Latest Post
Tampilkan postingan dengan label featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label featured. Tampilkan semua postingan
12.6.11
Generasi Syahadat, Generasi Tahan Uji
Written By Unknown on 12.6.11 | 12.6.11
BESAR
kecilnya tanggungjawab seseorang menjadi tanda kualitas syahadatnya,
yang dapat diukur pada caranya memanfaatkan waktu. Seorang yang
berkualitas selalu berusaha menumbuhsuburkan bibit syahadatnya agar
dapat terus ditingkatkan lebih tinggi lagi.
Tiada waktu tanpa peningkatan kualitas syahadat. Tiada program kecuali peningkatan iman. Tidak mati kecuali dalam puncak jenjang syahadat, pasrah diri kepada Tuhan.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah engkau mati kecuali dalam Islam." (Q.S. Ali Imran : 102).
Rute perjalanan yang harus dilalui untuk membuktikan syahadat bisa dikatakan singkat, bisa juga panjang. Hal tersebut tergantung pada kadar mujahadah, dukungan ibadah dan ukuran besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul.
Namun demikian, dibalik perbedaan jauh rute itu, ada kesamaan irama dan ritme perjalanan. Jurang yang terjal, tebing yang tinngi pasti ditemukan dalam perjalanan.
Bahkan dengan tegas Allah merinci tikungan-tikungan tajam yang akan dilewati dalam perjalanan proses uji coba penentuan peringkat kadar kualitas syahadat dengan firman-Nya:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang yang beriman bersamanya : 'Bilakah datangnya pertolongan Allah ?'. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Q.S. Al-Baqarah : 214).
Ada tiga tebing tinggi dan jurang terjal yang harus dilewati sebelum seseorang sampai ke titik kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah. Baik kenikmatan dunia apalagi yang di akhirat.
Ketiga tebing dan jurang tersebut dialami oleh semua orang yang ingin menikmati surga, tak terkecuali Nabi dan Rasul Allah.
Sudah merupakan garis ketentuan Allah, atau sudah menjadi sunnatullah, hukum alam yang sudah pasti, bahwa untuk mencapai keadaan yang ideal diperlukan proses yang tidak ringan.
"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 62).
Andaikan para Nabi dan Rasul mengetahui jalan mulus menuju surga tanpa mengalami hambatan dan rintangan yang serba menyulitkan, tanpa malapetaka dan ujian, tanpa kesengsaraan dan kemiskinan, maka mereka tentu akan memilih jalan itu. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu.
Semua Nabi dan Rasul mengalami nasib yang sama, menempuh rute perjalanan dengan ritme dan irama yang sama. Mereka menderita, selalu ditimpa malapetaka, ditimpa kemelaratan yang tiada tara, juga dihantui oleh perasaan yang serba takut.
Hanya imanlah yang memberikan kemampuan pada mereka untuk tetap berjalan dalam rel yang sudah ditentukan.
Tiada waktu tanpa peningkatan kualitas syahadat. Tiada program kecuali peningkatan iman. Tidak mati kecuali dalam puncak jenjang syahadat, pasrah diri kepada Tuhan.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah engkau mati kecuali dalam Islam." (Q.S. Ali Imran : 102).
Rute perjalanan yang harus dilalui untuk membuktikan syahadat bisa dikatakan singkat, bisa juga panjang. Hal tersebut tergantung pada kadar mujahadah, dukungan ibadah dan ukuran besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul.
Namun demikian, dibalik perbedaan jauh rute itu, ada kesamaan irama dan ritme perjalanan. Jurang yang terjal, tebing yang tinngi pasti ditemukan dalam perjalanan.
Bahkan dengan tegas Allah merinci tikungan-tikungan tajam yang akan dilewati dalam perjalanan proses uji coba penentuan peringkat kadar kualitas syahadat dengan firman-Nya:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang yang beriman bersamanya : 'Bilakah datangnya pertolongan Allah ?'. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Q.S. Al-Baqarah : 214).
Ada tiga tebing tinggi dan jurang terjal yang harus dilewati sebelum seseorang sampai ke titik kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah. Baik kenikmatan dunia apalagi yang di akhirat.
Ketiga tebing dan jurang tersebut dialami oleh semua orang yang ingin menikmati surga, tak terkecuali Nabi dan Rasul Allah.
Sudah merupakan garis ketentuan Allah, atau sudah menjadi sunnatullah, hukum alam yang sudah pasti, bahwa untuk mencapai keadaan yang ideal diperlukan proses yang tidak ringan.
"Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 62).
Andaikan para Nabi dan Rasul mengetahui jalan mulus menuju surga tanpa mengalami hambatan dan rintangan yang serba menyulitkan, tanpa malapetaka dan ujian, tanpa kesengsaraan dan kemiskinan, maka mereka tentu akan memilih jalan itu. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu.
Semua Nabi dan Rasul mengalami nasib yang sama, menempuh rute perjalanan dengan ritme dan irama yang sama. Mereka menderita, selalu ditimpa malapetaka, ditimpa kemelaratan yang tiada tara, juga dihantui oleh perasaan yang serba takut.
Hanya imanlah yang memberikan kemampuan pada mereka untuk tetap berjalan dalam rel yang sudah ditentukan.
Bukan hanya itu, segala cobaan yang datangnya dari Allah mampu
dimanfaatkan untuk mempertebal keimanan, bukan sebaliknya melemahkan
iman.
Syahadat memang memerlukan proses pembajaan. Dan proses pembajaan yang baik hanyalah melewati berbagai kesulitan, karena sesudah kesulitan itulah akan muncul kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah : 5-6).
Bila Malapetaka Datang
Syahadat memang memerlukan proses pembajaan. Dan proses pembajaan yang baik hanyalah melewati berbagai kesulitan, karena sesudah kesulitan itulah akan muncul kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah : 5-6).
Bila Malapetaka Datang
Malapetaka merupakan suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan,
datang dengan tiba-tiba di luar perkiraan, dan tanpa persiapan sama
sekali. Bila kurang waspada keadaan tersebut bisa berakibat sangat
fatal. Bisa jadi peristiwa yang tiba-tiba itu membuat gairah jihad
berkurang, ghirrah dan semangat juang menurun tajam.
Bahkan kadang begitu emosional menuduh dan mencap banyak pihak sebagai biang keladinya. Atau sebaliknya, menganggap hal tersebut sebagai taqdir yang wajar-wajar saja, tidak perlu dicari hikmah dan maknanya. Sangat disayangkan bila kondisi seperti itu tidak dimanfaatkan untuk meraih berbagai keuntungan.
Petaka yang menimpa kaum muslimin sebenarnya hanyalah ujian atau mungkin peringatan karena kasih sayang Tuhan. Bagi seorang pejuang kondisi seperti ini dapat dimanfaatkan minimal untuk konsolidasi organisasi, pengkristalan kekuatan, dan penyusunan ulang barisan yang lebih rapi, serta upaya koreksi ke dalam untuk perbaikan kebijaksanaan di masa mendatang.
Peristiwa itu patut dijadikan sebagai sentakan teguran, untuk terciptanya semangat dan motivasi baru yang lebih merangsang, lebih mendorong berbuat yang lebih baik.
Karena datangnya serba mendadak, wajar kalau membuat suatu kegoncangan. Nabi sendiri mengalami peristiwa itu.
Bahkan kadang begitu emosional menuduh dan mencap banyak pihak sebagai biang keladinya. Atau sebaliknya, menganggap hal tersebut sebagai taqdir yang wajar-wajar saja, tidak perlu dicari hikmah dan maknanya. Sangat disayangkan bila kondisi seperti itu tidak dimanfaatkan untuk meraih berbagai keuntungan.
Petaka yang menimpa kaum muslimin sebenarnya hanyalah ujian atau mungkin peringatan karena kasih sayang Tuhan. Bagi seorang pejuang kondisi seperti ini dapat dimanfaatkan minimal untuk konsolidasi organisasi, pengkristalan kekuatan, dan penyusunan ulang barisan yang lebih rapi, serta upaya koreksi ke dalam untuk perbaikan kebijaksanaan di masa mendatang.
Peristiwa itu patut dijadikan sebagai sentakan teguran, untuk terciptanya semangat dan motivasi baru yang lebih merangsang, lebih mendorong berbuat yang lebih baik.
Karena datangnya serba mendadak, wajar kalau membuat suatu kegoncangan. Nabi sendiri mengalami peristiwa itu.
Ketika kaum musyrikin Quraisy mencapai puncak kemarahannya, ketika
Nabi menggantungkan diri pada perlindungan paman dan isterinya, pada
saat itu keduanya diambil oleh Allah, mati. Saat itu jiwa Nabi
betul-betul terguncang, sehingga tersebut tahun itu sebagai 'Amul Khuzn', tahun duka.
Boleh-boleh saja kita oleng karena badai dan ombak mengamuk begitu kuat. Tapi bagaimanapun kita tiak boleh sampai tersungkur jatuh atau kembali ke tepian. Di sinilah diperlukan seorang nahkoda yang cukup lihai mengemudikan kapal. Dibutuhkan seni kepemimpinan yang cukup handal.
Peristiwa seperti ini tak bisa dihindari. Pasti akan dialami oleh setiap orang yang hendak meningkatkan kualitas syahadatnya. Utamanya mereka yang menjadi pioner dan perintis perjuangan.
Dengan demikian harus disiapsiagakan diri menerima kemungkinan tersebut sebagai sesuatu yang bisa memberi manfaat bila diupayakan dengan baik. Sebab ia juga sekaligus berfungsi sebagai proses pematangan syahadat.
Boleh-boleh saja kita oleng karena badai dan ombak mengamuk begitu kuat. Tapi bagaimanapun kita tiak boleh sampai tersungkur jatuh atau kembali ke tepian. Di sinilah diperlukan seorang nahkoda yang cukup lihai mengemudikan kapal. Dibutuhkan seni kepemimpinan yang cukup handal.
Peristiwa seperti ini tak bisa dihindari. Pasti akan dialami oleh setiap orang yang hendak meningkatkan kualitas syahadatnya. Utamanya mereka yang menjadi pioner dan perintis perjuangan.
Dengan demikian harus disiapsiagakan diri menerima kemungkinan tersebut sebagai sesuatu yang bisa memberi manfaat bila diupayakan dengan baik. Sebab ia juga sekaligus berfungsi sebagai proses pematangan syahadat.
Melalui peristiwa ini akan terseleksi apakah mereka masih bersangka
baik kepada Allah SWT, atau malah menuduh Allah dengan berbagai macam
dakwaan?
Kematian kedua tumpuan Nabi, paman sekaligus isteri beliau secara beruntun adalah teguran dan peringatan Allah bahwa tak sepatutnya beliau bergantung pada keduanya.
Peristiwa itu sesungguhnya pelajaran bagi Nabi bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dirinya, bukan karena kepiawaian pamannya, juga bukan karena kebangsawanan isterinya.
Melalui peristiwa pahit ini kita rasakan sendiri peringkat kadar kualitas syahadat yang kita miliki. Justru pada saat malapetaka itu datang, betapapun kecilnya, saat itulah kita bisa melakukan evaluasi. Itu tidak berarti kita kemudian mencari-cari malapetaka, sebab kalau demikian maknanya bisa lain, dan hasinyapun juga berbeda. Merencanakan serta mengundang malapetaka bisa bermakna menganiaya diri sendiri.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Baqarah : 195).
Keberhasilan untuk tetap stabil dan normal di dalam menerima sentakan yang seperti itu adalah wujud kemampuan memperlihatkan mutu kadar kualitas syahadat.
Perlu keluwesan untuk tidak terlalu kaku memahami ungkapan ini, sebab bisa saja malapetaka tersebut sifatnya tidak langsung.
Mungkin saja berbentuk kegagalan secara total beberapa target yang serius dikejar, atau kemacetan urusan setelah menelan tidak sedikit biaya dan tenaga, atau berupa peristiwa yang mengganggu serta merusak program yang sementara berjalan dengan baik.
Perlu diingat, malapetaka itu bentuknya sentakan, tidak terus-menerus. Peristiwa ini sesungguhnya hanya bersifat teguran peringatan, atau uji coba penjajakan, disamping upaya pemantapan syahadat. Sejauh mana seseorang itu bisa berprasangka baik kepada Allah SWT.
Itulah sebabnya terkadang terasa timbangannya demikian berat, sehingga seseorang dibuatnya kehilangan kendali. Peristiwanya bisa saja sejenak, tetapi pengaruh dan dampaknya yang lama dan berlarut-larut. Kalau kurang kontrol bisa mengundang malapetaka baru yang berkelanjutan.
Padahal andaikan kita mampu memahami apa arti setiap malapetaka yang datang, bisa saja malapetaka itu dijinakkan dan ditekan efeknya seminimal mungkin, sehingga tetap bisa dipetik manfaatnya.
Yang pasti, malapetaka ini sulit untuk dihindari sama sekali, sebab sudah semacam keharusan yang mengiringi keberadaan syahadat. Selama irama dan ritme perjalanannya mengarah ke depan, menuju sasaran dermaga yang telah ditentukan, bagaimanapun hati-hatinya pasti akan berhadapan dengan batu karang yang menghadang. Bertemu dengan ombak dan gelombang yang mengganggu, serta angin topan yang mengancam.
Beberapa kemungkinan bisa terjadi, entah kemudi yang patah, layar yang robek, petugas yang lalai, peralatan yang jatuh, perbekalan yang habis, atau kerusakan-kerusakan yang lain. Adanya persiapan menghadapi kemungkinan itu tentu akan menghasilkan akibat yang sangat berbeda dibanding tanpa persiapan sama sekali.
Ketiadaan persiapan akan menjadikan kepanikan dan kalang kabut begitu malapetaka datang. Akibatnya petaka lain akan terundang beruntun, karena fikiran tidak berfungsi dan hanya emosi yang dominan.
Dengan modal syahadat yang berintikan keyakinan, serta kesadaran akan realitas diri yang sudah dilengkapi oleh Allah berbagai instrumen dan peralatan yang memadai dalam menghadapi setiap malapetaka, hati pasti menjadi tenang. Dan satu lagi yang pasti, Allah selalu siap menolong hamba-Nya yang memerlukan.
Yang perlu kita sadari bahwa inilah resiko yang menjadi saksi nyata akan eksisnya sebuah Syahadat. Adapun selanjutnya bagaimana menghadapi setiap resiko, adalah soal seni, soal taktik, soal gaya, soal format perwatakan, soal kematangan pribadi, soal pengalaman.
Semuanya cukup mempengaruhi reaksi spontan terhadap setiap resiko yang terpaksa harus kita terima apa adanya.
Yang penting bahwa kita bisa memperoleh manfaat, setidak-tidaknya menjadikan diri ini sadar sepenuhnya akan keterbatasan kita, kemudian mengakui bahwasanya kekuasaan itu sepenuhnya di tangan Allah SWT. Dengan demikian datangnya malapetaka berarti kesempatan dan media untuk meningkatkan kualitas Syahadat. */ (Bersambung)
Kematian kedua tumpuan Nabi, paman sekaligus isteri beliau secara beruntun adalah teguran dan peringatan Allah bahwa tak sepatutnya beliau bergantung pada keduanya.
Peristiwa itu sesungguhnya pelajaran bagi Nabi bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dirinya, bukan karena kepiawaian pamannya, juga bukan karena kebangsawanan isterinya.
Melalui peristiwa pahit ini kita rasakan sendiri peringkat kadar kualitas syahadat yang kita miliki. Justru pada saat malapetaka itu datang, betapapun kecilnya, saat itulah kita bisa melakukan evaluasi. Itu tidak berarti kita kemudian mencari-cari malapetaka, sebab kalau demikian maknanya bisa lain, dan hasinyapun juga berbeda. Merencanakan serta mengundang malapetaka bisa bermakna menganiaya diri sendiri.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Baqarah : 195).
Keberhasilan untuk tetap stabil dan normal di dalam menerima sentakan yang seperti itu adalah wujud kemampuan memperlihatkan mutu kadar kualitas syahadat.
Perlu keluwesan untuk tidak terlalu kaku memahami ungkapan ini, sebab bisa saja malapetaka tersebut sifatnya tidak langsung.
Mungkin saja berbentuk kegagalan secara total beberapa target yang serius dikejar, atau kemacetan urusan setelah menelan tidak sedikit biaya dan tenaga, atau berupa peristiwa yang mengganggu serta merusak program yang sementara berjalan dengan baik.
Perlu diingat, malapetaka itu bentuknya sentakan, tidak terus-menerus. Peristiwa ini sesungguhnya hanya bersifat teguran peringatan, atau uji coba penjajakan, disamping upaya pemantapan syahadat. Sejauh mana seseorang itu bisa berprasangka baik kepada Allah SWT.
Itulah sebabnya terkadang terasa timbangannya demikian berat, sehingga seseorang dibuatnya kehilangan kendali. Peristiwanya bisa saja sejenak, tetapi pengaruh dan dampaknya yang lama dan berlarut-larut. Kalau kurang kontrol bisa mengundang malapetaka baru yang berkelanjutan.
Padahal andaikan kita mampu memahami apa arti setiap malapetaka yang datang, bisa saja malapetaka itu dijinakkan dan ditekan efeknya seminimal mungkin, sehingga tetap bisa dipetik manfaatnya.
Yang pasti, malapetaka ini sulit untuk dihindari sama sekali, sebab sudah semacam keharusan yang mengiringi keberadaan syahadat. Selama irama dan ritme perjalanannya mengarah ke depan, menuju sasaran dermaga yang telah ditentukan, bagaimanapun hati-hatinya pasti akan berhadapan dengan batu karang yang menghadang. Bertemu dengan ombak dan gelombang yang mengganggu, serta angin topan yang mengancam.
Beberapa kemungkinan bisa terjadi, entah kemudi yang patah, layar yang robek, petugas yang lalai, peralatan yang jatuh, perbekalan yang habis, atau kerusakan-kerusakan yang lain. Adanya persiapan menghadapi kemungkinan itu tentu akan menghasilkan akibat yang sangat berbeda dibanding tanpa persiapan sama sekali.
Ketiadaan persiapan akan menjadikan kepanikan dan kalang kabut begitu malapetaka datang. Akibatnya petaka lain akan terundang beruntun, karena fikiran tidak berfungsi dan hanya emosi yang dominan.
Dengan modal syahadat yang berintikan keyakinan, serta kesadaran akan realitas diri yang sudah dilengkapi oleh Allah berbagai instrumen dan peralatan yang memadai dalam menghadapi setiap malapetaka, hati pasti menjadi tenang. Dan satu lagi yang pasti, Allah selalu siap menolong hamba-Nya yang memerlukan.
Yang perlu kita sadari bahwa inilah resiko yang menjadi saksi nyata akan eksisnya sebuah Syahadat. Adapun selanjutnya bagaimana menghadapi setiap resiko, adalah soal seni, soal taktik, soal gaya, soal format perwatakan, soal kematangan pribadi, soal pengalaman.
Semuanya cukup mempengaruhi reaksi spontan terhadap setiap resiko yang terpaksa harus kita terima apa adanya.
Yang penting bahwa kita bisa memperoleh manfaat, setidak-tidaknya menjadikan diri ini sadar sepenuhnya akan keterbatasan kita, kemudian mengakui bahwasanya kekuasaan itu sepenuhnya di tangan Allah SWT. Dengan demikian datangnya malapetaka berarti kesempatan dan media untuk meningkatkan kualitas Syahadat. */ (Bersambung)
KH. Abdullah Said, penulis adalah pendiri Pesantren Hidayatullah
*Sumber : http://www.hidayatullah.com
24.5.11

Indonesia telah kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Yoyoh Yusroh, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Empat hari sebelumnya, almarhumah yang juga merupakan fungsionaris DPP PKS ini sempat melakukan rekaman untuk salah satu kegiatan yang diadakan oleh PKS. Potongan dari rekaman tersebut telah diupload ke youtube dengan judul “Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah”. Redaksi dakwatuna.com mencoba menuangkan nasihat almarhumah dalam bentuk tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau Download Video disini : TaujihTerakhir Almarhumah Ustdz. Yoyoh Yusroh
*Nonton videonya lihat disumbernya : http://www.dakwatuna.com
Video Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah
Written By Unknown on 24.5.11 | 24.5.11
Ustz Yoyoh Yusroh
Indonesia telah kehilangan salah satu perempuan terbaiknya. Yoyoh Yusroh, seorang anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Empat hari sebelumnya, almarhumah yang juga merupakan fungsionaris DPP PKS ini sempat melakukan rekaman untuk salah satu kegiatan yang diadakan oleh PKS. Potongan dari rekaman tersebut telah diupload ke youtube dengan judul “Nasihat Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk Para Kader Dakwah”. Redaksi dakwatuna.com mencoba menuangkan nasihat almarhumah dalam bentuk tulisan di bawah ini. Semoga bermanfaat.
***Ikhwan
dan akhwat fillah, Alhamdulillah kita sebagai kader yang sudah berada
dalam jalan dakwah ini dengan susah senangnya – saya yakin senangnya
lebih banyak ya – susahnya ada, tapi kita berupaya untuk mengatasinya,
karena semua yang kita lakukan dalam jalan dakwah “argo”nya tetap jalan,
kita mendapatkan ridha Allah baik senang ataupun susah.
Dan kita
berupaya untuk selalu mengajak orang lain ke dalam jalan dakwah ini
dengan selalu mempertimbangkan sunnatullah. (Misalnya) bagaimana kita
menghargai. Sunnatullah itu ‘kan (contohnya) semua manusia ada yang
memiliki senioritas, ya kita hargai yang tua, kita sayangi yang muda,
kita hargai yang kaya, kita sayangi yang miskin. Kita tempatkan orang
sesuai dengan posisinya di masyarakat.
Kemudian kita berupaya
untuk selalu menjaga intergritas pribadi kita sebagai seorang muslim,
dengan misalnya kalau janji dengan orang lain kita tepati, kalau kita
mendapatkan sesuatu dari orang lain kita berupaya untuk membalasnya.
Kemudian
kita juga berupaya untuk – di manapun kita berada – kita adalah “on
mission”. Karena kita yakin “if we are realize that we are on mission,
we must keep the mission on”. Jadi kita selalu berupaya untuk menjaga
misi ini jangan sampai misi kita off, tapi misi kita selalu on. Kita
berada di manapun, di pemerintahan, sebagai legislatif, sebagai
eksekutif, sebagai profesional, sebagai apa pun kita adalah on mission
untuk menyampaikan risalah dakwah ini dan dakwah kita semakin banyak
diminati oleh orang lain dan kerja kita semakin ringan tentunya dengan
banyaknya pendukung-pendukung dakwah ini. ***
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kalau Download Video disini : TaujihTerakhir Almarhumah Ustdz. Yoyoh Yusroh
*Nonton videonya lihat disumbernya : http://www.dakwatuna.com
Label:
featured,
Taujih Tokoh,
Ustdz.Yoyoh Yusroh
21.5.11
”Banyak
orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya
kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang
mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga
amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad.Perseteruan al haq dengan al bathil, seperti sabda Rasulullah akan
terus berlanjut hingga akhir zaman. Front (medan) pertarungan itu
mencakup seluruh isi kehidupan. Dan perseteruan itu juga terjadi pada
pendukung al haq dan al bathil. Budaya permissive dengan segala
turunannya ( laki-laki beranting, wanita ber-rok mini, makan minum
berdiri dll ) dilawan dengan budaya sunnah ( lelaki berjanggut dan para
perempuan menggunakan jilbab ), system ekonomi ribawi versus system
ekonomi tanpa riba (bagi hasil). Pendeknya, seperti kata as syahid
sayyid qutb dalam ma’alim fi at thariq, “tak akan ada persentuhan (perdamaian) antara al haq dan al bathil pada satu titik pun”.
AKTIFIS YANG SIAP JADI QIYADAH ATAU JUNDI
Written By Unknown on 21.5.11 | 21.5.11
”Banyak
orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya
kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang
mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. Dan banyak yang menjaga
amalnya, namun sedikit yang mampu melakukannya dengan kualitas jihad.Perseteruan al haq dengan al bathil, seperti sabda Rasulullah akan
terus berlanjut hingga akhir zaman. Front (medan) pertarungan itu
mencakup seluruh isi kehidupan. Dan perseteruan itu juga terjadi pada
pendukung al haq dan al bathil. Budaya permissive dengan segala
turunannya ( laki-laki beranting, wanita ber-rok mini, makan minum
berdiri dll ) dilawan dengan budaya sunnah ( lelaki berjanggut dan para
perempuan menggunakan jilbab ), system ekonomi ribawi versus system
ekonomi tanpa riba (bagi hasil). Pendeknya, seperti kata as syahid
sayyid qutb dalam ma’alim fi at thariq, “tak akan ada persentuhan (perdamaian) antara al haq dan al bathil pada satu titik pun”.
Dan karakteristik pertarungan antara al haq dan al bathil, meminjam
istilah ilmuwan social, seperti dua kelompok yang sedang memainkan
permainan tarik tambang. Kendor sedikit, kerugian yang dialami salah
satu pemain tak bisa dibayangkan. Karena itu, tidak hanya amal yang
mesti dipersiapkan oleh para aktivis. Namun juga konsistensi dan
komitmen untuk beramal terus menerus dengan kualitas yang tinggi.
Inilah yang diminta imam syahid hasan al banna tatkala ia berkata,”banyak
orang yang bisa berbicara namun sedikit yang mampu mewujudkannya
kedalam amal nyata. Banyak yang bisa beramal, namun tak banyak yang
mampu menjaga ( membuat kontinyu ) amalnya. ”.
Artinya, yang diminta dari kita tak sekedar amal ( QS.At Taubah : 105 )
tapi juga konsistensi dan kualitas amal. Seperti dalam Al qur’an surat
al-anfaal ayat ke-60, yang mampu menggetarkan semua musuh2 Allah.
Untuk itu, seorang aktivispun tak boleh lengah dalam permainan tarik
tambang tadi. Kelemahan pada aktivitas bisa menular pada yang lain.
Disinilah pentingnya seorang pemimpin. Agar kordinasi dan komando dapat
berlangsung efektif. Dan tiap aktivis harus selalu siap menjadi satu
diantara dua : menjadi qiyadah atau jundiyah.
Kadang kesiapan menjadi qiyadah lebih mudah dilaksanakan. Namun
menyiapkan diri untuk tho’at, disiplin dan siap diperintah (menjadi
jundi) terkadang jauh lebih sulit. Kita lebih ingin mengatur ketimbang
diatur. Padahal menjadi jundi yang baik sama besar perannya dan
kontribusinya dengan menjadi pemimpin yang baik.
Kepemimpinan dan keprajuritan dalam permainan tarik tambang tadi
sangatlah menentukan. Dengan kordinasi inilah bisa dilakukan pembagian
tugas yang adil dan mempertimbangkan berbagai kondisi yang melingkupi
semua peserta. Jika yang satu lelah akan diketahui dan digantkan
perannya oleh yang lain sesegara mungkin. Karena keterlambatan dalam
mengambil sikap dan keputusan dalam permainan tarik tambang bisa
berakibat bobolnya pertahanan tim secara keseluruhan.
Permainan tarik tambang ini, suatu saat pasti akan dimenangkan para prajurit Allah, sebagaimana janji Allah:” dan prajurit Allah-lah yang akan menang .. ( QS. Al Maidah : 56 ). Tinggal masalahnya sekarang adalah, sudahkah karakteristik jundullah sudah ada dalam diri kita ?.
WaAllahu ‘Alam
*)Sumber : Klik disini
8.5.11
3. Itu yg terjadi thn I Rasulullah di Madinah..pr sahabat memilih menghadang kafilah Abu Sofyan tp yg mrk hadapi adlh perang badar
4. “Kamu bharap pasukan yg tdk punya kekuatan yg kamu hadapi tp Allah hendak membenarkan kebenaran dgn kalimat2Nya..”
5. Lima tahun pertama saat pendirian negara Madinah Rasulullah telah berperang sebanyak 48 kali dan 5 thn terakhir sebanyak 20 kali
6. Jadi total pertempuran yg tlh dihadapi Rasulullah selama menegakkan negara Madinah adalah 68 kali..brp kali perbulan??
7. Dari total 68 kali pertempuran itu Rasululllah memimpin 28 kali diantaranya..itu semua mengokohkan posisi negara Madinah..
8. Syarat I menghadapi #tantangan adlh memperkuat hubungan dgn Allah sbb Dia yg mengatur permainan,Dia sumber ketenangan,keteguhan n keberanian
9. Syarat kedua menghadapi #tantangan adlh kelapangan dada dgn cara tdk mempersonalisasi masalah,tdk dendam dan tdk marah apalagi panik
10. Syarat ketiga menghadapi #tantangan adlh pemahaman yg menyeluruh thdp keseluruhan situasi dan llingkungan serta peta masalah yg jelas
11. Syarat keempat menghadapi #tantangan adalah soliditas organisasi dan pasukan yg memungkinkan semua rencana terlaksana dgn baik
12. Dgn keempat syarat itu kt punya lavarage utk mengubah #tantangan jd peluang..serangan jd bumerang bg lawan..
13. Jd #tantangan hrs kt pandang sbg berkah dan sumber kabaikan krn Allah menitipkan peluang di balik itu semua..
14. Jadi mari kita tersenyum dan menyambut tantangan sbg berkah yg akan melapangkan jalan kt utk tumbuh jd besar dan kokoh
15. Itu hanya setan,kata Allah,yg hendak menakut2i kamu dgn pembantu2nya”
16. Dgn semangat dan optimisme begitu kt hadapi semua #tantangan skrg kt mulai dgn menyiapkan nafas yg panjang..ini akan berlangsung lama
17. Supaya nafas kita panjang kt harus punya sumber keteguhan hati dan konsistensi yg tdk habis2
18. Selanjutnya kt hrs hemat energi..jgn bereaksi berlebihan..diam adalah kekuatan dlm banyak situasi
19. Yg memenangkan pertempuran bkn siapa yg membunuh lbh banyak tp yg bertahan hidup lbh lama
20. Mintalah ilham dr Allah dlm menghadapi #tantangan..krn ide2lah yg mengendalikan semua kerja dan gerakan kt
21. Kt jg hrs bekerja dgn penuh cinta dlm menghadapi #tantangan utk menjaga keseimbangan emosional kt..jgn pernah ada benci
22. Dlm sejarah manusia kebencian tdk pernah bisa mengalahkan cinta..sbb cinta memberi kt energi positif dan membuat kt nyaman hdpi
23. Ktk Ali hendak membunuh lawannya dlm sbh pertempuran tiba2 wajahnya diludahi..Ali tdk jd membunuh lawannya itu krn ia merasa benci#tantangan
24. Kt menang bukan krn kt berkuasa tp krn kebenaran jd nyata dalam kehidupan manusia..itu hanya mungkin krn cinta #tantangan
25. Cinta membuat kt menikmati hdp saat mhadapi #tantangan dan benci membuat org lelah bahkan dalam kenikmatan
26. Bekerja dgn cinta biasanya memudahkan turunnya ilham yg mendatangkan ide2 segar dan brilian dlm mhadapi #tantangan
27. Ide besar biasanya hanya membutuhkan uang kecil dan uang besar digunakan saat ide besar hilang
@anismatta Bercerita Tentang #tantangan Dalam Dakwah
Written By Unknown on 8.5.11 | 8.5.11
1. Tdk ada dakwah yg besar tanpa #tantangan besar..itu momentum yg disediakan Allah utk membesarkan dakwah..itu isyarat kemenangan
2. Scr naluriah kt pasti cendrung jalan mudah menuju kemenangan..tp jk Allah hendak memberi kt kemenangan besar Ia alihkan jalan kt3. Itu yg terjadi thn I Rasulullah di Madinah..pr sahabat memilih menghadang kafilah Abu Sofyan tp yg mrk hadapi adlh perang badar
4. “Kamu bharap pasukan yg tdk punya kekuatan yg kamu hadapi tp Allah hendak membenarkan kebenaran dgn kalimat2Nya..”
5. Lima tahun pertama saat pendirian negara Madinah Rasulullah telah berperang sebanyak 48 kali dan 5 thn terakhir sebanyak 20 kali
6. Jadi total pertempuran yg tlh dihadapi Rasulullah selama menegakkan negara Madinah adalah 68 kali..brp kali perbulan??
7. Dari total 68 kali pertempuran itu Rasululllah memimpin 28 kali diantaranya..itu semua mengokohkan posisi negara Madinah..
8. Syarat I menghadapi #tantangan adlh memperkuat hubungan dgn Allah sbb Dia yg mengatur permainan,Dia sumber ketenangan,keteguhan n keberanian
9. Syarat kedua menghadapi #tantangan adlh kelapangan dada dgn cara tdk mempersonalisasi masalah,tdk dendam dan tdk marah apalagi panik
10. Syarat ketiga menghadapi #tantangan adlh pemahaman yg menyeluruh thdp keseluruhan situasi dan llingkungan serta peta masalah yg jelas
11. Syarat keempat menghadapi #tantangan adalah soliditas organisasi dan pasukan yg memungkinkan semua rencana terlaksana dgn baik
12. Dgn keempat syarat itu kt punya lavarage utk mengubah #tantangan jd peluang..serangan jd bumerang bg lawan..
13. Jd #tantangan hrs kt pandang sbg berkah dan sumber kabaikan krn Allah menitipkan peluang di balik itu semua..
14. Jadi mari kita tersenyum dan menyambut tantangan sbg berkah yg akan melapangkan jalan kt utk tumbuh jd besar dan kokoh
15. Itu hanya setan,kata Allah,yg hendak menakut2i kamu dgn pembantu2nya”
16. Dgn semangat dan optimisme begitu kt hadapi semua #tantangan skrg kt mulai dgn menyiapkan nafas yg panjang..ini akan berlangsung lama
17. Supaya nafas kita panjang kt harus punya sumber keteguhan hati dan konsistensi yg tdk habis2
18. Selanjutnya kt hrs hemat energi..jgn bereaksi berlebihan..diam adalah kekuatan dlm banyak situasi
19. Yg memenangkan pertempuran bkn siapa yg membunuh lbh banyak tp yg bertahan hidup lbh lama
20. Mintalah ilham dr Allah dlm menghadapi #tantangan..krn ide2lah yg mengendalikan semua kerja dan gerakan kt
21. Kt jg hrs bekerja dgn penuh cinta dlm menghadapi #tantangan utk menjaga keseimbangan emosional kt..jgn pernah ada benci
22. Dlm sejarah manusia kebencian tdk pernah bisa mengalahkan cinta..sbb cinta memberi kt energi positif dan membuat kt nyaman hdpi
23. Ktk Ali hendak membunuh lawannya dlm sbh pertempuran tiba2 wajahnya diludahi..Ali tdk jd membunuh lawannya itu krn ia merasa benci#tantangan
24. Kt menang bukan krn kt berkuasa tp krn kebenaran jd nyata dalam kehidupan manusia..itu hanya mungkin krn cinta #tantangan
25. Cinta membuat kt menikmati hdp saat mhadapi #tantangan dan benci membuat org lelah bahkan dalam kenikmatan
26. Bekerja dgn cinta biasanya memudahkan turunnya ilham yg mendatangkan ide2 segar dan brilian dlm mhadapi #tantangan
27. Ide besar biasanya hanya membutuhkan uang kecil dan uang besar digunakan saat ide besar hilang
*)Sumber : Berita PKS.com
Label:
Anis Matta,
featured,
Taujih Tokoh