Latest Post
9.7.11
16 Parpol Sudah Terdaftar di Kesbangpol Donggala
Written By Unknown on 9.7.11 | 9.7.11
16 Parpol Melapor Ke Kesbangpol Donggala
MERCUSUAR – Masa pemberitahuan keberadaan partai politik (parpol) di Kabupaten Donggala, hingga Kamis (7/7), tercatat 16 parpol yang menyampaikan laporan keberadaannya kepada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas).
Jika bulan lalu hanya tercatat 12 parpol, kini bertambah empat yaitu, PKPB, PKS dan PPRN serta PKPI. Sebelumnya telah mendaftar berturut-turut, Partai Nasdem, PDIP, PDS, PKB, Partai Gerindra, PBB, Partai Buruh, Partai Hanura, Partai Golkar, PPP, PAN dan Partai Demokrat.
Kepala Bidang Politik Badan Kesbangpolinmas Donggala, HM. Ilyas Wella, menyatakan pihaknya masih menunggu parpol lain jika ada yang ingin melaporkan keberadaannya di Kabupaten Donggala. Selanjutnya dilakukan verifikasi atas kelengkapan dokumen administrasinya.
Dari 16 parpol yang sudah melapor dan mengikuti proses verifikasi, sebelas diantaranya memiliki kursi di DPRD Kabupaten (Dekab) Donggala, yaitu Partai Golkar dengan lima kursi, Demokrat empat kursi, PPP, Gerindra, dan PKS yang masing-masing memiliki tiga kursi. PDIP, PKB, PAN, dan Hanura yang masing-masing memiliki dua kursi, serta PBB dan PPRN masing-masing satu kursi.
Sementara delapan parpol lainnya, merupakan parpol yang memiliki kursi legislatif Donggala hasil Pemilu 2009. Delapan parpol yang masuk dalam kelompok non parlemen ini, yakni PKPB, PKPI, Partai Buruh dan PDS. Adapun Partai Nasdem adalah parpol baru yang belum mengikuti Pemilu 2009.
Menurut Ilyas, untuk 16 parpol tersebut hanya dilakukan verifikasi berkas administrasi, sementara terkait keberadaan sekretariat parpol hanya dilihat berdasarkan surat keterangan dari kelurahan/desa dimana parpol itu berkantor. “Kami tidak lagi turun melihat di mana kantor parpol,” ujarnya. HID
MERCUSUAR – Masa pemberitahuan keberadaan partai politik (parpol) di Kabupaten Donggala, hingga Kamis (7/7), tercatat 16 parpol yang menyampaikan laporan keberadaannya kepada Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas).
Jika bulan lalu hanya tercatat 12 parpol, kini bertambah empat yaitu, PKPB, PKS dan PPRN serta PKPI. Sebelumnya telah mendaftar berturut-turut, Partai Nasdem, PDIP, PDS, PKB, Partai Gerindra, PBB, Partai Buruh, Partai Hanura, Partai Golkar, PPP, PAN dan Partai Demokrat.
Kepala Bidang Politik Badan Kesbangpolinmas Donggala, HM. Ilyas Wella, menyatakan pihaknya masih menunggu parpol lain jika ada yang ingin melaporkan keberadaannya di Kabupaten Donggala. Selanjutnya dilakukan verifikasi atas kelengkapan dokumen administrasinya.
Dari 16 parpol yang sudah melapor dan mengikuti proses verifikasi, sebelas diantaranya memiliki kursi di DPRD Kabupaten (Dekab) Donggala, yaitu Partai Golkar dengan lima kursi, Demokrat empat kursi, PPP, Gerindra, dan PKS yang masing-masing memiliki tiga kursi. PDIP, PKB, PAN, dan Hanura yang masing-masing memiliki dua kursi, serta PBB dan PPRN masing-masing satu kursi.
Sementara delapan parpol lainnya, merupakan parpol yang memiliki kursi legislatif Donggala hasil Pemilu 2009. Delapan parpol yang masuk dalam kelompok non parlemen ini, yakni PKPB, PKPI, Partai Buruh dan PDS. Adapun Partai Nasdem adalah parpol baru yang belum mengikuti Pemilu 2009.
Menurut Ilyas, untuk 16 parpol tersebut hanya dilakukan verifikasi berkas administrasi, sementara terkait keberadaan sekretariat parpol hanya dilihat berdasarkan surat keterangan dari kelurahan/desa dimana parpol itu berkantor. “Kami tidak lagi turun melihat di mana kantor parpol,” ujarnya. HID
*Sumber : harianmercusuar.com
Label:
Donggala,
Pemilu,
Verifikasi Parpol
8.7.11
"Mengapa agama saya begitu rumit?," keluhnya pada diri sendiri. Sepanjang hidup, ia belajar memahami agama nenek moyangnya itu. Tetapi ketika sampai pada konsep ketuhanan ia benar-benar bingung. "Terutama tentang mengapa Tuhan akan datang sebagai manusia dan akan membiarkan dirinya untuk mati bagi dosa-dosa pengikutnya," terangnya menceritakan kisah hidupnya.Keyakinannya mengenai ketuhanan terus bergeser. Di masa remaja ia menyederhanakan konsep trinitas "tiga dalam satu" menjadi "dua dalam satu." Menginjak dewasa, ia semakin yakin bahwa pencipta harusnya hanya satu.
Bintang Film AS masuk Islam
Written By Unknown on 8.7.11 | 8.7.11
Dibesarkan di keluarga Katolik, bintang film televisi Amerika Serikat ini merasa bingung dengan keyakinannya. Pada usia 14 tahun, ia mulai mempertanyakan konsep trinitas.
Wanita itu bernama Angela Collins. Ia menjadi buah bibir di Amerika Serikat. Bukan tentang film televisi yang dibintanginya, tapi tentang keislamannya. Ia bersyahadat tak lama setelah Tragedi 11 September 2001.
Collins pada akhirnya berkesempatan mempelajari Islam. "Saya melihat Islam sebagai agama yang datang untuk mengklarifikasi kesalahan manusia yang mengubah firman Allah yang asli agar sesuai kepentingan mereka. Islam adalah sederhana: Allah adalah Allah. Allah menciptakan kami dan kami menyembah Allah dan Allah saja.
Allah mengutus Musa, Yesus, dan Muhammad (SAW) untuk menyampaikan pesan-Nya untuk membimbing semua orang," katanya setelah mengetahui Islam.Collins dengan sungguh-sungguh mempelajari kitab suci Al-Qur'an. "Setelah membaca Al-Quran dua kali dan menelaahnya secara rinci, saya percaya bahwa karya ini hanya bisa datang dari Pencipta saya" kenang Collins yang kemudian mantap memilih Islam sebagai agamanya.
Menjadi mualaf bukan berarti tanpa tantangan bagi Collins. Amerika Serikat yang salah memahami Islam menjadi tantangan beratnya. Termasuk keluarga Collins sendiri. "Sudah bukan rahasia lagi bahwa Islam secara serius disalahpahami di tanah air saya, Amerika Serikat. Maka, pilihan saya pada agama 'kontroversial' ini membuat keluarga dan teman-teman bingung," jelasnya.
Meskipun demikian, langkah Collins telah kokoh. Kebenaran Islam telah menenangkan jiwanya dan mengokohkan langkahnya menghadapi setiap tantangan yang justru dijadikan peluang bagi Collins untuk mendakwahkan Islam di negeri yang sementara ini memusuhi agama yang benar ini.
*Sumber : Bersama Dakwah
Label:
Amerika,
Bintang Film Masuk Islam,
Dunia Islam
5.7.11
Menolak Lepas Jilbab, Hani Khan Dipecat
Written By Unknown on 5.7.11 | 5.7.11
REPUBLIKA.CO.ID,CALIFORNIA - Seorang karyawan gudang Abercrombie & Fitch menggugat perusahaan ritel pakaian tersebut di pengadilan Amerika Serikat. Karyawan muslim itu mengatakan bahwa dirinya secara ilegal dipecat setelah menolak untuk melepas jilbabnya.
Hani Khan, nama muslimah tersebut, mengatakan bahwa seorang manajer toko di Mall Hillsdale di San Mateo, California, mempekerjakannya ketika dirinya sudah mengenakan jilbab. Hani Khan pun diterima dan diperbolehkan tetap mengenakan jilbab dengan syarat warnanya senada dengan warna perusahaan.
Tapi, empat bulan kemudian, wanita berusia 20 tahun itu mendapat pertanyaan mengejutkan. Hani Khan diminta oleh seorang manajer distrik dan manajer sumber daya manusia apakah ia bisa melepaskan jilbab saat bekerja. Hani Khan diskors dan kemudian dipecat karena menolak untuk melakukannya.
Gugatan Hani Khan muncul setelah Komisi Equal Employment Opportunity memutuskan bahwa Hani Khan dipecat secara ilegal.
Hani Khan, nama muslimah tersebut, mengatakan bahwa seorang manajer toko di Mall Hillsdale di San Mateo, California, mempekerjakannya ketika dirinya sudah mengenakan jilbab. Hani Khan pun diterima dan diperbolehkan tetap mengenakan jilbab dengan syarat warnanya senada dengan warna perusahaan.
Tapi, empat bulan kemudian, wanita berusia 20 tahun itu mendapat pertanyaan mengejutkan. Hani Khan diminta oleh seorang manajer distrik dan manajer sumber daya manusia apakah ia bisa melepaskan jilbab saat bekerja. Hani Khan diskors dan kemudian dipecat karena menolak untuk melakukannya.
Gugatan Hani Khan muncul setelah Komisi Equal Employment Opportunity memutuskan bahwa Hani Khan dipecat secara ilegal.
*Sumber : http://www.republika.co.id
Label:
Dunia Islam,
Jilbab
1.7.11
Rencana itu terlalu halus untuk dideteksi secara dini oleh para pemimpin musyrik Quraisy.Tiba-tiba saja Makkah terasa lengang dan sunyi. Ada banyak wajah yang terasa perlahan-lahan enghilang dari lingkungan pergaulan. Tapi tidak ada berita. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang sedang terjadi dalam komunitas Muslim di bawah pimpinan Rasulullah SAW. Ini memang bukan rencana yang bisa dirahasiakan dalam waktu lama. Orang-orang musyrik Makkah akhirya memang mengetahui bahwa kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Tapi setelah proses hijrah hampir selesai. Maka gemparlah penduduk Makkah. Tapi. Sebuah episode baru dalam sejarah telah dimulai: sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara, dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya; sebuah agama telah menemukan “orang-orangnya”, setelah itu mereka akan menancapkan “bangunan peradaban” mereka.
Dari Gerakan Ke Negara
Written By Unknown on 1.7.11 | 1.7.11
Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Sebab yang berpijak di atas tanah adalah manusia maka di sanalah Islam pertama kali menyemaikan dirinya; dalam ruang pikiran, ruang jiwa, dan ruang gerak manusia. Tanah hanya akan menjadi penting ketika komunitas “manusia baru” telah terbentuk dan mereka membutuhkan wilayah teritorial untuk bergerak secara kolektif, legal, dan diakui sebagai sebuah entitas politik.
Karena tanah hanya merupakan persoalan kedua maka tidaklah heran bila pilihan daerah tempat hijrah diperluas oleh rasulullah SAW. Dua kali sebelumnya, kaum Musimin, dalam jumlah yang lebih kecil, berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), baru kemudian berhijrah keseluruhan ke Madinah. Tapi, ketika kaum Muslimin sudah berhijrah seluruhnya ke madinah, mereka yang sebelumnya telah berhijrah ke Habasyah tidak serta merta dipanggil oleh Rasulullah SAW. Mereka baru menyusul ke Madinah lima atau enam tahun kemudian.
Ketika mereka tiba di Madinah, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, kaum Muslimin baru saja memenangkan perang Khaibar, sebuah peperangan yang sebenarnya mirip dengan sebuah pengusiran, menyusul pengkhianatan kaum Yahudi dalam perang Khandaq. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak tahu dengan apa aku digembirakan oleh Allah; apakah dengan kemenangan dalam perang Khaibar atau dengan kedatangan Ja’far?”
Dari Gerakan Ke Negara
Hijrah, dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara. Tiga belas tahun sebelumnya, Rasulullah SAW melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis, di mana Islam menjadi jalan hidup individu; di mana Islam “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”. Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”, dan Madinah adalah wilayahnya.
Kalau individu membutuhkan aqidah maka negara membutuhkan perangkat sistem. Setelah komunitas Muslim menegara, dan mereka memilih Madinah sebagai wilayahnya, Allah SWT menurunkan perangkat sistem yang mereka butuhkan. Turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik, keamanan dan lain-lain. Lengkaplah sudah susunan kandungan sebuah negara: manusia, tanah, dan sistem.
Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah SAW sebenarnya relatif mirip dengan semua yang mungkin dilakukan para pemimpin politik yang baru mendirikan negara. Pertama, membangun infrastruktut negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antarkomunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas agama, antara sebagian komunitas “Quraisy” dan “Yatsrib” menjadi komunitas “Muhajirin” dan “Anshar”. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan negara melalui konsep Jihad fi Sabilillah.
Lima tahun pertama setelah hijrah kehidupan dipenuhi oleh kerja keras Rasulullah SAW beserta para shahabat beliau untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara Madinah. Dalam kurun waktu itu, Rasulullah SAW telah melakukan lebih dari 40 kali peperangan dalam berbagai skala. Yang terbesar dari semua peperangan itu adalah perang Khandaq, di mana kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi di sekitar Madinah karena semua peperangan sudah bersifat ekspansif. Negara Madinah membuktikan kekuatan dan kemandiriannya, eksistensinya, dan kelangsungannya. Di sini, kaum Muslimin telah membuktikan kekuatannya, setelah sebelumnya kaum Muslimin membuktikan kebenarannya.
Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahapan ini adalah menegakkan negara. Sebagai sebuah bangunan, negara membutuhkan dua bahan dasar: manusia dan sistem. Manusialah yang akan mengisi suprastruktur. Sedangkan sistem adalah perangkat lunak, sesuatu dengan apa negara bekerja.
Islam adalah sistem itu. Oleh karena itu Islam bersifat given. Tapi, manusia adalah sesuatu yang dikelola dan dibelajarkan sedemikian rupa hingga sistem terbangun dalam dirinya, sebelum kemudian mengoperasikan negara dalam sistem tersebut. Untuk itulah Rasulullah SAW memilih manusia-manusia terbaik yang akan mengoperasikan negara itu.
Selain kedua bahan dasar negara itu, juga perlu ada bahan pendukung lainnya. Pertama, tanah. Tidak ada negara tanpa tanah. Tapi, dalam Islam, hal tersebut merupakan infrastruktur pendukung yang bersifat sekunder sebab tanah merupakan benda netral, yang akan mempunyai makna ketika benda tersebut dihuni oleh manusia dengan cara hidup tertentu. Selain berfungsi sebagai ruang hidup, tanah juga merupakan tempat Allah menitip sebagian kekayaan-Nya yang menjadi sumber daya kehidupan manusia.
Kedua, jaringan sosial. Manusia sebagai individu hanya mempunyai efektifitas ketika ia terhubung dengan individu lainnya secara fungsional dalam suatu arah yang sama.
Itulah perangkat utama yang diberikan untuk menegakkan negara; sistem, manusia, tanah, dan jaringan sosial. Apabila ke dalam unsur-unsur utama itu kita masukkan unsur ilmu pengetahuan dan unsur kepemimpinan maka keempat unsur utama tersebut akan bersinergi dan tumbuh secara lebih cepat. Walaupun, secara implisit, sebenarnya unsur ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam sistem dan unsur kepemimpinan sudah masuk ke dalam unsur manusia.
Itulah semua yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama tiga belas tahun berdakwah dan membina sahabat-sahabatnya di Makkah; menyiapkan semua perangkat yang diperlukan dalam mendirikan sebuah negara yang kuat. Hasil dakwah dan pembinaan itulah yang kemudian tumpah ruah di Madinah dan mengkristal secara sangat cepat.
Begitulah transformasi itu terjadi. Ketika gerakan dakwah menemui kematangannya, ia menjelma jadi negara; ketika semua persyaratan dari sebuah negara kuat telah terpenuhi, negara itu tegak di atas bumi, tidak peduli di belahan bumu manapun ia tegak. Proses transformasi ini memang terjadi sangat cepat dan dalam skala yang sangat besar. Tapi, proses ini sekaligus mengajari kita dua hakikat besar: pertama, tentang hakikat dan tujuan dakwah serta strategi perubahan sosial. Kedua, tentang hakikat negara dan fungsinya.
Perubahan Sosial
Tujuan dakwah adalah mengejawantahkan kehendak-kehendak Allah SWT –yang kemudian kita sebut agama, tau syariah- dalam kehidupan manusia. Syariah itu sesungguhnya merupakan sistem kehidupan yang integral, sempurna, dan universal. Karena manusia yang akan melaksanakan dan mengoperasikan sistem tersebut maka manusia harus disiapkan untuk peran itu. Secara struktural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya, perubahan sosial harus dimulai dari sana; membangun ulang susunan keribadian individu, mulai dari cara berpikir hingga cara berperilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial ekonomi politik yang juga baru.
Begitulah Rasulullah SAW memulai pekerjaannya. Beliau melakukan penetrasi ke dalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang terbaik di antara mereka. Menjelang hijrah ke Madinah, beliau juga merekrut orang-orang terbaik dari penduduk Yatsrib. Maka terbentuklah sebuah komunitas baru di mana Islam menjadi basis identitas mereka, aqidah menjadi dasar ikatan kebersamaan mereka, ukhuwah menjadi sistem jaringan mereka, dan keadilan menjadi prinsip dstribusi sosial-ekonomi-politik mereka. Tapi, perubahan itu bermula dari sana; dari dalam individu, dari dalam pikiran, jiwa dan raganya.
Model perubahan sosial seperti itu mempunyai landasan pada sifat natural manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Perubahan mendasar akan terjadi dalam diri individu jika ada perubahan mendasar pada pola pikirnya karena pikiran adalah akar perilaku. Masyarakat juga begitu. Ia akan berubah secara mendasar jika individu-individu dalam masyarakat itu berubah dalam jumlah yang relatif memadai. Tapi, model perubahan ini selalu gradual dan bertahap. Prosesnya lebih cenderung evolusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11)
Fungsi Negara
Dalam konsep politik Islam, syariat atau kemudian kita sebut sistem atau hukum, adalah sesuatu yang sudah ada, given. Negara adalah institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem tersebut. Inilah perbedaan mendasar dengan negara sekuler, di mana sistem atau hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena hal tersebut sebelumnya tidak ada.
Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan-perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia. Dari bentuk negara kerajaan, parlementer, hingga presidensiil. Skala negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antarnegara, dari imperium besar ke negara bangsa, dan barangkali, yang sekarang jadi mimpi pemerintahan George W. Bush junior di Amerika: negara dunia atau global state. Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk.
Oleh karena itu semua merupakan variabel yang terus berubah, dinamis, dan tidak statis, maka Islam tidak membuat batasan tertentu tentang negara. Bentuk boleh berubah, tapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penerapan syariat Allah SWT. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; dari sistem khilafah ke kerajaan dan sekarang berbentuk negara bangsa dengan sistem yang beragam dari monarki, presidensiil, dan parlementer. Walaupun tentu saja ada bentuk yang lebih efektif menjalankan peran dan fungsi tersebut, yaitu sistem khilafah yang sebenarnya lebih mirip dengan konsep global state. Tapi, efektifitasnya tidaklah ditentukan semata oleh bentuk dan sistem pemerintahannya, tapi terutama oleh suprastrukturnya, yaitu manusia.
Namun demikian, kita akan melakukan kesalahan besar kalau kita menyederhanakan makna negara Islam dengan membatasinya hanya dengan pelaksanaan hukum, pidana dan perdata, serta etika sosial politik lainnya. Persepsi ini yang membuat negara Islam lebih berciri moral ketimbang ciri lainnya. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa syariat Allah itu bertujuan memberikan kebahagiaan kepada manusia secara sepurna; tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta rasa aman dan kesejahteraan hidup.
Hukum-hukum Islam dalam bidang pidana dan perdata sebenarnya merupakan sub-sistem. Tapi, dampak penerapan syariah tersebut pada penciptaan keamanan dan kesejahteraan hanya dapat muncul di bawah sebuah pemerintahan yang kuat. Hal itu bertumpu pada manusia. Hanya “orang kuat yang baik” yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan, bukan orang yang baik. Bagaimanapun, hanya orang kuat dan baik yang dapat menerapkan sistem Allah secara sempurna. Inilah makna hadits Rasulullah SAW “laki-laki mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada laki-laki mukmin yang lemah.”
Alangkah dalamnya penghayatan Umar bin Khattab tentang masalah ini ketika berdoa, “Ya Allah lindungilah kami dari orang yang bertaqwa yang lemah dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.” Inilah sesungguhnya misi gerakan Islam: melahirkan orang-orang baik yang kuat atau orang-orang kuat yang baik. [Anis Matta]
*Sumber : beritapks.com
Label:
Anis Matta,
Nilai Pancasila,
Taujih Tokoh
1.7.11
Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah
| Muhammad Abdullah Al Khat |
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.
Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.
Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta’alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai’at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan: “…Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik – antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. “Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka” (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.”
Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.
Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.Umar berkata kepada Abu Bakar, ‘Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu.’ Abu Bakar berkata, ‘Akulah yang membai’atmu.’
Umar berkata, ‘Kamu lebih utama dariku.’ Abu Bakar berkata, ‘Kamu lebih kuat dariku.’
Setelah itu Umar ra berkata, ‘Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.’ Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.
Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, ‘Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?’
Imam Asy-Syahid menjawab, ‘Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’
‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski
demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, ‘Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.’
Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.’ Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.
Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.
Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalahagama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat
beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.
Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah.
Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.
Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).
*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta’alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil.
*Sumber : al-ikhwan.net
Label:
Belajar Dari Ikhwan,
Dunia Islam
27.6.11
Foto Jurnalis Terbaru 2011
Written By Unknown on 27.6.11 | 27.6.11
![]() |
| Foto Tunggal (Jattman/pksdgl) |
Ini adalah jenis Foto Jurnalis terbaru 2011 sekaligus foto pertama dari Fotografer pemula di Sulawesi Tengah pada saat mengikuti Pelatihan Media PKS sesi pertama selama 2 jam. Ada dua jenis foto dalam dunia jurnalis, pertama Foto tunggal dan kedua Foto Story. Salah satu ciri Foto Jurnalis adalah kesesuaian antara tema dengan gambar. Terkadang para fotografer pemula menempatkan gambar tidak sesuai dengan cerita yang akan disampaikan bahkan tidak ada keterkaitan sama sekali. Sesungguhnya cerita awal yang akan diangkat dalam gambar ini adalah profil penjual sepedanya, ternyata setelah sampai dimeja editing, gambar tersebut tidak menggambarklan profilnya, tapi sedang tawar menawar harga. SEMOGA SEMAKIN BAIK DIMASA AKAN DATANG. AMIIIN.
Label:
Foto Jurnalis,
Foto Tunggal,
Galeri Foto
26.6.11
"Kegiatan ini bertujuan membangkitkan kesadaran media seluruh kader PKS. dan diharapkan mulai tahun ini kami memiliki stok sumberdaya manusia yang andal di bidang kehumasan dan media, minimal tiga orang disetiap kota/kabupaten di seluruh Indonesia " Ujar Wasekjen Bidang Media, Mahfudz Siddiq beberapa waktu lalu.
PELATIHAN MEDIA PKS SULTENG
Written By Unknown on 26.6.11 | 26.6.11
Penggunaan media sosial yang terus marak di Indonesia diarahkan pada ajakan untuk melakukan gerakan sosial, menyusul kekuatan dan dampaknya yang sangat besar dalam masyarakat.
Sosiolog Jejaring Sosial Roby Muhamad mengatakan media sosial memiliki kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat, terutama bagi media yang kaya visual dan narasi melalui video.
Menurut dia, media sosial sekaligus dapat membentuk komunitas sosial yang berbeda sebagai pengikutnya, dengan menciptakan koordinasi tersendiri pada tiap komunitas tanpa harus dilakukan secara terpusat.(bisnis.com).
Menyikapi hal tersebut, Tim Media yang dimotori oleh para praktisi media berpengalaman dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik, melakukan PELATIHAN MEDIA bersama Partai Keadilan sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah di Kota Palu pada hari Sabtu, 25-26 Juni 2011.Para peserta yang terdiri dari utusan DPD-DPD dibekali materi tentang teknik menulis, teknik foto jurnalis, dan teknik videografi, maupun strategi kehumasan dan pengelolaan social media.
Menyikapi hal tersebut, Tim Media yang dimotori oleh para praktisi media berpengalaman dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik, melakukan PELATIHAN MEDIA bersama Partai Keadilan sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah di Kota Palu pada hari Sabtu, 25-26 Juni 2011.Para peserta yang terdiri dari utusan DPD-DPD dibekali materi tentang teknik menulis, teknik foto jurnalis, dan teknik videografi, maupun strategi kehumasan dan pengelolaan social media.
| (Ketua DPW PKS Sulteng) |
Diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya serta Mars PKS, acara pelatihan media ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPW PKS Sulawesi Tengah H. Zainuddin Tambuala,MA.
Dalam sambutannya mengatakan bahwa Alllah SWT telah jelas mengabarkan hal tersebut dalam Alqur'an surat Al Hujurat ayat 6, bahwa "Jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya". Disinilah peran seorang jurnalis mengelola berita. Oleh karenanya siapapun dihadapan kita, mereka adalah objek dakwah kita. maka jangan antum lewati satupun momentum tanpa adanya sebuah informasi atau berita didalamnya. Syumuliatul Islam selalu mendampingi segala aktifitas kita sehari-hari, termasuk masalah media, fotografi dan videografi. "Kedepan semua kegiatan-kegiatan DPD akan dievaluasi langsung oleh tim media pusat sampai sejauhmana tingkat keberhasilan para peserta dalam mengikuti pelatihan kali ini", kata ustad ZEN sapaan akrab beliau dalam mengakhiri sambutannya.
Peserta kemudian dibagi menjadi 3 kelas yakni kelas Media, Foto Jurnalis dan Videografi, dan diakhir sesi para peserta langsung kelapangan untuk mempraktekan materi yang telah disampaikan sebagai bahan dasar informasi atau berita yang nantinya akan diedit langsung oleh para trainer.
"Hanya orang-orang yang memiliki kesabaran tinggi menekuni Profesi ini, bayangkan saja untuk membuat sebuah berita dalam bentuk foto story kita harus mengikuti event tersebut sampai selesai", ujar salah seorang peserta.
Peserta kemudian dibagi menjadi 3 kelas yakni kelas Media, Foto Jurnalis dan Videografi, dan diakhir sesi para peserta langsung kelapangan untuk mempraktekan materi yang telah disampaikan sebagai bahan dasar informasi atau berita yang nantinya akan diedit langsung oleh para trainer.
| (Salah satu peserta) |
Label:
Al qur'an,
Foto Jurnalis,
Foto story,
Pelatihan Media,
Sosial media


























