetahui mekanisme organisasi. Bukankah nanti ada saat evaluasi kegiatan kepanitiaan, dan anda bisa menyampaikannya di forum evaluasi tersebut ? Bukankah saat kegiatan sedang berjalan, para panitia itu punya garis komando yang jelas. Siapa berhak menginstruksi dan siapa yang tidak berhak, itu semua ada mekanisme dan aturannya. Sebagai apakah anda waktu itu ? Apakah anda termasuk panitia kegiatan yang punya garis instruksi ? Bukankah anda “hanya” seorang senior yang kebetulan menyaksikan ada kekurangan dalam kepanitiaan. Mengapa bisa langsung intervensi ke panitia pelaksana ?
Aneh sekali perilaku anda sebagai senior. Ketahuilah, saat anda menumpahkan kemarahan kepada panitia pelaksana yang rata-rata adalah yunior anda, itu sangat melukai perasaan mereka. Bahkan bisa berpotensi membuat mereka kecewa dan akhirnya mundur dari organisasi dakwah yang anda rintis sekian lama. Adik-adik yunior itu diam saat anda marahi, bukan karena mereka menerima kritik dan kemarahan anda. Bukan karena mereka legowo, namun diamnya mereka semata-mata menghormati senioritas anda. Andai saja anda bukan orang senior, pasti kritik dan kemarahan anda yang tidak proporsional akan berbuntut panjang.
Harusnya anda menempatkan diri secara proporsional. Menjadi senior itu sulit, karena semua yang dilakukan telah menjadi acuan dan justifikasi para yunior. Tampakkan jiwa kedewasaan anda, mestinya anda menanamkan hikmah dan kebijaksanaan di hadapan generasi muda penerus kegiatan dakwah. Bukan menampakkan sikap kekanak-kanakan yang bisa menyakitkan hati dan perasaan kader yang baru saja bergabung dalam kegiatan di organisasi anda. Bukan menunjukkan posisi powerful yang anda miliki, menampakkan otoritas sebagai senior yang anda dapatkan dari aset sejarah. Mengapa tidak anda tampakkan saja sikap ramah dan membimbing generasi muda, agar mereka merasa semakin nyaman membersamai kegiatan organisasi ?
Anda telah salah memahami makna senior. Bukankah senior itu hanya karena anda lebih dahulu bergabung dengan organisasi dakwah, dan mereka disebut yunior karena bergabungnya belakangan ? Tidak ada jaminan bahwa senior lebih baik dan lebih berkualitas dari yunior, tidak ada kaidah yang membenarkan bahwa seorang senior berhak berlaku semena-mena dan berbuat semaunya terhadap yang muda. Senior itu hanya karena takdir sejarah, bahwa anda bergabung lebih awal daripada yang lainnya. Itu saja, jangan dilebih-lebihkan.
Bagaimana kalau menjadi Dina ? Anda jangan sungkan menyampaikan kepada Umi. Sebagai sahabat sejawat, satu generasi, anda harus berani menyampaikan aspirasi adik-adik yunior yang merasa disakiti hatinya. Sampaikan saja dengan bahasa yang tepat kepada Umi, bahwa tindakannya kepada Siti dan beberapa panitia kegiatan telah menyebabkan mereka tidak nyaman. Jika perilaku seperti itu menjadi kebiasaan, bahkan kebanggaan, akan berpotensi merusak tatanan organisasi. Anda harus membersamai Umi agar ia lebih arif serta bijak menempatkan diri dalam organisasi.
Nasihati Umi agar ia mengerti ketidaktepatan kemarahannya. Ajak Umi untuk meminta maaf kepada Siti, serta panitia pelaksana lainnya yang sempat mendapat kemarahan Umi. Permintaan maaf ini akan menyebabkan tumbuhnya cinta, kepercayaan dan penghormatan para yunior kepada senior mereka. Generasi muda akan melihat bahwa orang-orang tua bersedia meminta maaf kepada yang muda atas ketidaktepatan tindakan yang dilakukannya. Ini merupakan pembelajaran dan pendidikan yang sangat berarti bagi anak-anak muda. Umi tidak akan jatuh wibawa dan kehormatannya dengan meminta maaf, bahkan sebaliknya, tindakan itu akan menjadi awal respek dan penghormatan dari para yunior.
Sikap keras kepala dan tinggi hati yang ditampakkan Umi justru berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan kewibawaannya. Maka sebagai sesama senior, anda harus bisa meluruskan persepsi Umi. Setelah Umi bersedia meminta maaf, maka ajaklah Siti serta teman-teman panitia lainnya untuk tidak memperbesar masalah, untuk menganggap selesai masalah ini, dan tidak mengungkit lagi. Ajak Siti dan teman-teman panitia silaturahim ke rumah Umi untuk meminta nasihat dan tausiyah. Posisi anda sangat tepat untuk mengatur ini semua, karena Siti telah curhat kepada anda selaku senior organisasi.
Inilah rajutan hati dan ikatan perasaan dalam dinamika dakwah. Sebagian di antara kita ditakdirkan menjadi senior, sebagian yang lainnya menjadi yunior. Semata-mata karena sebagian telah lebih dahulu melakukan aktivitas dakwah dalam organisasi, sedangkan sebagian yang lainnya baru bergabung belakangan. Maka menjadi senior harus sangat berhati-hati dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, karena semua akan menjadi acuan generasi muda. Diamnya para senior saja memiliki arti, apalagi kemarahannya.
Sebaliknya, sebagai yunior hendaknya banyak belajar dan menimba pengalaman dari generasi terdahulu. Jika ada perkataan, perbuatan dan tingkah laku generasi terdahulu yang tidak menetapi standar kebaikan, hendaknya anda tidak menjadikannya sebagai patokan. Anda berkewajiban untuk memberikan masukan, pengingatan, tausiyah dan kritik konstruktif dengan cara yang tepat dan tetap menghormati pihak yang lebih tua. Karena Siti merasa tidak mampu memberikan masukan dan pengingatan secara langsung, maka ia sampaikan itu kepada Dina agar bisa meneruskan kepada Umi. Ini contoh kebijakan dalam menyampaikan masukan dan saran. Bukan mendiamkan, namun menyalurkan melalui saluran yang tepat.
Semoga Allah kuatkan Siti dan rekan-rekannya di jalan dakwah. Semoga Allah ampuni Umi dan membimbingnya agar menjadi gudang hikmah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebijaksanaan kepada Dina sehingga menjadi qudwah. Amin.
Yogyakarta, 11 Mei 2011
Label:
Taujih Tokoh,
Ust. Cah
8.5.11
3. Itu yg terjadi thn I Rasulullah di Madinah..pr sahabat memilih menghadang kafilah Abu Sofyan tp yg mrk hadapi adlh perang badar
4. “Kamu bharap pasukan yg tdk punya kekuatan yg kamu hadapi tp Allah hendak membenarkan kebenaran dgn kalimat2Nya..”
5. Lima tahun pertama saat pendirian negara Madinah Rasulullah telah berperang sebanyak 48 kali dan 5 thn terakhir sebanyak 20 kali
6. Jadi total pertempuran yg tlh dihadapi Rasulullah selama menegakkan negara Madinah adalah 68 kali..brp kali perbulan??
7. Dari total 68 kali pertempuran itu Rasululllah memimpin 28 kali diantaranya..itu semua mengokohkan posisi negara Madinah..
8. Syarat I menghadapi #tantangan adlh memperkuat hubungan dgn Allah sbb Dia yg mengatur permainan,Dia sumber ketenangan,keteguhan n keberanian
9. Syarat kedua menghadapi #tantangan adlh kelapangan dada dgn cara tdk mempersonalisasi masalah,tdk dendam dan tdk marah apalagi panik
10. Syarat ketiga menghadapi #tantangan adlh pemahaman yg menyeluruh thdp keseluruhan situasi dan llingkungan serta peta masalah yg jelas
11. Syarat keempat menghadapi #tantangan adalah soliditas organisasi dan pasukan yg memungkinkan semua rencana terlaksana dgn baik
12. Dgn keempat syarat itu kt punya lavarage utk mengubah #tantangan jd peluang..serangan jd bumerang bg lawan..
13. Jd #tantangan hrs kt pandang sbg berkah dan sumber kabaikan krn Allah menitipkan peluang di balik itu semua..
14. Jadi mari kita tersenyum dan menyambut tantangan sbg berkah yg akan melapangkan jalan kt utk tumbuh jd besar dan kokoh
15. Itu hanya setan,kata Allah,yg hendak menakut2i kamu dgn pembantu2nya”
16. Dgn semangat dan optimisme begitu kt hadapi semua #tantangan skrg kt mulai dgn menyiapkan nafas yg panjang..ini akan berlangsung lama
17. Supaya nafas kita panjang kt harus punya sumber keteguhan hati dan konsistensi yg tdk habis2
18. Selanjutnya kt hrs hemat energi..jgn bereaksi berlebihan..diam adalah kekuatan dlm banyak situasi
19. Yg memenangkan pertempuran bkn siapa yg membunuh lbh banyak tp yg bertahan hidup lbh lama
20. Mintalah ilham dr Allah dlm menghadapi #tantangan..krn ide2lah yg mengendalikan semua kerja dan gerakan kt
21. Kt jg hrs bekerja dgn penuh cinta dlm menghadapi #tantangan utk menjaga keseimbangan emosional kt..jgn pernah ada benci
22. Dlm sejarah manusia kebencian tdk pernah bisa mengalahkan cinta..sbb cinta memberi kt energi positif dan membuat kt nyaman hdpi
23. Ktk Ali hendak membunuh lawannya dlm sbh pertempuran tiba2 wajahnya diludahi..Ali tdk jd membunuh lawannya itu krn ia merasa benci#tantangan
24. Kt menang bukan krn kt berkuasa tp krn kebenaran jd nyata dalam kehidupan manusia..itu hanya mungkin krn cinta #tantangan
25. Cinta membuat kt menikmati hdp saat mhadapi #tantangan dan benci membuat org lelah bahkan dalam kenikmatan
26. Bekerja dgn cinta biasanya memudahkan turunnya ilham yg mendatangkan ide2 segar dan brilian dlm mhadapi #tantangan
27. Ide besar biasanya hanya membutuhkan uang kecil dan uang besar digunakan saat ide besar hilang
@anismatta Bercerita Tentang #tantangan Dalam Dakwah
Written By Unknown on 8.5.11 | 8.5.11
1. Tdk ada dakwah yg besar tanpa #tantangan besar..itu momentum yg disediakan Allah utk membesarkan dakwah..itu isyarat kemenangan
2. Scr naluriah kt pasti cendrung jalan mudah menuju kemenangan..tp jk Allah hendak memberi kt kemenangan besar Ia alihkan jalan kt3. Itu yg terjadi thn I Rasulullah di Madinah..pr sahabat memilih menghadang kafilah Abu Sofyan tp yg mrk hadapi adlh perang badar
4. “Kamu bharap pasukan yg tdk punya kekuatan yg kamu hadapi tp Allah hendak membenarkan kebenaran dgn kalimat2Nya..”
5. Lima tahun pertama saat pendirian negara Madinah Rasulullah telah berperang sebanyak 48 kali dan 5 thn terakhir sebanyak 20 kali
6. Jadi total pertempuran yg tlh dihadapi Rasulullah selama menegakkan negara Madinah adalah 68 kali..brp kali perbulan??
7. Dari total 68 kali pertempuran itu Rasululllah memimpin 28 kali diantaranya..itu semua mengokohkan posisi negara Madinah..
8. Syarat I menghadapi #tantangan adlh memperkuat hubungan dgn Allah sbb Dia yg mengatur permainan,Dia sumber ketenangan,keteguhan n keberanian
9. Syarat kedua menghadapi #tantangan adlh kelapangan dada dgn cara tdk mempersonalisasi masalah,tdk dendam dan tdk marah apalagi panik
10. Syarat ketiga menghadapi #tantangan adlh pemahaman yg menyeluruh thdp keseluruhan situasi dan llingkungan serta peta masalah yg jelas
11. Syarat keempat menghadapi #tantangan adalah soliditas organisasi dan pasukan yg memungkinkan semua rencana terlaksana dgn baik
12. Dgn keempat syarat itu kt punya lavarage utk mengubah #tantangan jd peluang..serangan jd bumerang bg lawan..
13. Jd #tantangan hrs kt pandang sbg berkah dan sumber kabaikan krn Allah menitipkan peluang di balik itu semua..
14. Jadi mari kita tersenyum dan menyambut tantangan sbg berkah yg akan melapangkan jalan kt utk tumbuh jd besar dan kokoh
15. Itu hanya setan,kata Allah,yg hendak menakut2i kamu dgn pembantu2nya”
16. Dgn semangat dan optimisme begitu kt hadapi semua #tantangan skrg kt mulai dgn menyiapkan nafas yg panjang..ini akan berlangsung lama
17. Supaya nafas kita panjang kt harus punya sumber keteguhan hati dan konsistensi yg tdk habis2
18. Selanjutnya kt hrs hemat energi..jgn bereaksi berlebihan..diam adalah kekuatan dlm banyak situasi
19. Yg memenangkan pertempuran bkn siapa yg membunuh lbh banyak tp yg bertahan hidup lbh lama
20. Mintalah ilham dr Allah dlm menghadapi #tantangan..krn ide2lah yg mengendalikan semua kerja dan gerakan kt
21. Kt jg hrs bekerja dgn penuh cinta dlm menghadapi #tantangan utk menjaga keseimbangan emosional kt..jgn pernah ada benci
22. Dlm sejarah manusia kebencian tdk pernah bisa mengalahkan cinta..sbb cinta memberi kt energi positif dan membuat kt nyaman hdpi
23. Ktk Ali hendak membunuh lawannya dlm sbh pertempuran tiba2 wajahnya diludahi..Ali tdk jd membunuh lawannya itu krn ia merasa benci#tantangan
24. Kt menang bukan krn kt berkuasa tp krn kebenaran jd nyata dalam kehidupan manusia..itu hanya mungkin krn cinta #tantangan
25. Cinta membuat kt menikmati hdp saat mhadapi #tantangan dan benci membuat org lelah bahkan dalam kenikmatan
26. Bekerja dgn cinta biasanya memudahkan turunnya ilham yg mendatangkan ide2 segar dan brilian dlm mhadapi #tantangan
27. Ide besar biasanya hanya membutuhkan uang kecil dan uang besar digunakan saat ide besar hilang
*)Sumber : Berita PKS.com
Label:
Anis Matta,
featured,
Taujih Tokoh
8.5.11

Dakwah di Lingkaran Kekuasaan
Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc
Dalam ayat ini disebutkan kalimat Walitundzira ummal qura: ‘agar kamu memberi peringatan kepada ummal qura’. Ummal Qura arti harfiahnya adalah ibukota atau penduduk ibukota. Wa man haulahaa dan sekitar ibukota. Di dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ummal qura’ itu haitsu yaskunuu fiihaa al-qadaatul muttaba’uun, dimana tinggal disana para pemimpin yang diikuti. Ini artinya Ibukota adalah pusat kekuasaan, pusat perubahan, dan pusat pengambil keputusan.
PERAN ADVOAKSI
Dakwah Harus Walitundzira Ummal Quraa’
Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc
Masuk dalam lingkaran kekuasaan adalah bagian penting dari misi dakwah. Allah SWT berfirman:
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا …. (الأنعام :٩٢)
Inilah Kitab (alquran) yang Kami turunkan; yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.
Dalam ayat ini disebutkan kalimat Walitundzira ummal qura: ‘agar kamu memberi peringatan kepada ummal qura’. Ummal Qura arti harfiahnya adalah ibukota atau penduduk ibukota. Wa man haulahaa dan sekitar ibukota. Di dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ummal qura’ itu haitsu yaskunuu fiihaa al-qadaatul muttaba’uun, dimana tinggal disana para pemimpin yang diikuti. Ini artinya Ibukota adalah pusat kekuasaan, pusat perubahan, dan pusat pengambil keputusan.
Dakwah harus walitundzira ummal quraa’ agar dapat mempengaruhi pusat kekuasaan dan pusat perubahan, serta men-shibghah (mewarnai) pusat-pusat pengambil keputusan. Kenapa mesti demikian? Jawabannya adalah karena Islam menginginkan perubahan yang sistemik bukan perubahan yang parsial dan tambal sulam. Jika kita menjauhi atau bahkan membenci perjuangan dakwah menuju pusat kekuasaan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan. Kita akan menjadi umat yang termarginalkan, tersisih, tidak berperan, dan tidak diperhitungkan. Umat hanya akan menjadi komoditi nonmigas di saat-saat pemilu dan pilkada, dan tidak menjadi umat yang menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam kondisi seperti ini perubahan sistemik tidak akan terjadi; betapapun rajinnya kita bekerja keras di tengah-tengah kaum fuqoro’ dan masaakin yang termarginalkan itu; betapapun kita kerja keras di tengah-tengah komunitas-komunitas yang tersisihkan. Gerak langkah perjuangan dakwah kita harus mencapai ummal qura’. Sehingga muara alur perjuangan di tengah-tengah rakyat dan di tengah-tengah pusat kekuasaan bertemu. Untuk menghasilkan perubahan dan pembaharuan yang sistemik, yang Insya Allah bermanfaat bagi semua.
Dalam ayat lain surat al-qashash ayat 59, disebutkan hal yang sama:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا (القصص :٥٩)
Dan tidak sekali-kali Allah tuhanmu Rabb-Mu membinasakan suatu negeri sehingga di ibukotanya dibangkitkan seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami.
Pengiriman Rasul sudah diakhiri dengan Muhammad SAW, akhirul anbiyaa’ wal mursalin. Tapi misi kerasulan tetap berjalan diwarisi oleh umatnya. Dan mudah-mudahan kita semua diakui oleh Allah SWT sebagai waratsatul anbiyaa ‘ wal mursalin. Yang mengemban risalah Islamiyah. Bukan hanya di tengah-tengah masyarakat, tapi juga fii ummiha. Yatluu ‘alaihim aayaatinaa di pusat-pusat kekuasaan, pusat kekuatan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan.
Kita –yatluu ‘alaihim aayaatinaa- membacakan ayat-ayat Allah; menyampaikan hidayah Allah, menyampaikan hidayah rasulullah. Sehingga Insya Allah bangsa dan Negara ini bisa berubah secara substantive, bisa berubah secara sistemik.
Kader Dakwah & Lembaga Legislatif
Kader dakwah harus masuk ke lembaga legislatif, walaupun ia tahu isinya macam-macam orang, macam-macam kepentingan, macam-macam ideologi, macam-macam kelakuan. Lembaga ini hendaknya dijadikan laboratorium pengembangan diri kader dakwah untuk menjadi rijalud daulah; menjadi negarawan dan negarawati.
PERAN ADVOAKSI
Selain itu, di lembaga legislatif kader dakwah hendaknya mempunyai peran advokasi; membela kepentingan rakyat, kepentingan dakwah, dan kepentingan umat. Mereka harus menjadi payung politik bagi seluruh aktivitas keislaman yang dilakukan oleh jama’ah, partai, ormas, dan yayasan manapun. Jangan pilih-pilih ormas ini – ormas itu, madzhab ini- madzhab itu, kecuali yang disepakati oleh ahli sunnah wal jama’ah sebagai kelompok yang sesat.
PERAN PENTERJEMAH
Kader dakwah di lembaga legislatif juga memiliki peran sebagai penterjemah. Sebagaimana kita ketahui, aturan-aturan, produk-produk legislative, undang-undang dasar, perundang-undangan, dan perda-perda, biasanya menggunakan kalimat-kalimat umum. Maka disinilah kader dakwah berperan menerjemahkan kalimat-kalimat umum itu untuk kepentingan Islam dan muslimin! Terjemahkanlah untuk kepentingan umat! Terjemahkanlah untuk kepentingan dlu’afa! Para kader dakwah harus menjadi mutarjimun ijaabiyyun (penterjemah positif) dari undang-undang, perda, dan produk-produk legislasi.
PERAN IRON STOCK
Berikutnya, para kader dakwah harus berperan sebagai iron stock dari umat ini. Kita membutuhkan kader-kader negarawan-negarawati yang siap mengelola supra struktur dan infra struktur Negara. Kita butuh kader-kader perjuangan Islam ini di semua level penyelenggara Negara. Para kader dakwah harus menjadi yang paling terdepan.
PERAN INVESTIGATIVE
Terakhir yang harus dicamkan para kader dakwah di lembaga legislatif adalah bahwa mereka memiliki peran investigative. Mata dan telinga mereka harus melihat dan mendengar lebih banyak tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dibanding kader dakwah yang berada di luar. Gali inforamasi, kenali sikap, agenda-agenda, juga kemungkinan adanya konspirasi-konspirasi yang akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara; merusak Islam dan muslimin, merusak dakwah atau mengancam dakwah.
*)Sumber : BeritaPKS.com
Label:
Taujih Tokoh,
Ust.Hilmi
24.4.11
HIDUP ADALAH SKENARIO ALLAH SWT
Written By Unknown on 24.4.11 | 24.4.11
Klu saja penguasa yang ada dipanggung kekuasaan itu mau membiarkan kita bekerja membangun umat secara tenang dan aman tanpa tekanan dan gangguan, maka kita mungkin hanya membutuhkan waktu 20 tahun untuk mengembalikan KEJAYAAN ISLAM. (Dr.Yusuf Al-qardhawi)
.....YANG SEKARANG KITA BUTUHKAN ADALAH BELAJAR MELAMPAUI MASA-MASA SULIT ATAS GANGGUAN DAKWAH ITU SENDIRI.....
Allah SWT hanya ingin melihat siapa diantara kita yang benar-benar jujur dengan keimanannya, jujur dengan kemauannya. sehingga ketika tiba saatnya Allah akan memberikan penilaian, maka saat itulah Dia akan memberikan kemenangan itu atau tidak, tergantung apa yang sudah kita upayakan. (Anis Matta)
.
Oleh karenanya satu-satunya jalan keluar untuk menyelesaikan permasalah umat ini atau BEKERJA... BEKERJA... DAN TERUS BEKERJA. BIARKAN ALLAH SWT YANG MENENTUKAN SIAPA YANG TERBAIK DAN KELUAR SEBAGAI PEMENANGNYA.
.....YANG SEKARANG KITA BUTUHKAN ADALAH BELAJAR MELAMPAUI MASA-MASA SULIT ATAS GANGGUAN DAKWAH ITU SENDIRI.....
Allah SWT hanya ingin melihat siapa diantara kita yang benar-benar jujur dengan keimanannya, jujur dengan kemauannya. sehingga ketika tiba saatnya Allah akan memberikan penilaian, maka saat itulah Dia akan memberikan kemenangan itu atau tidak, tergantung apa yang sudah kita upayakan. (Anis Matta)
.
Oleh karenanya satu-satunya jalan keluar untuk menyelesaikan permasalah umat ini atau BEKERJA... BEKERJA... DAN TERUS BEKERJA. BIARKAN ALLAH SWT YANG MENENTUKAN SIAPA YANG TERBAIK DAN KELUAR SEBAGAI PEMENANGNYA.
Label:
Taujih Tokoh



