Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Dunia Facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Facebook. Tampilkan semua postingan
20.7.11
Penetrasi Dakwah Mendunia, Ir.Tifatul Sembiring Populer
Written By Unknown on 20.7.11 | 20.7.11
Menteri Komunikasi dan Informasi Ir. Tifatul Sembiring bukan hanya dikenal dan hebat di kalangan para aktifis dakwah, akan tetapi lebih dari itu juga sangat populer di dunia maya. hingga pagi ini tercatat 207.905 penggemar di facebook dan 238.105 pengikut di Twitter.Sesuatu yang luar biasa bagi da'i dengan penetrasi dakwah di dunia maya yang bahkan melebihi kepopuleran siapapun yang ada di Indonesia .
Itulah yang tercatat berdasarkan penilaian dari situs pencatat statistik media sosial, www.famecount.com selasa 19/7. Beliau adalah satu-satunya orang indonesia yang masuk dalam daftar tersebut dan menempati urutan ke- 24 dunia.
Itulah yang tercatat berdasarkan penilaian dari situs pencatat statistik media sosial, www.famecount.com selasa 19/7. Beliau adalah satu-satunya orang indonesia yang masuk dalam daftar tersebut dan menempati urutan ke- 24 dunia.
Tanggapan ringan beliau ,"Ini
cuma pernak-pernik socmed. Masih banyak yang lebih baik dari saya. yang
paling penting adalah menunaikan amanah sebagai pelayan rakyat"
Disela-sela pemberitaan itu beliau masih memberikan taujih bagi para pengguna socmed bahwa semua pihak agar meningkatkan
kesadaran akan bahaya keamanan serangan dalam dunia maya (cyber attack)
yang semakin gencar dilakukan hacktivist. Hal ini dikemukannya dalam
sambutan pembukaan Seminar Nasional Keamanan Informasi yg berlangsung kemarin 19/07 di Hotel Savoy Hoffman, Bandung-Jawa Barat.
"Saya
menyayangkan sikap2 yang terlalu mengabaikan bahaya2 serangan yg
terjadi di dunia maya, dan hal ini sudah merupakan masalah serius di
seluruh dunia", ujar Tifatul.
Tifatul juga mengungkapkan
beberapa kali serangan thd situs2 resmi sepertri Esthonia, Iran, Swiss,
Malaysia. Juga terhadap lembaga2 CIA, Google, Fox News dan bahkan di
dalam negeri lembaga2 pemerintah yang situsnya pernah diserang seperti
Mabes Polri, Lemhannas, TNI, Pertamina tidak luput pula situs
Kemenkominfo."Semua harus sadar, semua harus siap siaga,
semua harus membangun sistem pertahanan cyber, ini tanggung jawab kita
semua", pungkas Tifatul.
Berikut daftarnya dari www.famecount.com:
*Admin : selamat semoga kita semua segera menyusul.
Label:
Dunia Facebook,
Tentang PKS,
Tifatul sembiring
19.7.11
Kalau anda kehilangan handphone yang menyimpan semua nomor telepon penting termasuk teman anda dan anda lupa mem-backup-nya, salah satu alternatifnya adalah mendapatkan lagi nomor telepon tersebut lewat facebook, karena sebagian orang mencantumkan nomor teleponnya di facebook.
Ekstrak Semua Nomor HP Teman di Facebook
Written By Unknown on 19.7.11 | 19.7.11
Ada beberapa aplikasi web maupun tool lain yang membantu anda untuk meng-ekstrak data teman di facebook namun belum bisa mengekstrak nomor telepon. Nah, untuk itu anda perlu tool ini.Anda perlu menggunakan peramban (browser) google chrome karena alat yang akan kita pakai adalah sebuah chromeextension bernama facebook friend exporter.
Klik install untuk memasang ekstensi chrome facebook exporter, setelah terpasang, anda kunjungi halaman facebook anda (dengan tetap menggunakan google chrome tentu saja). Jika anda sukses memasang ekstensi maka di halaman facebook akan muncul pilihan “export friends” di menu kanan atas sebelah “Home” .
Kalau ternyata tidak muncul pilihan itu ada 2 sebab : instalasi ekstensi belum sukses atau pengaturan bahasa facebook tidak menggunakan bahasa inggris. Ini memang salah satu kelemahan esktensi ini, hanya dapat berfungsi di facebook dengan bahasa Inggris. Untuk mengatasinya , anda ubah sementara pengaturan bahasa menjadi English (US) atau English (UK) , seperti gambar dibawah :
Maka akan muncul pilihan “export friends” setelah bahasa berhasil diubah. Klik “export friends” maka (tergantung dihalaman facebook mana anda sekarang ) akan muncul dialog “first you need to go to your friends page, do you want us to redirect you to it ? ” Klik “Redirect Now” . Kemudian muncul halaman pemberitahuan dan pilihan supaya anda menyetujui TOS. Silahkan dibaca dan centang “I agree”. Kemudian akan muncul daftar teman yang akan diexport datanya.
Klik “lets start!” .
Maka proses fecthing akan dimulai, lama proses ini tergantung pada jumlah teman yang akan diexport datanya. Kalau anda sangat populer sepeti Mark Zuckenberg (hehe..), akan lama sekali prosesnya.
Setelah selesai , ditandai dengan adanya centang pada semua foto teman anda. Maka muncul 2 pilihan untuk export : langsung export pada Google contact atau export ke CSV. Pilihan CSV lebih enak jika anda ingin melakukan import nantinya ke dalam handphone baru anda (melalui software bawaan handphone).
Kalau anda memakai ponsel Android, akan lebih enak jika hasilnya diimport ke Google Contact, karena anda langsung bisa melakukan sinckronisasi contact di akun google anda dan handphone Android anda. Sekali lagi, tentu saja ini akan berhasil kalau teman anda mencantumkan nomor handpohne-nya di profile facebook.
*Sumber : fastncheap
*Sumber : fastncheap
Label:
Dunia Facebook,
Tutorial Facebook
14.7.11
*Betapa sering kenikmatan & karunia yg besar itu diperoleh setelah melewati berbagai ujian & cobaan...
Coretan Juli.......
Written By Unknown on 14.7.11 | 14.7.11
![]() |
| Ust. Muh. Wahyuddin, ST |
*Ya Allah, sbgmn Engkau tlah membahagiakn kami d dunia, bahagiakan jg kami d akhirat kelak. Slamat beraktivitas, membangun & meraih mimpi... Moga dberkahi.
*Mutarabbi yg baik adlh mereka2 yg MENTAATI & MENTELADANI Murabbinya dlm hal kebajikan. Jika ia mendapati kekurangan/kelemahan pd Murabbinya mk hendaklah ia menutupi aib tsb seraya mendo'akan agr sang Murabbi snantiasa mndptkn hidayah dr Allah. Jgn skali-kali menteladani Murabbi dlm kesalahannya & jgn pula mencela serta membuka aib-nya di hadapan umum...
*Dosa/kesalahan seorang Murabbi bisa jadi KECIL namun bahayanya bisa BESAR krn Murabbi adlh mata air keteladanan. Apa yg dlakukannya bisa jadi akn djadikan ALASAN oleh mutarabbi yg mengikutinya. Olehnya, marilah kita pandai2 membawa diri. Salam semangat merekrut & membina...
*Kekuatan kata2 + kekuatan teladan = KEKUATAN PENGARUH
*Status mlm mggu kbanyakn bertema rindu & cinta... sungguh bhgia mreka yg tlah menikah lalu rindu & cinta itu trus tumbuh & bersemi hgg mreka kmbl bersatu di dlm SurgaNYA...
*Sumber : facebook
Label:
Dunia Facebook
13.7.11
"Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT)"
Forum Tarbiyah): Menurut saya, diantara salah paham terhadap mafhum furqan adalah keharusan adanya perbedaan secara strik dan gamblang antara ikhlas dan tidak ikhlas.
Sebagai contoh kasus, saat seseorang mengajar di sebuah sekolah dengan sungguh-sungguh, dengan maksud untuk mendapatkan gaji, maka dengan mudah saja seorang itu diberi lebel atau cap tidak ikhlas. Salah satu alasannya, adalah mesti ada furqan; antara mengajar dengan niat lillahi ta’ala dengan mengajar dengan niat mendapatkan gaji.
Contoh lainnya adalah saat seorang aktifis dakwah bekerja untuk melakukan rekruitmen, dengan maksud atau niat menambah jumlah pendukung dakwah, ada saja orang-orang tertentu yang menuduhnya tidak ikhlas, dengan alasan, amalnya tidak dilakukan dengan niat lillahi ta’ala.
Contoh lain lagi adalah saat seorang politisi muslim bekerja pada bidang politiknya dengan sungguh-sungguh, dengan maksud atau niat agar ia dapat mempertanggung jawabkan posisi dan kedudukannya kepada konstituen atau publik, sebagian orang serta merta memvonisnya dengan tidak ikhlas.
Sebagian lainnya mengatakan: “tidak ada lagi perbedaan antara politisi muslim dan politisi lainnya, kalau pun ada, ya .. beti lah”, maksudnya adalah perbedaannya hanya tipis sekali dan nyaris tidak terdapat perbedaan, atau bahkan komentar itu dimaksudkan untuk mengatakan: “sama saja”, hanya saja dengan cara menyindir.
Menurut yang saya pahami, Wallahu a’lam, pemahaman seperti tadi tidak selalu tepat, dengan alasan:
1. Justru yang dimaksud dengan furqan diantaranya adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal yang “beti” (beda tipis) sebagai dua hal yang berbeda, khususnya dalam hal-hal yang berkenaan dengan hati, seperti: ikhlas, tawakkal dan semacamnya. Ketidak mampuan seseorang dalam membedakan dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal berbeda yang “beti” akan membawanya kepada su-ut-taqyim (buruk dalam penilaian), yang selanjutkan akan berdampak kepada kesalahan-kesalahan dalam bersikap dan bertindak. Masih mendingan kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersifat personal, repotnya, kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersikap kolektif dan organisatoris, maka tentunya dampak dan pengaruhnya akan semakin besar dan luas.
2. Orang-orang A’rab, sebagaimana disebut dalam Q.S. At-Taubah: 97, dikecam oleh Allah SWT dengan kecaman abadi. Diantara sebabnya adalah karena mereka tidak memiliki kemampuan membedakan hududa ma anzalaLlahu ‘ala rasulihi. Dan hal ini meledak dalam bentuk yang sangat besar di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA, di mana dari mereka muncul berbagai syubuhat yang pangkalnya adalah ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini. Lalu mereka mengelompok menjadi apa yang kemudian disebut sebagai “khawarij” misalnya, mereka tidak mampu membedakan antara perang yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib RA dalam menghadapi Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in dengan perang seorang imam kaum muslimin dalam menghadapi musuh. Dalam pandangan mereka, perang ya perang, dan karena dipimpin oleh imam kaum muslimin, berarti ia adalah jihad, tetapi kenapa perang Ali dalam menghadapi mereka –radhiyallahu anhum- tidak ada ghanimah¬-nya?!!
Akibat lebih lanjut dari ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini adalah tindakan mereka yang membunuh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- dengan alasan ia telah mau bertahkim kepada selain Allah SWT, padahal Allah SWT berfirman: "tidak ada hukum kecuali kepada Allah SWT”. (Q.S. Al-An’am: 57) dan (Q.S. Yusuf: 40, 67).
3. Paling tidak, ada 4 istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an yang mesti kita pahami dengan baik terkait masalah ini, yaitu:
a. Lillah atau liajlillah (karena Allah SWT)
b. Fillah atau fi sabilillah (dalam lingkup Allah SWT) atau (di jalan Allah SWT).
c. Ma’allah atau andadan (bersama Allah SWT) atau menjadikan selain Allah SWT sebagai “pesaing-pesaing” Allah SWT.
d. Min dunillah (tanpa Allah SWT, atau menempatkan Allah SWT lebih rendah daripada yang selain-Nya).
Penjelasan:
Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT).
Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh nabi Sulaima –álaihissalam- saat beliau bermaksud menggauli 60 istrinya dengan niat dan harapan agar masing-masing 60 istri itu hamil, lalu masing-masing mereka melahirkan seorang anak laki-laki, lalu, seluruh anak laki-laki tersebut di masa depannya menjadi seorang mujahid penunggang kuda fi sabilillah.
Di sini terlihat bahwa nabi Sulaiman –‘alaihissalam- mempunyai banyak maksud dan niat, namun, semua maksud dan niat tersebut masih dalam lingkup lillah, fillah dan atau fi sabilillah.
Begitu juga dengan aktifitas atau kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok atau organisasi, sangat mungkin ada banyak maksud dan niat dari tindakan dan perbuatan mereka yang sepintas lalu terlihat “tidak ikhlas”, namun, selama masih dalam lingkup lillah pada penghujungnya, dan atau fi sabilillah dan atau fillah, maka hal ini tidak bertolak belakang dengan keikhlasan. Wallahu a’lam.
Lain halnya kalau seseorang, atau kelompok, atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan dengan niat dan maksud-maksud yang masuk dalam kategori ma’allah, dalam arti ada maksud lillah, tetapi juga ada maksud lain yang selevel dengan maksud lillah dan tidak dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah, maka orang atau kelompok atau organisasi tersebut telah menempatkan niat dan maksud lain selain niat dan maksud Allah SWT sebagai andadan (pesaing-pesaing), maka hal inilah yang disebut dengan istilah syirik yang secara harfiah berarti menyertakan niat dan maksud lain selain Allah SWT. Namun, sekali lagi, yang disebut syirik adalah manakala menjadikan selain Allah SWT dan menempatkannya sebagai andadan. Wallahu a’lam
Apatah lagi kalau seseorang, atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang masuk dalam kategori min dunillah, maksudnya adalah menempatkan Allah SWT dalam niat dan maksudnya di bawah maksud-maksud dan niat-niat lain.Dan lebih parah lagi tentunya kalau seseorang atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang sama sekali tidak ada maksud dan niat untuk Allah SWT sama sekali.
Keikhlasan Itu BeTi (Beda Tipis)
Written By Unknown on 13.7.11 | 13.7.11
![]() |
| Ust.Muhammad Ali Lamu, Lc |
Sebagai contoh kasus, saat seseorang mengajar di sebuah sekolah dengan sungguh-sungguh, dengan maksud untuk mendapatkan gaji, maka dengan mudah saja seorang itu diberi lebel atau cap tidak ikhlas. Salah satu alasannya, adalah mesti ada furqan; antara mengajar dengan niat lillahi ta’ala dengan mengajar dengan niat mendapatkan gaji.
Contoh lainnya adalah saat seorang aktifis dakwah bekerja untuk melakukan rekruitmen, dengan maksud atau niat menambah jumlah pendukung dakwah, ada saja orang-orang tertentu yang menuduhnya tidak ikhlas, dengan alasan, amalnya tidak dilakukan dengan niat lillahi ta’ala.
Contoh lain lagi adalah saat seorang politisi muslim bekerja pada bidang politiknya dengan sungguh-sungguh, dengan maksud atau niat agar ia dapat mempertanggung jawabkan posisi dan kedudukannya kepada konstituen atau publik, sebagian orang serta merta memvonisnya dengan tidak ikhlas.
Sebagian lainnya mengatakan: “tidak ada lagi perbedaan antara politisi muslim dan politisi lainnya, kalau pun ada, ya .. beti lah”, maksudnya adalah perbedaannya hanya tipis sekali dan nyaris tidak terdapat perbedaan, atau bahkan komentar itu dimaksudkan untuk mengatakan: “sama saja”, hanya saja dengan cara menyindir.
Menurut yang saya pahami, Wallahu a’lam, pemahaman seperti tadi tidak selalu tepat, dengan alasan:
1. Justru yang dimaksud dengan furqan diantaranya adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal yang “beti” (beda tipis) sebagai dua hal yang berbeda, khususnya dalam hal-hal yang berkenaan dengan hati, seperti: ikhlas, tawakkal dan semacamnya. Ketidak mampuan seseorang dalam membedakan dua hal berbeda yang tampak sama, atau dua hal berbeda yang “beti” akan membawanya kepada su-ut-taqyim (buruk dalam penilaian), yang selanjutkan akan berdampak kepada kesalahan-kesalahan dalam bersikap dan bertindak. Masih mendingan kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersifat personal, repotnya, kalau penilaian, sikap dan tindakan tersebut bersikap kolektif dan organisatoris, maka tentunya dampak dan pengaruhnya akan semakin besar dan luas.
2. Orang-orang A’rab, sebagaimana disebut dalam Q.S. At-Taubah: 97, dikecam oleh Allah SWT dengan kecaman abadi. Diantara sebabnya adalah karena mereka tidak memiliki kemampuan membedakan hududa ma anzalaLlahu ‘ala rasulihi. Dan hal ini meledak dalam bentuk yang sangat besar di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA, di mana dari mereka muncul berbagai syubuhat yang pangkalnya adalah ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini. Lalu mereka mengelompok menjadi apa yang kemudian disebut sebagai “khawarij” misalnya, mereka tidak mampu membedakan antara perang yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib RA dalam menghadapi Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in dengan perang seorang imam kaum muslimin dalam menghadapi musuh. Dalam pandangan mereka, perang ya perang, dan karena dipimpin oleh imam kaum muslimin, berarti ia adalah jihad, tetapi kenapa perang Ali dalam menghadapi mereka –radhiyallahu anhum- tidak ada ghanimah¬-nya?!!
Akibat lebih lanjut dari ketidak mampuan mereka dalam membedakan yang “beti-beti” ini adalah tindakan mereka yang membunuh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- dengan alasan ia telah mau bertahkim kepada selain Allah SWT, padahal Allah SWT berfirman: "tidak ada hukum kecuali kepada Allah SWT”. (Q.S. Al-An’am: 57) dan (Q.S. Yusuf: 40, 67).
3. Paling tidak, ada 4 istilah yang dipakai oleh Al-Qur’an yang mesti kita pahami dengan baik terkait masalah ini, yaitu:
a. Lillah atau liajlillah (karena Allah SWT)
b. Fillah atau fi sabilillah (dalam lingkup Allah SWT) atau (di jalan Allah SWT).
c. Ma’allah atau andadan (bersama Allah SWT) atau menjadikan selain Allah SWT sebagai “pesaing-pesaing” Allah SWT.
d. Min dunillah (tanpa Allah SWT, atau menempatkan Allah SWT lebih rendah daripada yang selain-Nya).
Penjelasan:
Bisa saja, atau dibenarkan seseorang melakukan suatu amal dengan maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadinya, atau keluarganya, atau masyarakatnya, atau umatnya, atau untuk kemanusiaan, selama semua yang dilakukannya,termasuk niat dan maksudnya dalam lingkup lillahi ta’ala dalam arti tidak kontradiksi dengan maksud lillahi ta’ala, masih dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah (dalam jalan menuju Allah SWT).
Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh nabi Sulaima –álaihissalam- saat beliau bermaksud menggauli 60 istrinya dengan niat dan harapan agar masing-masing 60 istri itu hamil, lalu masing-masing mereka melahirkan seorang anak laki-laki, lalu, seluruh anak laki-laki tersebut di masa depannya menjadi seorang mujahid penunggang kuda fi sabilillah.
Di sini terlihat bahwa nabi Sulaiman –‘alaihissalam- mempunyai banyak maksud dan niat, namun, semua maksud dan niat tersebut masih dalam lingkup lillah, fillah dan atau fi sabilillah.
Begitu juga dengan aktifitas atau kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok atau organisasi, sangat mungkin ada banyak maksud dan niat dari tindakan dan perbuatan mereka yang sepintas lalu terlihat “tidak ikhlas”, namun, selama masih dalam lingkup lillah pada penghujungnya, dan atau fi sabilillah dan atau fillah, maka hal ini tidak bertolak belakang dengan keikhlasan. Wallahu a’lam.
Lain halnya kalau seseorang, atau kelompok, atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan dengan niat dan maksud-maksud yang masuk dalam kategori ma’allah, dalam arti ada maksud lillah, tetapi juga ada maksud lain yang selevel dengan maksud lillah dan tidak dalam lingkup fillah dan atau fi sabilillah, maka orang atau kelompok atau organisasi tersebut telah menempatkan niat dan maksud lain selain niat dan maksud Allah SWT sebagai andadan (pesaing-pesaing), maka hal inilah yang disebut dengan istilah syirik yang secara harfiah berarti menyertakan niat dan maksud lain selain Allah SWT. Namun, sekali lagi, yang disebut syirik adalah manakala menjadikan selain Allah SWT dan menempatkannya sebagai andadan. Wallahu a’lam
Apatah lagi kalau seseorang, atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang masuk dalam kategori min dunillah, maksudnya adalah menempatkan Allah SWT dalam niat dan maksudnya di bawah maksud-maksud dan niat-niat lain.Dan lebih parah lagi tentunya kalau seseorang atau kelompok atau organisasi melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang sama sekali tidak ada maksud dan niat untuk Allah SWT sama sekali.
Dikutip dari : Ust. MUSYAFFA
13.7.11
Pemimpin Sejati
Pada suatu hari Umar bin Khottob r.a. berkeliling untuk melihat kondisi rakyatnya dan mengetahui berita mereka dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian ia melewati sebuah rumah yang dihuni oleh nenek-nenek renta. Beliau memberi salam seraya bertanya ;
Apa yang dilakukan Umar ?
Nenek menjawab: Mudah-mudahan Allah membalas keburukannya karena menerlantarkanku.
Umar berkata: Kenapa demikian?
Nenek menjawab: demi Allah, Sejak dia diangkat menjadi khalifah atas umat islam sesungguhnya dia tidak pernah memberikan apapun kepada saya baik satu dinar ataupun satu dirham..
Umar r.a.: Bagaimana Umar bisa tahu keadaanmu padahal kamu berada jauh dari keramaian kota?
Nenek : Subhanallah (Maha suci Allah) demi Allah saya tidak menyangka bahwa seorang yang diamanahi memimpin rakyat kemudian tidak tahu rakyat yang ada di bagian barat dan timurnya.
Umar pun menangis kemudian ia berkata: Aduuh Umar, setiap orang lebih mengerti darimu sampai nenek-nenek renta lebih faham dari kamu wahai Umar! Lantas Umar berkata: Wahai hamba Allah.
! Berapa dinar kau jual kedzoliman Umar terhadapmu ? Karena aku kasihan kalau dia masuk neraka .
Nenek : Jangan menghina kami !
Umar : Tidak, aku tidak menghina. Umar masih terus meminta sampai berhasil membeli kedzoliman Umar terhadap nenek itu dengan 25 dinar (uang emas). Setelah itu datanglah Ali r.a dan Abdullah bin Mas’ud r.a. seraya memberikan salam : Assalamu ‘alaika Yaa Amiral mukminin ! ( Asalamu ‘alaikum Wahai amirul mukminin.)
Si nenek lantas merasa malu dan kaget dengan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya seraya berkata: Waduh aku celaka! Saya menghina amirul mukminin di hadapannya.
Umar berekata: tidak mengapa wahai nenek ! kemudian beliau meminta sepotong kain dari si nenek namun tidak ada maka beliau menyobek kainnya dan menulis dalam sepotong kain itu sbb.: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah yang dibeli Umar dari nenek Fulanah berupa kedzoliman Umar terhadap si Fulanah sejak dia menjadi kholifah sampai hari ni dengan nilai 25 dinar.maka apa yang di dakwakan kelak pada hari mahsyar di hadapan Allah umar telah lepas dari kedzoliman itu. Dan Ali bin Abi tholib serta Abdullah bin Mas’ud menjadi saksi atas hal ini”
Kemudian Umar memberikan potongan kain itu kepada seorang anaknya seraya berkata: Bila aku mati letakkanlah kain ini di kafanku untuk bertanggung jawab menjumpai Rabbku” (Achmad Satori)
Apa yang dilakukan Umar ?
Nenek menjawab: Mudah-mudahan Allah membalas keburukannya karena menerlantarkanku.
Umar berkata: Kenapa demikian?
Nenek menjawab: demi Allah, Sejak dia diangkat menjadi khalifah atas umat islam sesungguhnya dia tidak pernah memberikan apapun kepada saya baik satu dinar ataupun satu dirham..
Umar r.a.: Bagaimana Umar bisa tahu keadaanmu padahal kamu berada jauh dari keramaian kota?
Nenek : Subhanallah (Maha suci Allah) demi Allah saya tidak menyangka bahwa seorang yang diamanahi memimpin rakyat kemudian tidak tahu rakyat yang ada di bagian barat dan timurnya.
Umar pun menangis kemudian ia berkata: Aduuh Umar, setiap orang lebih mengerti darimu sampai nenek-nenek renta lebih faham dari kamu wahai Umar! Lantas Umar berkata: Wahai hamba Allah.
! Berapa dinar kau jual kedzoliman Umar terhadapmu ? Karena aku kasihan kalau dia masuk neraka .
Nenek : Jangan menghina kami !
Umar : Tidak, aku tidak menghina. Umar masih terus meminta sampai berhasil membeli kedzoliman Umar terhadap nenek itu dengan 25 dinar (uang emas). Setelah itu datanglah Ali r.a dan Abdullah bin Mas’ud r.a. seraya memberikan salam : Assalamu ‘alaika Yaa Amiral mukminin ! ( Asalamu ‘alaikum Wahai amirul mukminin.)
Si nenek lantas merasa malu dan kaget dengan meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya seraya berkata: Waduh aku celaka! Saya menghina amirul mukminin di hadapannya.
Umar berekata: tidak mengapa wahai nenek ! kemudian beliau meminta sepotong kain dari si nenek namun tidak ada maka beliau menyobek kainnya dan menulis dalam sepotong kain itu sbb.: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah yang dibeli Umar dari nenek Fulanah berupa kedzoliman Umar terhadap si Fulanah sejak dia menjadi kholifah sampai hari ni dengan nilai 25 dinar.maka apa yang di dakwakan kelak pada hari mahsyar di hadapan Allah umar telah lepas dari kedzoliman itu. Dan Ali bin Abi tholib serta Abdullah bin Mas’ud menjadi saksi atas hal ini”
Kemudian Umar memberikan potongan kain itu kepada seorang anaknya seraya berkata: Bila aku mati letakkanlah kain ini di kafanku untuk bertanggung jawab menjumpai Rabbku” (Achmad Satori)



