Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

[AKU] Ingin Jadi Bupati

Written By Unknown on 18.8.11 | 18.8.11


ABD. RASYID, A.Md
Donggala-Pilkada Donggala masihlah lamanamun baliho bertebaran sudah… ungkapan ini sering terdengar di setiap pertemuan beberapa orang di wilayah Kabupaten Donggala. Ada bernada sinis, sindirian halus hingga nada dukung-mendukung, hal ini tentu bukanlah salah apalagi musibah. Justru sebaliknya patut mendapat apresiasi positif dari kehendak anak daerah yang berkeinginan untuk memperbaiki daerahnya.

Keinginan dan kehendak tersebut sudah menjadi tuntutan fitrawi, di mana subjektivitas diri yang merasa pantas untuk menjadi pemimpin merupakan Hak Asasi yang tidak bisa dikungkung apalagi di larang. Sedangkan dalam sejarah kenabian pun kehendak untuk meminta jabatan mendapat tempat yang terakui dalam kitab suci. Lihat saja di dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 55 Dia (Yusuf) berkata : “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir); karena susungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan”.

Namun demikian, pengakuan kehendak ini tidaklah dilihat secara sepenggal tetapi harus dilihat secara utuh dan menyuluruh. Utuh dalam hal pemenuhan syarat-syarat yang pantas untuk memimpin dan menyeluruh dalam hal proses hidup yang dialami hingga layak untuk meminta jabatan. Oleh karena itu untuk melihat secara utuh dan menyeluruh maka syarat-syarat yang dipenuhi hingga sosok nabi Yusuf pantas untuk meminta jabatan adalah :

Pertama kebaikan dan kebenaran nabi Yusuf, di mana nabi Yusuf mampu menakwilkan mimpi (memprediksi, merumuskan, merencanakan program dan agenda kerja masa depan) yang tepat dan akurat sehingga mesir terhindar dari krisis besar. Kedua Kejujuran dan Akhlaq mulia, di mana nabi Yusuf mampu menjaga kehormatan diri dengan tidak tergoda oleh rayuan wanita (istri majikannya) hingga ia rela untuk memilih hukuman/penjara. Ketiga bertakwa dan bersabar, kisah nabi Yusuf menggambarkan proses hidup yang berliku, dikhianati saudara sendiri, dipisahkan dari orang tua, diperjual-belikan sebagai budak, hingga masuk dalam penjara selama beberapa tahun, namun dikarenakan ketakwaan yang tinggi kepada Tuhan-Nya maka proses hidup tersebut diterimanya dengan kesabaran & ketakwaan. Keempat Pemaaf, dan memberi pelajaran sebagai hukuman bukan atas dasar rasa dendam.  Di akhir kisahnya, nabi Yusuf diceritakan memberi pelajaran kepada saudaranya agar memahami akibat dari perbuatan jahat yang telah mereka lakukan, dan setelah itu memberi maaf yang seluas-luasnya demi menyambung kembali tali persaudaraan yang telah lama terpisah.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka patutlah kiranya kisah nabi Yusuf dijadikan sebagai dasar awal untuk melakukan perenungan terhadap kehendak meminta jabatan/menjadi pemimpin baik sebagai calon pemimpin (bupati/wakil bupati dsb) maupun sebagai masyarakat pemilih yang akan memilih pemimpin. Adapun pertanyaan yang dapat dijadikan sebagai bahan renungan adalah :
1.      Sudahkah terumuskan dengan jelas dan terperinci agenda kerja yang ditawarkan oleh sang Calon? Masyarakat umum sudah mengetahui bahwa ketepatan dan keakuratan program pemimpin bukan terlihat dari slogan dan semboyan semata melainkan bukti dan fakta. Jadi kebenaran seorang calon pemimpin dapat dilihat dari kerja nyata dan sering berkata benar, bukan janji apalagi sering berkata dusta (lain kata lain perbuatan) -Silahkan menilai rakam jejak sang calon yang muncul-
2.      Dapatkah sang calon terhindar dari godaan harta, tahta dan wanita? Pertanyaan ini merupakan hal yang mendasar dikarenakan motivasi dan dorongan duniawi terkhusus wanita selalu menjadi faktor penentu kegagalan seorang pemimpin. Apalagi untuk konteks zaman ini sosok wanita sudah menjadi bahan komoditas untuk meloloskan kepentingan-kepentingan tertentu, wanita menjadi pelobi handal yang mampu menggoyahkan integritas pemimpin –Silahkan lihat sepak terjang sang calon-
3.      Sejauhmana aspek keshalehan sang calon yang muncul? Bagaimanapun aspek keshalehan adalah salah satu indikator memilih pemimpin, yang lebih lanjut secara personal keshalehan sang calon mesti pula berdimensi sosial. Di mana ukuran keshalehan sang calon dapat dilihat dari kedekatannya dengan keluarganya, tetangga, dan tingkat kepeduliaanya dengan masyarakat, serta rutinitas ibadah yang tak pernah putus – Ketahui secara detil kehidupan sehari-hari sang calon - .
4.      Dapatkan sang calon menyanjung atau memuji saingan politiknya? Nah, hal ini terkadang sering terjadi di mana kompetisi memperebutkan jabatan sering diiringi dengan blac campaign (kampanye hitam) saling hujat, saling serang, mencari kelemahan, fitnah merajalela, dan menghalalkan segala cara. – perhatikan setiap kata dan perbuatan sang calon -.

Akhirnya setelah melakukan perenungan tersebut di atas dan bersandar pada sejarah-sejarah yang pernah ada, maka tidak ada salahnya untuk mempersilahkan setiap orang berkeinginan dan memprokalmirkan diri bahwa: “(AKU) Ingin Menjadi Bupati”, namun dengan catatan siap pula untuk berkaca diri atas kapasitas yang dimiliki. Disamping itu haruslah selalu diingat bahwa Tuhan memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendakinya.

Oleh karena itu setalah nantinya mendapatkan kekuasaan/jabatan janganlah lupa untuk berseru dan berkata “Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaanmu dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh”. (Q.S. Yusuf : 101).
Wallahu a’lam bisshawab.
        

(Dimana) dan (Kemana) Pemuda Donggala ???

Written By Unknown on 15.8.11 | 15.8.11

ABD. RASYID, A.Md
Donggala - Momen peringatan kelahiran Kabupaten Donggala tahun ini terasa lain dari tahun sebelumnya, hingar-bingar pesta seromoni seolah teredam oleh kekhusyuan bulan Ramadhan. Setidaknya hal ini memberi berkah sekaligus Ibroh (pelajaran) yang sangat besar bagi segenap komponen daerah baik pemda maupun masyarakat untuk secara bersama melakukan perenungan yang jernih guna menatap masa depan yang lebih baik.
Tahun ini dua perayaan baik HUT Kabupaten Donggala maupun HUT Kemerdekaan RI terangkum dalam satu momen Ramdhan, yang berarti secercah harapan untuk manatap masa depan dapat terwujud karena grafik ukhuwah lagi meningkat dan kepentingan golongan lebur menjadi satu. Hal ini menjadi modal yang baik untuk sesegera mungkin mengurai satu demi satu persoalan yang melilit agar dapat membuat Donggala semakin melejit.
Salah satu hal yang patut menjadi perhatian serius adalah posisi dan peran pemuda di dalam pembangunan daerah. Hal ini menjadi penting karena untuk menatap masa depan yang lebih baik maka syarat utama yang harus dimiliki adalah kemampuan melakukan sintesa-kreatif antara etos masa lalu (sejarah) dan etos kekinian. Etos masa lalu yang dimaksud adalah semangat yang melekat pada masa tertentu (sejarah) yang menjadi landasan gerak perkembangan selanjutnya. Sedangkan etos kekinian adalah semangat yang melekat hari ini akibat tantangan zaman yang dihadapi.
Jadi singkatnya keberhasilan menatap masa depan sangat bergantung pada penyikapan terhadap sejarah (masa lalu) dengan penyikapan kondisi hari ini. Perayaan dan peringatan masa lalu (baik Ultah/HUT) tidak harus berhenti pada perayaan seremonial belaka, melainkan dilanjutkan dengan penyikapan secara utuh dan menyeluruh, terprogram dan terencana serta berani melakukan instropeksi diri. Sehingga berdasarkan hal ini maka selayaknyalah jika menempatkan peringatan dan perayaan HUT kali ini  sedikit memberi perhatian lebih terhadap peran dan posisi pemuda. Seluruh fakta sejarah telah  membuktikan bahwa peran pemuda sangat besar di dalam sejarah berdirinya sebuah bangsa dan budaya.
Pemuda sangat identik dengan etos (semangat) berbuat dan bekerja. Sehingga seharusnya hal ini menjadi modal yang begitu besar di dalam menggerakkan laju pembangunan. Seluruh energi sebaiknya dikerahkan untuk memacu adrenalin pemuda agar maju dan berbuat. Bukan malah sebaliknya dimatikan dan dibiarkan tidak terarah. Disinilah peran Pemda dan masyarakat yang dituntut untuk dapat merumuskan dan memiliki program terencana dan dapat diukur dalam melakukan pemerdayaan kepemudaan.
Kondisi kepemudaan untuk konteks Donggala dapat dibagi beberapa golongan. Pertama golongan pelajar, di mana dikarenakan kampus/universitas tidak dimiliki di Kabupaten Donggala maka aktivitas golongan ini terasa jauh dari jangkauan dan kondisi daerah mereka, sehingga mayoritas potensi dari golongan ini kurang terserap oleh daerah dan bahkan ironinya perhatian Pemda untuk golongan ini baik melalui jalur beasiswa juga kurang terperhatikan. Kedua golongan pemuda pekerja, golongan ini didominasi akibat ketidakmampuan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan faktor kemiskinan, golongan pemuda ini pun masih kurang tersentuh penanganannya. Dan yang ketiga adalah golongan pemuda yang aktif di ormas dan orsospol, golongan ini sudah melakukan pemberdayaan diri namun terkadang masih terjebak pada tradisi pragmatisme karena pemberdayaannya masih sangat bergantung pada pemanfaatan kepentingan tertentu.
Dari hal ini seharusnya ada upaya terperinci untuk melakukan pemberdayaan pemuda disemua golongan, pemberdayaan pemuda ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah kejelasan target dan tujuan serta program pemberdayaan pemuda bagi instansi yang berwenang menangani masalah ini, berikutnya adalah peran masyarakat yang harus menempatkan pemuda pada posisi penting sebagai estafet perjuangan bangsa bukan sebaliknya hanya sebagai sarana pemanfaatan terhadap kepentingan pribadi dan golongan. Pemuda sesungguhnya membutuhkan keteladanan dari para pendahulunya, baik konsistensi, integritas dan maupun komitmen ideologis. Generasi sebelumnya harusnya menyadari bahwa pemuda bukanlah setumpuk daging yang hanya bisa melihat namun juga dapat menilai dan merasa.
Inilah sekelumit kondisi pemuda hari ini yang gerut wajah dan semangatnya membutuhkan perhatian yang lebih dari semua pihak, sehingga jika kita bertanya (dimana) dan (kemana) pemuda Donggala ??? maka secara serempak dapat menjawabnya “ada disini” dan “dan siap bekerja untuk Donggala!!!”.
Wallahu a’lam bissawab.

PRO-KONTRA PEMINDAHAN PASAR INPRES DONGGALA

Written By Unknown on 19.5.11 | 19.5.11

MENANTI JAWABAN
PRO-KONTRA PEMINDAHAN PASAR INPRES DONGGALA
by. Abd. Rasyid, A.Md
Adipura Donggala ???
Riuh pikuk aktivitas jual-beli di pasar Inpres Donggala seolah menggambarkan geliat ekonomi yang menjanjikan, namun jika ditelusuri secara lebih detil maka akan tampak sejumlah problem dan gerut wajah dari para pedagang yang cenderung mengeluhkan lesunya daya beli masyarakat Kota Donggala. Dalam seminggu Pasar Ipnres Kota Donggala tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional di desa-desa pelosok, yaitu keramaian jual-beli hanya pada hari senin dan Jum’at saja. Hal ini berarti bahwa geliat ekonomi dan perputaran modal belum menjanjikan dan sangat jauh dari harapan.

Jika melihat kondisi Ril tersebut, maka dengan adanya kebijakan Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Donggala untuk memindahkan Pasar Inpres Donggala ke Kelurahan Ganti patut dicermati secara serius, setidaknya melalui pertimbangan yaitu :

Pertama asumsi Pemda (yang berarti telah melalui berbagai macam analisis untung-rugi, potensi-hambatan, dsb) bahwa pemindahan pasar adalah solusi praktis dan berjangka panjang bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Kedua pemindahan pasar guna meningkatkan keindahan Kota Donggala dan menghindari kesemerawutan akibat letak Pasar yang berada persis di jantung Kota Donggala.

Jika demikian pertimbangan sederhana yang diambil, maka selanjutnya akan muncul pertanyaan lanjutan, yaitu :

Pertama mengapa Pemda tidak lebih dahulu memberikan solusi yang berdampak ekonomi secara langsung, seperti memprioritaskan pembeli-potensial (PNS Donggala yang dominan bermukim dipalu) terlebih dahulu harus bermukim di Donggala, dibandingkan memindahkan pasar?

Kedua, Jika pemindahan pasar adalah untuk kemaslahatan masyarakat umum, maka terlebih dahulu harus diperjelas urgensi pemindahan pasar secara ekonomis terkhusus bagi pelaku pasar (yakni pedagang, pembeli, tukang becak, ojek dll), apakah benar jika pasar dipindahkan maka secara otomatis daya beli akan meningkat? Sudahkan dikaji lebih dalam bahwa sesuatu yang berpindah tempat pasti membutuhkan waktu yang lama untuk kondisi yang stabil, bagaimanakah dengan nasib para pedagang yang mayoritas bermodalkan pinjaman di Bank atau ditempat lain?

Inilah kiranya yang patut untuk segera disikapi dengan bijak dan penuh tanggung jawab, sehingga jangan sampai roda pembangunan yang nampak secara fisik lebih diperioritaskan dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat pasar, dan jangan sampai hanya demi sebuah penghargaan Adipura rakyat jelata diajak untuk berpura-pura.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan di dalam aktivitas pasar, yaitu :

Pertama pihak DPRD mendesak agar perencanaan pemindahan harus ditinjau ulang, dan melakukan investigasi baik dalam hal penggunaan anggaran pembangunan maupun kebijakan Pemda yang terkesan “memaksakan” pemindahan tersebut. Karena jangan sampai ada dugaan penyahlgunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu terhadap kebijakan pemindahan pasar yang terkesan tidak siap (baik fisik bangunan maupun fasilitas penunjang keberadaan sebuah pasar).  

Kedua pelaku pasar (terkhusus pedagang) secara pro aktif dengan prinsip kemaslahatan bersama secara sukarela dan bahu membahu melakukan monitoring ketat terhadap semua aspek formal-konstitusional, sehingga mereka memahami posisi dan hak-haknya. Sehingga hal-hal yang dapat memperkeruh suasana dapat terhindari.

Inilah sekelumit pro kontra pemindahan pasar Inpres Donggala, yang senantiasa menjadi irama di sela-sela hiruk pikuk para pedagang pasar, tidak sedikit orang yang banyak berharap terhadap aktivitas pasar yang kondusif, kondisi pasar yang nyaman dan aman. Namun dibalik itu semua selalu ada saja riak-riak yang menjadi batu sandung dari pencapaian itu.     
            
             

Membangun Negeri dengan “1000 satu Issu”

Written By Unknown on 14.5.11 | 14.5.11


Ust.Rasyid, A.Md
Usia NKRI sudah tidak muda lagi, yang berarti telah banyak menempuh perjalanan panjang, jatuh-bangun dan sederetan kisah mewarnai wajah NKRI hingga saat ini. Gerak laju pembangunan bangsa hadir dengan berbagai wajah baik dengan wajah yang penuh harapan, maupun dengan wajah duka dan nestapa. Prestasi yang diraih, pengakuan dunia Internasional dan sejumlah capaian-capaian pembangunan seolah tertutupi dengan fenomena kontemporer seperti kemiskinan yang akut, terorisme berkepanjangan dan kepastian hukum yang tidak berujung.

Jika mencermati semua hal di atas, maka akan terbetik dalam fikiran bahwa sudah menjadi konsekuensi sebuah bangsa dan negara berkembang untuk senantiasa mendapat perlakuan yang nyeleneh, pesimistik, oportunistik dan segudang –isme- lainya, sehingga dengan hal ini banyak yang berpendapat bahwa NKRI akan semakin dewasa dan maju, namun dari spekulasi asumsi tersebut benarkah kedewasaan negara akan dapat terwujud dengan segudang wajah konflik interest ? ataukah kemajuan sebuah bangsa harus selalu melalui jalan panjang dari ketidak-beraturan, kesimpang siuran aturan, dan benturan ideologis yang tidak pernah surut?

Banyak hal yang patut dicermati untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, yaitu :

·         Pertama menemukan sentrum informasi yang menjadi penyebab terjadinya benturan-benturan,
·         Kedua bahwa dalam konteks negara dan bangsa tidak ada yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa ada akar dan aktor dibalik setiap kejadian, dan yang
·         Ketiga bahwa kondisi global sangat mempengaruhi kondisi internal sebuah bangsa dan negara.

Dari ketiga hal ini akan menjadi langkah awal guna mengurai satu demi satu benang kusut yang melilit wajah NKRI.

Peran Media dalam Pengelolaan Issu

Hampir dapat dipastikan bahwa media sangat memegang peran yang sangat penting di dalam pengelolaan issu baik sebagai sumber issu maupun sebagai penyebar issu, hal ini setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu : Pertama perkembangan teknologi informasi yang menjadi alat yang sangat produktif, dan yang Kedua terjaminya kebebasan pers/media dalam konstitusi.

Untuk konteks perkembangan teknologi Informasi, maka sudah menjadi hal yang sangat sulit dihindari karena sudah merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi secara umum, namun demikian yang patut diperhatikan adalah bahwa teknologi informasi sebagai “alat” tidak pernah berdiri sendiri atau bebas nilai, melainkan menjadi alat yang sangat ampuh untuk digunakan sebagai lokomotif penggerak Interest-kognitif tertentu. Artinya bahwa siapapun yang sanggup mengelola dan menguasai teknologi Informasi dengan semua cabang-cabangnya maka apapun keinginan dan kehendaknya dapat dicapai. Mengapa demikian?

Dalam analisis media, terkadang yang selalu sulit untuk dihindari (meskipun klaim media berupaya untuk selalu obyektif) adalah perpaduan antara antara fakta, opini dan emosi. Terkadang Fakta dalam pengungkapan tidaklah selalu “bersih” dari pengaruh opini dan emosi. Opini dan emosi tersebut sangat mungkin berkolaborasi dalam menafsirkan sebuah fakta yang terjadi, sehingga akhirnya klaim pemberitaan yang muncul adalah Obyektivikasi fakta (mengobyektifkan sesuatu yang belum tentu obyektif).

Mengapa kecurigaan ini begitu besar? Faktor pertama adalah tekanan persaingan dalam struktur industri media (yang diwujudkan melalui TV rating, dan sebagainya), struktur produksi berita dalam organisasi media (yang antara lain menekankan standar newsworthiness tertentu) dan sebagainya. Artinya dengan kemajuan Industrialisasi media, maka faktor Issu menjadi hal yang sangat laku dan menarik untuk selalu ditampilkan, apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik (contoh : pemberitaan sejumlah media yang bertubi-tubi menyerang elit politik tertentu). Faktor Kedua adalah pemanfaatan tingkat kesadaran (emosi) masyarakat yang sangat peka terhadap simbol-simbol tertentu (terkhusus simbolisasi agama, partai, suku dan bangsa), dimana media menampilkan realitas simbolik tertentu sangat mempengaruhi subyektifitas masyarakat yang menyaksikan, seperti misalnya : pemberitaan terhadap simbol penistaan agama maka serta merta mempengaruhi secara langsung subyektifitas masyarakat, pemberitaan kasus-kasus yang melilit elit politik tertentu akan sangat mempengaruhi elektablitias politik tertentu.

Oleh karena itu, melihat fenomena ini maka selayaknya masyarakat umum menyadari bahwa Obyektivikasi fakta yang ditampilkan oleh Media bukanlah satu-satunya alat pembenar dari fakta yang terjadi, melainkan hanya sebagai salah satu bahan untuk melihat fenomena tersebut sebagai referensi faktual yang perlu dikritisi lebih lanjut. Jangan sampai begitu besar harapan masyarakat untuk membangun negerinya dengan potensi sumber daya yang dimiliki, justru terjebak dalam permainan 1000 satu Issu yang tidak akan berujung. Alangkah rugi dan mahalnya negeri jika dibangun dengan 1000 satu Issu, yang justru memperkaya kaum pemilik modal dan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan. Wallahu ‘alam bhissawab.

Membangun Negeri dengan “1000 satu Issu”


Ust.Rasyid, A.Md
Usia NKRI sudah tidak muda lagi, yang berarti telah banyak menempuh perjalanan panjang, jatuh-bangun dan sederetan kisah mewarnai wajah NKRI hingga saat ini. Gerak laju pembangunan bangsa hadir dengan berbagai wajah baik dengan wajah yang penuh harapan, maupun dengan wajah duka dan nestapa. Prestasi yang diraih, pengakuan dunia Internasional dan sejumlah capaian-capaian pembangunan seolah tertutupi dengan fenomena kontemporer seperti kemiskinan yang akut, terorisme berkepanjangan dan kepastian hukum yang tidak berujung.

Jika mencermati semua hal di atas, maka akan terbetik dalam fikiran bahwa sudah menjadi konsekuensi sebuah bangsa dan negara berkembang untuk senantiasa mendapat perlakuan yang nyeleneh, pesimistik, oportunistik dan segudang –isme- lainya, sehingga dengan hal ini banyak yang berpendapat bahwa NKRI akan semakin dewasa dan maju, namun dari spekulasi asumsi tersebut benarkah kedewasaan negara akan dapat terwujud dengan segudang wajah konflik interest ? ataukah kemajuan sebuah bangsa harus selalu melalui jalan panjang dari ketidak-beraturan, kesimpang siuran aturan, dan benturan ideologis yang tidak pernah surut?

Banyak hal yang patut dicermati untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, yaitu :

·         Pertama menemukan sentrum informasi yang menjadi penyebab terjadinya benturan-benturan,
·         Kedua bahwa dalam konteks negara dan bangsa tidak ada yang terjadi secara tiba-tiba atau tanpa ada akar dan aktor dibalik setiap kejadian, dan yang
·         Ketiga bahwa kondisi global sangat mempengaruhi kondisi internal sebuah bangsa dan negara.

Dari ketiga hal ini akan menjadi langkah awal guna mengurai satu demi satu benang kusut yang melilit wajah NKRI.

Peran Media dalam Pengelolaan Issu

Hampir dapat dipastikan bahwa media sangat memegang peran yang sangat penting di dalam pengelolaan issu baik sebagai sumber issu maupun sebagai penyebar issu, hal ini setidaknya disebabkan oleh dua hal, yaitu : Pertama perkembangan teknologi informasi yang menjadi alat yang sangat produktif, dan yang Kedua terjaminya kebebasan pers/media dalam konstitusi.

Untuk konteks perkembangan teknologi Informasi, maka sudah menjadi hal yang sangat sulit dihindari karena sudah merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi secara umum, namun demikian yang patut diperhatikan adalah bahwa teknologi informasi sebagai “alat” tidak pernah berdiri sendiri atau bebas nilai, melainkan menjadi alat yang sangat ampuh untuk digunakan sebagai lokomotif penggerak Interest-kognitif tertentu. Artinya bahwa siapapun yang sanggup mengelola dan menguasai teknologi Informasi dengan semua cabang-cabangnya maka apapun keinginan dan kehendaknya dapat dicapai. Mengapa demikian?

Dalam analisis media, terkadang yang selalu sulit untuk dihindari (meskipun klaim media berupaya untuk selalu obyektif) adalah perpaduan antara antara fakta, opini dan emosi. Terkadang Fakta dalam pengungkapan tidaklah selalu “bersih” dari pengaruh opini dan emosi. Opini dan emosi tersebut sangat mungkin berkolaborasi dalam menafsirkan sebuah fakta yang terjadi, sehingga akhirnya klaim pemberitaan yang muncul adalah Obyektivikasi fakta (mengobyektifkan sesuatu yang belum tentu obyektif).

Mengapa kecurigaan ini begitu besar? Faktor pertama adalah tekanan persaingan dalam struktur industri media (yang diwujudkan melalui TV rating, dan sebagainya), struktur produksi berita dalam organisasi media (yang antara lain menekankan standar newsworthiness tertentu) dan sebagainya. Artinya dengan kemajuan Industrialisasi media, maka faktor Issu menjadi hal yang sangat laku dan menarik untuk selalu ditampilkan, apalagi yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik (contoh : pemberitaan sejumlah media yang bertubi-tubi menyerang elit politik tertentu). Faktor Kedua adalah pemanfaatan tingkat kesadaran (emosi) masyarakat yang sangat peka terhadap simbol-simbol tertentu (terkhusus simbolisasi agama, partai, suku dan bangsa), dimana media menampilkan realitas simbolik tertentu sangat mempengaruhi subyektifitas masyarakat yang menyaksikan, seperti misalnya : pemberitaan terhadap simbol penistaan agama maka serta merta mempengaruhi secara langsung subyektifitas masyarakat, pemberitaan kasus-kasus yang melilit elit politik tertentu akan sangat mempengaruhi elektablitias politik tertentu.

Oleh karena itu, melihat fenomena ini maka selayaknya masyarakat umum menyadari bahwa Obyektivikasi fakta yang ditampilkan oleh Media bukanlah satu-satunya alat pembenar dari fakta yang terjadi, melainkan hanya sebagai salah satu bahan untuk melihat fenomena tersebut sebagai referensi faktual yang perlu dikritisi lebih lanjut. Jangan sampai begitu besar harapan masyarakat untuk membangun negerinya dengan potensi sumber daya yang dimiliki, justru terjebak dalam permainan 1000 satu Issu yang tidak akan berujung. Alangkah rugi dan mahalnya negeri jika dibangun dengan 1000 satu Issu, yang justru memperkaya kaum pemilik modal dan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan. Wallahu ‘alam bhissawab.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS Donggala - Redesigned by PKS Donggala
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger