Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Ayah Paling Bodoh Sedunia | Ang Tek Khun

Written By Unknown on 29.11.13 | 29.11.13

By : Ang Tek Khun
(Pemenang Lomba Kompasianival 2013

*****
"sikap rasialis dan diskrimatif sejatinya bukanlah sifat bawaan manusia Indonesia, melainkan sesuatu yang dipelajari atau diajarkan secara sengaja"

*****

Ajakan untuk menulis dalam rangka Kompasianival 2013 dengan ketentuan tema “mengekspresikan keindonesiaan versi Anda”, membuat saya terhuyung ke banyak tahun di belakang. Saya mengembuskan napas panjang dan teringat kalimat keluhan yang pernah saya ucapkan kala itu: Tidak mudah menjadi warga negara Indonesia.

Dilahirkan oleh pasangan orangtua yang lahir di sebuah desa di Indonesia, tidak membuat saya berhak menyandang status sebagai warga negara Indonesia. Saya harus menunda kelanjutan studi satu tahun untuk pulang kampung, menempuh jarak hampir 40 km berulang kali untuk ribet mengurus berbagai dokumen, sebelum puncaknya menyodorkan amplop berisi uang saat menjalani tes wawancara tentang keindonesiaan saya.

Di sebuah ruang cukup “mewah”, dengan tangan gemetar dan ucapan terbata-bata, saya menunaikan langkah terakhir sebelum menjalani seremonial sumpah untuk memperoleh secarik dokumen bukti kewarganegaraan Indonesia.
Oom saya yang membungkuskan uang itu dan mengajari saya harus bagaimana. Ia belajar dari pengalaman pribadi. Samar saya masih mengingat ucapannya, “Uang ini tidak banyak, kalau diterima, itu keberuntunganmu. Kalau ditolak, kau harus mengulang tes wawancara ini dengan amplop lebih tebal.”

Saya tidak tahu harus berkata apa. Padahal, saya sangat yakin mampu melewati tes wawancana ini. Saya hafal Pancasila, teks Proklamasi, dan lagu-lagu kebangsaan. Saya ikut Pramuka, terlibat dalam lomba gerak jalan sekolah setiap 17 Agustus. Bahkan saat merantau sekolah di Surabaya, saya ikut gerak jalan Mojokerto-Surabaya sepanjang 55 km dalam rangka Hari Pahlawan. Saya pun sudah lulus mengikuti penataran P4.
Alhasil, hari itu keberuntungan sedang berpihak pada saya. Tanpa sengaja, saya bercerita bahwa saya memiliki hobi menulis. Saya sedang belajar menulis apa saja dan di mana saja. Mading, buletin sekolah, majalah remaja, dan koran tertentu yang memiliki rubrik untuk remaja. Saya tak menyadari bahwa memang pejabat biasanya mencemaskan wartawan–karena memang saya bukan wartawan. Setelah saya bercerita demikian, tak ada pertanyaan yang harus saya jawab. Amplop tipis saya diterima dan saya dinyatakan lulus.

Usai menjalani sumpah di pengadilan, saya berpikir segala urusan akan selesai dan saya berhak menyatakan diri sebagai orang Indonesia. Namun ternyata saya harus memendam kekecewaan lebih dalam. Saya masih harus bersabar bagai menunggu Godot, menanti lebih dari satu tahun hingga dokumen kewarganegaraan saya selesai diproses di pusat dan mendapatkan keputusan presiden.
Itu terjadi lebih dari 20 tahun yang silam. Sebuah kisah yang masih lekat membekas dalam ingatan saya. Dalam versi sederhana, kala itu pengalaman ini saya tuliskan dan dimuat di majalah Hai semasa dalam asuhan Arswendo Atmowiloto.
* * *
Tidak mudah memang menjadi warna negara Indonesia. Langkah studi saya berhenti di SMA. Usai pulang kampung setahun, saya kembali merantau untuk menjalani kuliah. Dengan status masih Warga Negara Asing (WNA), saya ikut dalam rebutan jatah kursi kuliah 2% untuk mahasiswa asing dan wajib mengeluarkan biaya yang mencekik leher. Selama itu pula, saya hanya bisa gigit jari membaca pengumuman berbagai lomba menulis yang kala itu selalu mensyaratkan “peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI)”.

Saya tak ingin menyesali itu semua, termasuk sumber semua masalah yang berpangkal pada kenyataan bahwa saya adalah anak dari seorang ayah yang paling bodoh sedunia.
Almarhum ayah saya lahir di sebuah desa di pedalaman pulau Sulawesi. Posturnya ceking mirip Jokowi, kulitnya tak kalah legam. Sebagaimana anak-anak desa lainnya, ia bermain bersama siapa saja dan di mana saja–dari gunung hingga sungai hingga laut. Sekolahnya hanya sampai kelas tiga Sekolah Rakjat (SR) karena kondisi ekonomi. Dalam usia semuda itu, ayah saya harus bekerja serabutan dan memulung barang-barang bekas untuk diolah dan kemudian dijual. Di usia remaja, dengan bersepeda, ia masuk ke kampung paling dalam untuk membeli minyak kelapa dari penduduk dan menjualnya ke kota.

Jiwa sosial ayah saya tumbuh secara natural, membuat saya terkenang padanya saat mendengar kisah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentang ayahnya. Apabila bersepeda motor ke pedalaman untuk mengurus kebun miliknya, ayah selalu menyempatkan diri untuk berhenti di warung kopi di sebuah desa untuk sekadar bercakap-cakap dan mengetahui kondisi mereka. Apabila dalam perjalanan itu dijumpainya sayur atau pisang tergantung di rumah penduduk untuk dijual, ia selalu berhenti dan mampir untuk membelinya. Tidak selalu jualan itu lebih murah, namun ayah selalu membelinya. Di kemudian hari saya paham, ayah sedang bermaksud menebus jualan itu dengan uang tunai agar warga desa itu tidak perlu menempuh jalan jauh menggunakan gerobak atau berjalan kaki untuk menjualnya di pasar.

Tak ada wacana apa pun tentang keindonesian di benaknya, karena memang demikianlah hidupnya sehari-hari. Demikian juga dengan para penduduk setempat, mereka tidak pernah melihat perbedaan pada diri ayah saya. Ini semua membuat saya yakin bahwa sikap rasialis dan diskrimatif sejatinya bukanlah sifat bawaan manusia Indonesia, melainkan sesuatu yang dipelajari atau diajarkan secara sengaja.
Waktu kemudian berlalu, hingga ayah saya menjelma menjadi ayah paling bodoh sedunia. Ia tak pernah menyadari bahwa kelak anak-anaknya akan bertambah besar dan harus bersekolah dengan membawa secarik dokumen bukti sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Ia tak pernah menggubris untuk mengurus dokumen ini karena ia tak pernah merasa dirinya orang asing. Padahal, apabila ayah mau mengurusnya, maka ke-4 anaknya akan secara otomatis mengikuti status orangtuanya sebagai WNI. Akibatnya, satu per satu anaknya melewati usia 17 tahun, dan harus mengurusnya sebagai secara terpisah.
* * *
Cukup lama saya merasa sakit hati dan menyesali kebodohan ayah saya yang berimbas pada derita saya dalam menjalani status WNA. Namun di kemudian hari saya menyadarinya, bukankah demikian seharusnya sikap setiap insan yang melekat dan menjadi bagian sah dari bangsa ini. Tak seharusnya status warga negara Indonesia seseorang diletakkan pada secarik kertas berkop Sekretariat Negara dan ditandatangani oleh presiden.
Itulah sebabnya, saat lelah dalam penantian dan dokumen sakti tersebut akhirnya saya terima, saya sudah terlalu lelah untuk mengurus dokumen penggantian nama saya. Biarlah nama saya tetap begini–dengan segala konsekuensinya. Lebih baik kelelahan saya ditukar dengan kelelahan dalam berkarya untuk bangsa ini, untuk negeri ini. Untuk bangsa dan negeri yang dicintai oleh almarhum ayah saya dengan tanpa kata-kata.

Belajar Dari Sebuah Pensil

Written By Unknown on 27.11.13 | 27.11.13

Apa yang ada dalam fikiranmu Setelah Melihat Pensil…??
Dapatkah kamu mengambil pelajaran dari sebuah pencil yang sering kita gunakan ..??
Bila ingin tahu maka bacalah nasehat nenek yang cerdik ini tentang,
” HIKMAH SEBUAH PENCIL “

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
pertama:
pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
**
Pensil dituntun oleh tangan,
Jadikan penuntun Kita adalah Allah Swt
kedua:
dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
ketiga:
Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
**
Penghapus selalu membenarkan kata kata kita dengan menghapus tulisan yg salah.
Kita juga harus mendengar nasehat orang lain apabila kita salah dan segera introspeksi diri.
keempat:
bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
Dalam hal ini yg ada dalam diri kita adalah hati dan nafsu, akal dan fikiran dan semua yg berasal dari dalam diri kita. Harus selalu kita kendalikan.
kelima:
sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
**
kita pun demikian , apa yang kita perbuat akan meninggalkan goresan baik atau buruk yang nantinya akan di hisab,
maka berhati hatilah akan setiap goresan yg kita perbuat.

Refleksi 100 Hari Pembantaian Rabi'ah

Genap 100 hari sudah Militer Mesir membantai para demonstran damai yang mendukung legitimasi di kawasaran Rab’ah, Kairo, 14 Agustus 2013. 

Mereka adalah representatif dari sebagai besar rakyat Mesir, yang tidak rela demokrasi negerinya dicabik-cabik oleh kudeta militer. Peristiwa ini menjadi bagian dari sejarah hitam negeri Piramida itu, karena lebih dari 2000 orang meninggal akibat pembantaian yang direstui oleh pemerintahan butan kudeta militer.
Sejak penggulingkan terhadap presiden terpilih, Muhammad Mursi pada tanggal 3 Juli 2013 oleh militer, Mesir yang semula naik daun menjadi negeri yang demokratis paska revolusi 25 Januari, tiba-tiba posisnya kini berbalik 180 derajat, bahkan lebih tragis dari pada era diktator Husni Mubarok.
Militer yang menjadi aktor kudeta terhadap pemerintahan sipil, dengan dukungan kaum “agamawan,” sekuler dan liberal, bergerak atas dasar kebencian menghakimi Ormas Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM). IM merupakan gerakan Islam fenomenal yang lahir dari rahim Mesir pada tahun 1928. Gerakan ini mampu bertahan di bawah rezim dikatator selama puluhan tahun, dan dapat memenangkan pemilu demokratis di Mesir paska revolusi 25 Januari. IM terus digiring oleh militer sebagai musuh bersama, berbagai cara mereka tempuh untuk melengserkan presiden terpilih Muhammad Mursi yang merupakan kader dari sayap pollitik IM, Freedom and Justice Party. Indikasi kebencian ini menguat paska disembunyikannya Mursi oleh militer, tak lama setelah itu satu-persatu tokoh IM di Mesir ditangkap dengan tuduhan yang mengada-ngada.
Bukan hanya mereka yang tercatat dalam struktur organisasi IM saja yang ditangkap. Namun juga semua pihak yang menentang kudeta, maka diposisikan sebagai pendukung IM, tak peduli siapa dan apapun latarbelakangnya. Bahkan belakangan, mereka menangkap para atlit yang mengangkat simbol Rab’ah dengan jarinya di tengah pertandingan internasional. Mereka juga menyematkan simbol teroris terhadap gerakan IM, provokator dan puncaknya sebagai organisasi terlarang.

Militer Vs Mahasiswa
Entah sudah berapa puluh ribu rakyat Mesir yang tewas diujung peluru tentaranya sendiri. Militer tidak lagi memberikan rasa aman terhadap warganya, namun justru menjadi sumber penyebar teror. Bukan lagi menjaga negerinya dari ancaman Zionis Israel dan pemberontak di propinsi Sinai, namun lebih memilih sibuk menangkapi rakyat yang menentang langkah kudeta mereka.
Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan militer ke asrama mahasiswa Al-Azhar di Nasr City, Kairo. Hingga berujung dengan tewasnya kurang lebih 3 mahasiswa dan melukai ratusan lainnya. Peristiwa ini tentu telah mencoreng dunia akademik di Mesir. Terlebih asrama yang diserbu oleh aparat ini adalah asrama mahasiswa berprestasi. Mereka adalah orang-orang pilihan yang menjadi tumpuan harapan masa depan bangsa Mesir.

Apa yang dilakukan militer Mesir ini memperkuat indikasi semakin pendeknya usia kudeta mereka. Sejarah mencatat, perubahan atau bahkan perlawanan sangat efesien dilakukan oleh para mahasiswa. Disamping energik dengan usia muda, mereka juga kaum terpelajar, yang tidak gegabah dalam bertindak, dan tak pantang  mundur ketika telah memiliki tekad. Serangan ke kampus dan juga asrama Al-Azhar, telah membuat murka seluruh mahasiswa. Universitas Al-Azhar bukan hanya berada di Kairo, tapi juga memilik cabang di propinsi-propinsi Mesir, sontak mereka yang di daerah pun turun ke jalan memprotes penyerangan terhadap rekannya ini. Solidaritas juga dilakukan oleh mahasiswa asal kampus luar Al-Azhar, yang akhirnya memperkuat barisan para pemuda.

Terbukti kendati PM. Kudeta Mesir, Adil Manshour telah menetapakan UU Demonstrasi, para mahasiswa tidak mengindahkan larang-larang UU tersebut. Pasal yang ditetapkan jelas memiliki agenda terselubung, yang secara garis besar melarang segala bentuk demonstrasi yang menentang pemerintahan kudeta. Apabila paska revolusi 25 Januari setiap rakyat Mesir diberikan kebebasan menyampaikan aspirasinya, maka hal ini tidak berlaku di era kudeta. Pemerintah kudeta telah merampas hak dari rakyatnya untuk bersuara. Alhasil Mesir saat ini tengah diseret untuk kembali ke belakang, dan kita yang berada di luar lingkaran mereka, akan menyaksikan siapa rakyat Mesir yang akan hidup sebagai pejuang atau pecundang di hadapan otoritas kudeta Mesir. (Al-Intima)


Nilai perjuangan Seorang Ibu (GRATISSSS)

Written By Unknown on 28.7.11 | 28.7.11

foto(Rina Kusuma Wardhani)
Ini adalah mengenai Nilai Kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke Warung: Rp 20.000
2) Menjaga adik Rp 20.000 
3) Membuang sampah Rp 5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp 10.000
5) menyiram bunga Rp 15.000 
6) Menyapu Halaman Rp 15.000
Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar.
Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan - GRATIS 
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu - GRATIS 
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu- GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu - GRATIS 
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar"

Agar Motivasi Tetap Tinggi

Written By Unknown on 22.7.11 | 22.7.11

Bila kalian mengubah Pikiran kalian,
Berarti sedang mengubah Keyakinan diri kalian,
Mengubah diri, berarti sedang mengubah Harapan-harapan,
Mengubah harapan, berarti mengubah Sikap,
Mengubah sikap, berarti mengubah Tingkah laku,
Mengubah tingkah laku, berarti mengubah Kinerja,
Mengubah kinerja, berarti mengubah Nasib,
Mengubah nasib, berarti MENGUBAH HIDUP.

Siapa yang tidak ingin memiliki motivasi tinggi dalam hidup ini? Tanpa menjawab pun semua mau. betul...betul...betul. tapi masalahnya gan..gmana caranya agar yang namanya motivasi itu tetap berada dilevel TOP. kayak mesin aja...Top Engine. Nich ada beberapa kiat yang bisa kita praktikkan. langung ke TeKaPe...

  1. Cari lingkungan or teman yang semangat, energij,dan bermotivasi tinggi.Ini sangat penting karena kita adalah anak dari lingkungan dimana kita berada. kalo ingin bermotivasi, sebaiknya cari lingkungan-lingkungan mendukung dan hindari berteman dengan pemalas yang tidak punya tujuan hidup. (Nah...point satu ini khusus yang masih masuk kategori belum punya motivasi. bagi yang sudah punya boleh dimana saja asal dengan tujuan ingin memderdayakan si lingkungan tadi serta si pemalas itu agar bisa termotivasi seperti ditinya). lanjut....
  2. Baca buku atau tulisan yang berisi motivasi. Ini bisa membangkitkan semangat kita karena dengan membaca setidaknya ada kekuatan tersendiri untuk melakukan apa yang kita baca. luangkan waktu barang 5-10 menit perhari untuk membaca buku-buku atau tulisan-tulisan motivasi. lanjut gan...
  3. Ikuti acara-acara yang bisa membangkitkan motivasi diri. mengikuti acara-acara seperti diskusi motivasi, seminar motivasi, memberikan penyegaran tersendiri. Biasanya setelah mengikuti acara-acara tersebut kita seperti hidup kembali.
  4. Jangan lihat kelemahan tapi lihatlah potensi dan kelebihan kita. Melihat motivasi dan kelebihan yang kita miliki, menjadikan kita makin termotivasi dan optimis untuk menjadi lebih baik. Ini menjadikan kita sebagai manusia yang paling beruntung sehingga menimbulkan rasa syukur.
  5. ikuti training-training motivasi. Mengikuti pelatihan motivasi bisa menjadikan kita lebih termotivasi, merasa fresh lagi. Paling tidak kita akan mendapatkan wawasan dan kiat untuk memotivasi diri agar tidak mudah kena 3L
  6. Bergabunglah dengan organisasi yang didalamnya terdapat persaingan sehat, didukung SDM berkualitas dan berorientasi masa depan. Organisasi yang ber SDM tinggi biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki motivasi hidup tinggi. Bergabung dan aktif organisasi dengan orang-orang demikian menjadikan diri "tertular" motivasi.
  7. Tuliskan kata-kata atau slogan yang bisa menggugah semangat. Ini bisa kita lakukan agar selalu bersemangat dalam menghadapi hidup. tulis kata-kata pemggugah semangat untuk lebih memotivasi kita. bisa kita ambil dari ayat-ayat Al-Qur'an, hadits, slogan, kata-kata kita sendiri, tokoh besar atau dari buku-buku motivasi. Sttttttt...Hal inipun banyak dilakukan tokoh-tokoh terkenal.
  8. Jangan sekali-kali meremehkan diri kita. setiap kita memiliki potensi yang unik. masing-masing orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Focuskan pada kelebihan kita dan jangan sekali-kjali meremehkan diri kita. tapi kita berpotensi dan berpeluang sama menjadi ORANG SUKSES. (bersambung....)
*by admin yang dikutip dari buku getbigspirit

Air Mata Abu Bakar As Shiddiq

Written By Unknown on 20.6.11 | 20.6.11



Sosok Abu Bakar as-shiddiq misalnya, beliau memang telah dikenal sebagai sahabat yang lembut hatinya. Aisyah, putrinya sendiri kurang mendukung saat Rasulullah SAW akan menunjuk ayahnya menjadi imam sholat. Alasannya, Abu Bakar kalau menjadi imam, maka para makmum tidak akan mendengarkan bacaannya karena tertutupi tangisannya. 

Abu Bakar adalah lelaki yang lembut hatinya. Suatu ketika pada masa kekhalifahannya,  beliau berkumpul dengan beberapa sahabat. Kemudian tak lama kemudian dihidangkan kepada beliau minuman berupa air yang dicampur dengan madu. Tiba-tiba beliau menangis tersedu-sedu hingga mengagetkan para sahabat di sekitarnya. Mereka pun ikut menangis bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah mereka berhenti menangis, ternyata khalifah yang mulia itu masih terus menangis. Hingga akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertanya : " Wahai khalifah, apa yang membuatmu menangis ? ". Maka sang khalifah pun menyeka air matanya dan berujar lirih, " Aku mengingat kejadian saat bersama Rasulullah SAW, aku melihat beliau seperti mendorong, menolak-nolak sesuatu padahal kala itu beliau sendirian. Maka aku bertanya : Apa yang engkau tolak wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Ini adalah dunia yang mewujudkan dirinya untuk menggodaku, maka aku katakan kepadanya : Menjauhlah dariku ! Maka dunia itu pergi menjauh lalu ia kembali dan mengatakan padaku," Sesungguhnya meski engkau lolos dariku, tetapi orang-orang setelahmu belum tentu akan selamat dariku! ". 

Astagfirullahal adzim, semoga kita senantiasa mampu mengingat akhirat  agar senantiasa lembut hati kita, agar lebih khusyuk ibadah dan munajat kita. 

*Sumber : indonesiaoptimis

AKTIFIS YANG SIAP JADI QIYADAH ATAU JUNDI

Written By Unknown on 21.5.11 | 21.5.11


”Banyak orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad.Perseteruan al haq dengan al bathil, seperti sabda Rasulullah akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Front (medan) pertarungan itu mencakup seluruh isi kehidupan. Dan perseteruan itu juga terjadi pada pendukung al haq dan al bathil. Budaya permissive dengan segala turunannya ( laki-laki beranting, wanita ber-rok mini, makan minum berdiri dll ) dilawan dengan budaya sunnah ( lelaki berjanggut dan para perempuan menggunakan jilbab ), system ekonomi ribawi versus system ekonomi tanpa riba (bagi hasil). Pendeknya, seperti kata as syahid sayyid qutb dalam ma’alim fi at thariq, “tak akan ada persentuhan (perdamaian) antara al haq dan al bathil pada satu  titik pun”.

Dan karakteristik pertarungan antara al haq dan al bathil, meminjam istilah ilmuwan social, seperti dua kelompok yang sedang memainkan permainan tarik tambang. Kendor sedikit, kerugian yang dialami salah satu pemain tak bisa dibayangkan. Karena itu, tidak hanya amal yang mesti dipersiapkan oleh para aktivis. Namun juga konsistensi dan komitmen untuk beramal terus menerus dengan kualitas yang tinggi.

Inilah yang diminta imam syahid hasan al banna tatkala ia berkata,”banyak orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad. Artinya, yang diminta dari kita tak sekedar amal ( QS.At Taubah : 105 ) tapi juga konsistensi dan kualitas amal. Seperti dalam Al qur’an surat al-anfaal ayat ke-60, yang mampu menggetarkan semua musuh2 Allah.

Untuk itu, seorang aktivispun tak boleh lengah dalam permainan tarik tambang tadi. Kelemahan pada aktivitas bisa menular pada yang lain. Disinilah pentingnya seorang pemimpin. Agar kordinasi dan komando dapat berlangsung efektif. Dan tiap aktivis harus selalu siap menjadi satu diantara dua : menjadi qiyadah atau jundiyah.

Kadang kesiapan menjadi qiyadah lebih mudah dilaksanakan. Namun menyiapkan diri untuk tho’at, disiplin dan siap diperintah (menjadi jundi) terkadang jauh lebih sulit. Kita lebih ingin mengatur ketimbang diatur. Padahal menjadi jundi yang baik sama besar perannya dan kontribusinya dengan menjadi pemimpin yang baik.

Kepemimpinan dan keprajuritan dalam permainan tarik tambang tadi sangatlah menentukan. Dengan kordinasi inilah bisa dilakukan pembagian tugas yang adil dan mempertimbangkan berbagai kondisi yang melingkupi semua peserta. Jika yang satu lelah akan diketahui dan digantkan perannya oleh yang lain sesegara mungkin. Karena keterlambatan dalam mengambil sikap dan keputusan dalam permainan tarik tambang bisa berakibat bobolnya pertahanan tim secara keseluruhan.

Permainan tarik tambang ini, suatu saat pasti akan dimenangkan para prajurit Allah, sebagaimana janji Allah:” dan prajurit Allah-lah yang akan menang .. ( QS. Al Maidah : 56 ). Tinggal masalahnya sekarang adalah, sudahkah karakteristik jundullah sudah ada dalam diri kita ?.
WaAllahu ‘Alam

*)Sumber : Klik disini

Margin Error Kaderisasi

Written By Unknown on 5.5.11 | 5.5.11


Seorang pemuda yang suka mengikuti perkembangan harakah Islam di Indonesia menanyakan, "Mengapa harakah Islam yang terkenal dengan sistem kaderisasinya yang ketat, sampai 'kecolongan' dengan adanya beberapa 'kasus' yang mencuat di media?"

"Mengapa sampai ada kader senior yang bermasalah, lalu terkesan begitu berambisi untuk menghantam harakah?", katanya menjelaskan maksud pertanyaannya. Ia juga memberikan contoh lain untuk kasus yang berbeda. Berbeda, namun bertemu pada satu muara; tidak mencerminkan muwashafat yang telah ia baca.

Ketika pemuda ini ikut hadir dalam milad Ahad lalu, ia mendapatkan jawaban. Seorang ustadz mengutip salah satu qiyadah harakah mengistilahkan: "margin error kaderisasi".

Margin error kaderisasi adalah istilah yang cukup unik. Mengingatkan kita pada penelitian kuantitatif, khususnya survei. Istilah margin of error di sana berarti statistik yang menyatakan jumlah kesalahan dalam pengambilan contoh. Margin error di sini berarti kemungkinan kesalahan atau gagal bina dalam proses kaderisasi.

Proses kaderisasi yang dilakukan oleh harakah Islamiyah bukanlah sebuah proses sempurna yang mampu menjamin keseluruhan kader yang dibina akan "lulus" dengan “cumlaude”. Atau semuanya memiliki muwashafat seperti yang seharusnya.

Jangankan kaderisasi dalam harakah yang para murabbinya adalah manusia biasa, hidup di dalam naungan keluarga nabi pun tidak menjamin seseorang lantas mencapai kesempurnaan iman. Allah SWT mencontohkan dua orang: istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh.

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua hamba yang shalih diantara hamba-hamba Kami. Lalu, kedua istri itu berkhianat kepada suaminya.” Demikian Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat kesepuluh.

“Yang ditetapkan dalam riwayat tentang pengkhianatan istr Nuh dan istri Luth,” kata Sayyid Quthb dalam Fi Zilal, “adalah pengkhianatan dalam dakwah dan bukanlah pengkhianatan keji berupa penyelewengan seksual.”

Demikian pula kaderisasi yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya. Bukan berarti bebas sama sekali dari “margin error”. Pasca peristiwa Isra’ Mi’raj misalnya. “Orang-orang yang tadinya telah masuk Islam,” tutur Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya, “banyak yang menjadi murtad.”

Sirah nabawiyah juga mencatat satu nama khusus yang sebelumnya termasuk assaabiquunal awwaluun, namun kemudian murtad. Dialah Ubaidillah bin Jahsy.

Ibarat pendirian bangunan, sering kali ada “batu bata jelek” pada temboknya, seperti pada renungan sebelumnya. Demikian pula kaderisasi dalam harakah pasti tidak bebas sama sekali dari margin error ini. Namun jika dua batu bata yang jelek, sedangkan 998 bata lainnya bagus, mestinya kita tidak berfokus pada dua batu bata lalu mengatakan bahwa yang ada hanyalah tembok rusak.

Diantara 1000 kader, jika 2 atau 3 orang yang menyimpang, margin error-nya 0,2-0,3% itu tergolong wajar. Diantara seribu pejabat publik atau wakil rakyat, lalu ada satu atau dua yang bermasalah, barang kali demikianlah “margin error”-nya. Tentu saja kesalahan yang kedua menjadi jauh lebih berpengaruh dari kesalahan kader biasa.

Bukan berarti harakah sekedar memaklumi kekurangan. Tidak pula harakah berhenti melakukan perbaikan. Meskipun “margin error” tidak bisa dihilangkan sama sekali, ia harus ditekan hingga sekecil-kecilnya. Jika dipahami bahwa dalam proses kaderisasi itu ada takwin dan taqwim, keduanya harus dihindarkan dari peluang munculnya pertambahan “margin error.” Takwin harus serius mengarah kepada muwashafat, dan taqwim tidak boleh diperlonggar kecuali telah memenuhi muwashafat. Tentu berat. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]
 
*)Sumber : http://muchlisin.blogspot.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Donggala - Redesigned by PKS Donggala
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger